Rabu, 14 Maret 2012

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT : TEKNIK PEMINDAHAN PASIEN

Link:
http://www.ziddu.com/download/18871457/makalahteknikpemindahan.docx.html


BAB I
PENDAHULUAN
Cedera tulang belakang terutama mempengaruhi orang dewasa muda, dengan cedera yang paling tinggi terjadi antara usia 16 dan 30. Namun, jumlah cedera tulang belakang pada orang dewasa yang lebih tua adalah jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun terakhir. Lebih dari 80% dari cedera tulang belakang terjadi pada laki-laki (NSCISC, 2009). Kecelakaan kendaraan bermotor 42,1% dari kasus yang dilaporkan pada cedera tulang belakang. Penyebab paling umum berikutnya dari cedera ini adalah jatuh, diikuti dengan tindakan kekerasan (terutama luka tembak). Kegiatan olahraga rekreasi juga menjelaskan sejumlah kasus cedera tulang belakang setiap tahun (NSCISC, 2009).
Pada pasien dengan trauma servikal dan tulang belakang, pemindahan penderita harus dilakukan dengan hati-hati dan tidap dapat dilakukan sendirian. Tiga penolong dengan masing-masing penyangga bagian atas, tengah, dan bawah akan mengurangi kemungkinan cedera lebih parah. Dalam memiringkan juga perlu dilakukan secara bersama yang disebut dengan teknik log roll. Untuk menghindari cedera sekunder gunakan bidai, long spine board dan neck colar untuk menstabilkan posisi penderita. Pemilihan sarana transportasi yang salah juga bisa menimbulkan cedera yang lebih parah pada pasien. Idealnya transportasi pasien cedera kepala adalah menggunakan ambulan dengan peralatan trauma.








BAB II
PEMBAHASAN
A.      Cedera Kepala, Leher, dan Tulang Belakang
Cedera tulang belakang terutama mempengaruhi orang dewasa muda, dengan cedera yang paling tinggi terjadi antara usia 16 dan 30. Namun, jumlah cedera tulang belakang pada orang dewasa yang lebih tua adalah jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun terakhir. Lebih dari 80% dari cedera tulang belakang terjadi pada laki-laki (NSCISC, 2009).

Tanda dan Gejala Cedera
Pasien tidak menunjukkan tingkat kesadaran yang berubah dan mereka yang tidak mengganggu cedera atau defisit neurologis mungkin menunjukkan kelembutan atau nyeri pada palpasi atau dengan gerakan. Jangan pernah memindahkan pasien atau meminta mereka untuk bergerak atau melakukan rentang gerak (ROM) latihan untuk mendapatkan respon nyeri. Nyeri yang independen dari gerakan atau palpasi dapat terwujud tidak hanya di tulang belakang tetapi juga di kaki apakah ada pembengkakan atau cedera pada saraf di sepanjang tulang belakang. Nyeri juga dapat disebabkan oleh kontraksi otot yang dapat berubah di alam.
Deformitas tulang belakang yang jelas untuk dapat dicatat pada palpasi. Tergantung pada derajat kelainan bentuk, ini dapat menimbulkan masalah ketika menempatkan pasien terlentang pada papan tulang panjang. Masalah ini biasanya dapat diatasi dengan padding papan untuk mengakomodasi deformitas.
Tanda-tanda cedera neurologis:
• Mati rasa, kelemahan atau kesemutan pada ekstremitas
• Kelumpuhan dalam satu atau lebih ekstremitas atau di bawah tingkat cedera
• Hilangnya sensasi pada satu atau lebih ekstremitas atau di bawah tingkat cedera
• Inkontinensia
• Priapisme
• Pernapasan kesulitan

B.       Evakuasi, Stabilisasi, dan Transportasi pada Trauma Kepala, Leher, dan Tulang Belakang
Kebanyakan para penolong yang tidak tahu cara-cara pengangkatan dan pemindahan akan membuat cedera semakin parah pada saat pemindahan korban. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh penolong saat melakukan pemindahan adalah:
a.       Kenali kemampuan diri dan kemampuan pasangan kita, jika tidak mampu jangan paksakan
b.      Kedua kaki berjarak sebahu kita, satu kaki sedikit di depan kaki sebelahnya
c.       Berjongkok, jangan membungkuk saat mengangkat
d.      Tubuh sedekat mungkin dengan beban yang harus diangkat
Pada pasien dengan trauma servikal dan tulang belakang, pemindahan penderita harus dilakukan dengan hati-hati dan tidap dapat dilakukan sendirian. Tiga penolong dengan masing-masing penyangga bagian atas, tengah, dan bawah akan mengurangi kemungkinan cedera lebih parah. Dalam memiringkan juga perlu dilakukan secara bersama yang disebut dengan teknik log roll. Untuk menghindari cedera sekunder gunakan bidai, long spine board dan neck colar untuk menstabilkan posisi penderita.

Pemilihan sarana transportasi yang salah juga bisa menimbulkan cedera yang lebih parah pada pasien. Idealnya transportasi pasien cedera kepala adalah menggunakan ambulan dengan peralatan trauma. Tetapi untuk daerah yang akses pertolongan pertama oleh ambulan tidak bisa cepat, jangan berlama-lama untuk menunggu datangnya ambulan. Pilih mobil dengan kriteria sebagai berikut:
·         Pilih mobil yang bisa membawa pasien dengan tidur terlentang tanpa memanipulasi pergerakan tulang belakang, penolong leluasa bergerak untuk memberikan pertolongan bila selama perjalanan terjadi sesuatu. Hal yang juga penting selama perjalanan adalah komunikasi dengan pihak rumah sakit. Dengan melaporkan kondisi korban, penanganan yang telah dan sedang dilakukan termasuk meminta petunjuk dari petugas pelayanan gawat darurat rumah sakit tentang apa yang harus dikerjakan bila menemui kesulitan. Pihak unit gawat darurat juga dapat mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk  pertolongan korban sesampainya di rumah sakit.

Prinsip Terapi Bagi Penderita Trauma Kepala, Leher, dan Tulang Belakang
1.        Perlindungan terhadap trauma lebih lanjut
Penderita yang diduga mengalami cedera tulang belakang harus dilindungi terhadap trauma lebih lanjut. Perlindungan ini meliputi, pemasangan kolar servikal semi rigid dan long back board, melakukan modifikasi teknik log roll untuk mempertahankan kesegarisan bagi seluruh tulang belakang, dan melepaskan long spine board secepatnya. Imobilisasi dengan long spine board pada penderita yang mengalami paralisis akan meningkatkan resiko terjadinya ulcus dekubitus pada titik penekanan. Karenanya , long spine board harus dilepaskan secepatnya setelah diagnosa cedera tulang belakang ditegakkan, contoh, dalam waktu 2 jam.
2.        Resusitasi Cairan dan Monitoring
a.       Monitoring CVP
Cairan intravena yang dibutuhkan umumnya tidak terlampau banyak, hanya untuk maintenance saja, kecuali untuk keperluan pengelolaan syok. CVP harus dipasang untuk memonitor pemasukan cairan secara hati hati.
b.      Kateter urin
Pemasangan kateter dilakukan pada primary survey dan resusitasi, untuk memonitor output urine dan mencegah terjadinya distensi kandung kencing.
c.       Kateter Lambung
Kateter lambung harus dipasang pada seluruh penderita dengan paraplegia dan kuadriplegia untuk mencegah distensi gaster dan aspirasi.

3.        Penggunaan Steroid
Penggunaan kortikosteroid, bila memungkinkan dipergunakan bagi penderita dengan defisit neurologist yang disebabkan bukan karena luka tembus kurang dari 8 jam pasca trauma. Obat pilihan adalah metilprednisolon (30 mg/kg), diberikan secara intravena dalam waktu kurang lebih 15 menit. Dosis awal dilanjutkan dengan dosis maintenance 5,4 mg/kg per jam untuk 24 jam berikutnya dimulai antara 3 jam pasca trauma, atau untuk 48 jam bila pemberian awal antara 3 dan 8 jam pasca trauma, kecuali jika ditemukan adanya komplikasi.

Prinsip Melakukan Imobilisasi Tulang Belakang Dan Log Roll
Penderita dewasa
Empat orang dibutuhkan untuk melakukan prosedur modifikasi log roll dan imobilisasi penderita, seperti pada long spine board: (1) satu untuk mempertahankan imobilisasi segaris kepala dan leher penderita; (2) satu untuk badan (termasuk pelvis dan panggul); (3) satu untuk pelvis dan tungkai; dan (4) satu mengatur prosedur ini dan mencabut spine board. Prosedur ini mempertahankan seluruh tubuh penderita dalam kesegarisan, tetapi masih terdapat gerakan minimal pada tulang belakang. Saat melakukan prosedur ini, imobilisasi sudah dilakukan pada ekstremitas yang diduga mengalami fraktur.
a.       Long spine board dengan tali pengikat dipasang pada sisi penderita. Tali pengikat ini dipasang pada bagian toraks, diatas krista iliaka, paha, dan diatas pergelangan kaki. Tali pengikat atau plester dipergunakan untuk memfiksasi kepala dan leher penderita ke long spine board.
b.      Dilakukan in line imobilisasi kepala dan leher secara manual, kemudian dipasang kolar servikal semirigid.
c.       Lengan penderita diluruskan dan diletakkan di samping badan.
d.      Tungkai bawah penderita diluruskan secara hati-hati dan diletakkan dalam posisi kesegarisan netral sesuai dengan tulang belakang. Kedua pergelangan kaki diikat satu sama lain dengan plester.
e.       Pertahankan kesegarisan kepala dan leher penderita sewaktu orang kedua memegang penderita pada daerah bahu dan pergelangan tangan. Orang ke tiga memasukkan tangan dan memegang panggul penderita dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain memegang plester yang mengikat ke dua pergelangan kaki.
f.       Dengan komando dari penolong yang mempertahankan kepala dan leher, dilakukan log roll sebagai satu unit ke arah ke dua penolong yang berada pada sisi penderita, hanya diperlukan pemutaran minimal untuk meletakkan spine board di bawah penderita. Kesegarisan badan penderita harus dipertahankan sewaktu menjalankan prosedur ini.


g.      Spine board diletakkan dibawah penderita, dan dilakukan log roll ke arah spine board. Harap diingat, spine board hanya digunakan untuk transfer penderita dan jangan dipakai untuk waktu lama.

h.      Untuk mencegah terjadinya hiperekstensi leher dan kenyamanan penderita, maka diperlukan bantalan yang diletakkan dibawah kepala penderita.
i.        Bantalan, selimut yang dibulatkan atau alat penyangga lain ditempatkan di kiri dan kanan kepala dan leher penderita, dan kepala penderita diikat ke long spine board. Juga dipasang plester di atas kolar servikal untuk menjamin tidak adanya gerakan pada kepala dan leher.

Penderita Anak-anak
Untuk imobilisasi anak diperlukan long spine board pediatrik. Bila tidak ada, maka dapat menggunakan long spine board untuk dewasa dengan gulungan selimut diletakkan di seluruh sisi tubuh untuk mencegah pergerakan ke arah lateral.
  Proporsi kepala anak jauh lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa, oleh karena itu harus dipasang bantalan dibawah bahu untuk menaikkan badan, sehingga kepala yang besar pada anak tidak menyebabkan fleksi tulang leher, sehingga dapat mempertahankan kesegarisan tulang belakang anak. Bantalan dipasang dari tulang lumbal sampai ujung bahu dan kearah lateral sampai di ujung board.

Komplikasi
Bila penderita dalam waktu lama (kurang lebih 2 jam atau lebih lama lagi) diimobilisasi dalam long spine board, penderita dapat mengalami dekubitus pada oksiput, skapula, sakrum, dan tumit. Oleh karena itu, secepatnya bantalan harus dipasang dibawah daerah ini, dan apabila keadaan penderita mengizinkan secepatnya long spine board dilepas.
Melepas Long Spine board
Pergerakan penderita yang mengalami cedera tulang belakang yang tidak stabil akan menyebabkan atau memperberat cedera medula spinalisnya. Untuk mengurangi resiko kerusakan medula spinalis, maka diperlukan pencegahan secara mekanis untuk seluruh penderita yang mempunyai resiko. Proteksi harus dipertahankan sampai adanya cedera tulang belakang yang tidak stabil di singkirkan.
a.       Seperti sebelumnya dibicarakan, melakukan imobilisasi penderita dengan long spine board adalah teknik dasar membidai (splinting) tulang belakang. Secara umum hal ini dilaksanakan pada saat penanggulangan prehospital dan penderita datang ke rumah sakit sudah dalam sarana transfer yang aman.
Spine board tanpa bantalan akan menyebabkan rasa tidak nyaman pada penderita yang sadar dan mempunyai resiko terhadap terjadinya dekubitus pada daerah dengan penonjolan tulang (oksiput, skapula, sakrum, tumit ). Oleh karena itu penderita harus dipindahkan dari long spine board ke tempat dengan bantalan yang baik dan permukaan yang nyaman secepatnya bisa dilakukan secara aman. Sebelum dipindahkan dari spine board, pada penderita dilakukan pemeriksaan foto servikal, toraks, pelvis sesuai dengan indikasinya, karena penderita akan mudah diangkat beserta dengan spine boardnya. Sewaktu penderita di imobilisasi dengan spine board, sangat penting untuk mempertahankan imobilisasi kepala dan leher dan badan secara berkesinambungan sebagai satu unit. Tali pengikat yang dipergunakan untuk imobilisasi penderita ke spine board janganlah dilepas dari badan penderita sewaktu kepala masih terfiksir ke bagian atas spine board.
b.      Spine board harus dilepaskan secepatnya, waktu yang tepat untuk melepas long spine board adalah sewaktu dilakukan tindakan log roll untuk memeriksa bagian belakang penderita.
  1. Pergerakan yang aman bagi penderita dengan cedera yang tidak stabil atau potensial tidak stabil membutuhkan kesegarisan anatomik kolumna vertebralis yang dipertahankan secara kontinyu. Rotasi, fleksi, ekstensi, bending lateral, pergerakan tipe shearing ke berbagai arah harus dihindarkan. Yang terbaik untuk mengontrol kepala dan leher adalah dengan imobilisasi inline manual. Tidak ada bagian tubuh penderita yang boleh melekuk sewaktu penderita dilepaskan dari spine board.
  2. Modifikasi teknik log roll,
Modifikasi tehnik log roll, dipergunakan untuk melepas long spine board. Diperlukan empat asisten: (1) satu untuk mempertahankan imobilisasi in line kepala dan leher; (2) satu untuk badan penderita ( termasuk pelvis dan panggul ); (3) satu untuk pelvis dan tungkai bawah; dan (4) satu untuk menentukan arah prosedur ini dan melepas long spine board.
e.       Tandu Sekop (Scoop Stretcher)
Alternatif melakukan modifikasi teknik log roll adalah dalam penggunaan scoop stretcher untuk transfer penderita. Penggunaan yang tepat alat ini akan mempercepat transfer secara aman dari long spine board ke tempat tidur. Sebagai contoh alat ini dapat digunakan untuk transfer penderita dari satu alat traspor ke alat lain atau ke tempat khusus misalnya meja ronsen.

Harap diingat, penderita harus tetap dalam imobilisasi sampai cedera tulang belakang disingkirkan. Setelah penderita ditransfer dari backboard ke tempat tidur dan scoop stretcher dilepas, penderita harus di reimobilisasi secara baik ke ranjang/tandu. Scoop stretcher bukanlah alat untuk imobilisasi penderita. Scoop stretcher bukanlah alat transport, dan jangan mengangkat scoop stretcher hanya pada ujung-ujungnya saja, karena akan melekuk di bagian tengah dengan akibat kehilangan kesegarisan dari tulang belakang.

Imobilisasi untuk penderita dengan kemungkinan cedera tulang belakang
Penderita umumnya datang ke bagian gawat darurat dengan alat perlindungan tulang belakang. Alat ini menyebabkan pemeriksa harus memikirkan adanya cedera tulang vertebra servikal atau torakolumbal, berdasarkan dari mekanisme cedera. Pada penderita dengan cedera multipel dengan penurunan tingkat kesadaran, alat perlindungan harus dipertahankan sampai cedera pada tulang belakang disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan radiologis. Bila penderita diimobilisasi dengan spine board dan paraplegia, harus diduga adanya ketidakstabilan tulang belakang dan perlu dilakukan pemeriksaan radiologis untuk mengetahui letak dari cedera tulang belakang. Bila penderita sadar, neurologis normal, tidak mengeluh adanya nyeri leher atau nyeri pada tulang belakang, dan tidak terdapat nyeri tekan pada saat palpasi tulang belakang, pemeriksaan radiologis tulang belakang dan imobilisasi tidak diperlukan.
Penderita yang menderita cedera multipel dan dalam keadaan koma harus tetap diimobilisasi pada usungan dan dilakukan tindakan log roll untuk mengetahui foto yang diperlukan untuk menyingkirkan adanya suatu fraktur. Kemudian penderita dapat ditransfer secara hati-hati dengan menggunakan prosedur tersebut di atas ke tempat tidur untuk bantuan ventilasi yang lebih baik.

Memindahkan pasien ke ambulans
1.        Pada saat ambulans datang anda harus mampu menjangkau pasien sakit atau cedera tanpa kesulitan, memeriksa kondisinya, melakukan prosedur penanganan emergensi di tempat dia terbaring, dan kemudian memindahannya ke ambulans.
2.        Pada beberapa kasus tertentu, misalnya pada keadaan lokasi yang berbahaya atau pasien yang memerlukan prioritas tinggi maka proses pemindahan pasien harus didahulukan sebelum menyelesaikan proses pemeriksaan dan penanganan emergensi diselesaikan.
3.        Jika dicurigai adanya cedera spinal, kepala harus distabilkan secara manual dan penyangga leher (cervical collar) harus dipasang dan pasien harus diimobilisasi di atas spinal board.
4.        Pemindahan pasien ke ambulans dilakukan dalam 4 tahap berikut
  • Pemilihan alat yang digunakan untuk mengusung pasien.
  • Stabilisasi pasien untuk dipindahkan
  • Memindahan pasien ke ambulans
  • Memasukkan pasien ke dalam ambulans
5.        Pasien sakit atau cedera harus distabilkan agar kondisinya tidak memburuk.
6.        Perawatan luka dan cedera lain yang diperlukan harus segera diselesaikan, benda yang menusuk harus difiksasi, dan seluruh balut serta bidai harus diperiksa sebelum pasien diletakkan di alat pengangkut pasien.
7.        Jangan menghabiskan banyak waktu untuk merawat pasien dengan cedera yang sangat buruk atau korban yang telah meninggal. Pada prinsipnya, kapanpun seorang pasien dikategorikan dalam prioritas tinggi, segera transpor dengan cepat.
8.        Penyelimutan pasien membantu menjaga suhu tubuh, mencegah paparan cuaca, dan menjaga privasi.
9.        Alat angkut (carrying device) pasien harus memiliki tiga tali pengikat untuk menjaga posisi pasien tetap aman. Yang pertama diletakkan setinggi dada, yang kedua setinggi pinggang atau panggul, dan yang ketiga setinggi tungkai. Kadang-kadang digunakan empat tali pengikat di mana dua tali disilangkan di dada.
10.    Jika penderita/korban tidak mungkin diangkut dengan tandu misalnya pada penggunaan spinalboard dan hanya bisa diletakkan di atas tandu/usungan ambulans (ambulance stretcher),maka disyaratkan untuk menggunakan tali kekang yang dapat mencegah pasien tergelincir ke depan jika ambulans berhenti mendadak

Mempersiapkan Pasien untuk Transportasi
1.        Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan di atas usungan. Jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas (airway), pastikan bahwa pasien mendapat pertukaran aliran yang cukup saat diletakkan di atas usungan.
2.        Amankan posisi tandu di dalam ambulans. Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisI aman selama perjalanan ke rumah sakit. Tandu pasien dilengkapi dengan alat pengunci yang mencegah roda usungan brgerak saat ambulans tengah melaju.
3.        Posisikan dan amankan pasien. Selama pemindahan ke ambulans, pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan. Perubahan posisi di dalam ambulans dapat dilakukan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi penyakit atau cederanya. Pada pasien tak sadar yang tidak memiliki potensi cedera spinal, ubah posisi ke posisi recovery (miring ke sisi) untuk menjaga terbukanya jalan nafas dan drainage cairan. Pada pasien dengan kesulitan bernafas dan tidak ada kemungkinan cedera spinal akan lebih nyaman bila ditransport dengan posisi duduk. Pasien syok dapat ditransport dengan tungkai dinaikkan 8-12 inci. Pasien dengan potensi cedera spinal harus tetap diimobilasasi dengan spinal board dan posisi pasien harus diikat erat ke usungan.
4.        Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. Tali ikat keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans, sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan pasien dengan aman tetapi tidak terlalu ketat yang dapat mengganggu sirkulasi dan respirasi atau bahkan menyebabkan nyeri.
5.        Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung. Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung, letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum ambulans dijalankan. Ini dilakukan agar tidak perlu membuang banyak waktu untuk meletakkan dan memposisikan papan seandainya jika benar terjadi henti jantung.
6.        Melonggarkan pakaian yang ketat. Pakaian dapat mempengaruhi sirkulasi dan pernafasan. Longgarkan dasi dan sabuk serta buka semua pakaian yang menutupi leher. Luruskan pakaian yang tertekuk di bawah tali ikat pengaman. Tapi sebelum melakukan tindakan apapun, jelaskan dahulu apa yang akan Anda lakukan dan alasannya, termasuk memperbaiki pakaian pasien.
7.        Periksa perbannya. Perban yang telah di pasang dengan baik pun dapat menjadi longgar ketika pasien dipindahkan ke ambulans. Periksa setiap perban untuk memastikan keamanannya. Jangan menarik perban yang longgar dengan enteng. Perdarahan hebat dapat terjadi ketika tekanan perban dicabut secara tiba-tiba.
8.        Periksa bidainya. Alat-alat imobilisasi dapat juga mengendur selama pemindahan ke ambulans. Periksa perban atau kain mitella yang menjaga bidai kayu tetap pada tempatnya. Periksa alat-alat traksi untuk memastikan bahwa traksi yang benar masih tetap terjaga. Periksa anggota gerak yang dibidai perihal denyut nadi bagian distal, fungsi motorik, dan sensasinya.
9.        Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien. Bila tidak ada cara lain bagi keluarga dan teman pasien untuk bisa pergi ke rumah sakit,biarkan mereka menumpang di ruang pengemudi-bukan di ruang pasien- karena dapat mempengaruhi proses perawatan pasien. Pastikan mereka mengunci sabuk pengamannya.\
10.    Naikkan barang-barang pribadi. Jika dompet, koper, tas, atau barang pribadi pasien lainnya dibawa serta, pastikan barang tersebut aman di dalam ambulans. Jika barang pasien telah Anda bawa, pastikan Anda telah memberi tahu polisi apa saja yang dibawa. Ikuti polisi dan isilah berkas-berkas sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
11.    Tenangkan pasien. Kecemasan dan kegelisahan seringkali menerpa pasien ketika dinaikkan ke ambulans. Ucapkan beberapa patah kata dan tenangkan pasien dengan cara yang simpatik. Perlu diingat bahwa mainan seperti boneka beruang dapat berarti banyak untuk menenangkan pasien anak yang ketakutan. Senyum dan nada suara yang menenangkan adalah hal yang penting dan dapat menjadi perawatan kritis yang paling dibutuhan oleh pasien anak yang ketakutan.
12.    Ketika anda merasa bahwa pasien dan ambulans telah siap diberangkatkan, beri tanda kepada pengemudi untuk memulai perjalanan ke rumah sakit. Jika yang Anda tangani ini adalah pasien prioritas tinggi, maka tahap persiapan, melonggarkan pakaian, memeriksa perban dan bidai, menenangkan pasien, bahkan pemeriksaan vital sign dapat ditangguhkan dan dilakukan selama perjalanan daripada harus diselesaikan tetapi menunda transportasi pasien ke rumah sakit.

Perawatan Pasien selama Perjalanan
1.        Lanjutkan perawatan medis emergensi selama dibutuhkan. Jika usaha bantuan hidup (life support) telah dimulai sebelum memasukkan pasien ke dalam ambulans, maka prosedur tersebut harus dilanjutkan selama perjalanan ke rumah sakit. Pertahankan pembukaan jalan nafas, lakukan resusitasi, berikan dukungan emosional, dan lakukan hal lain yang diperlukan termasuk mencatat temuan baru dari usaha pemeriksaan awal (initial assesment) pasien.
2.        Gabungkan informasi tambahan pasien. Jika pasien sudah sadar dan Anda telah mempertimbangkan bahwa perawatan emergensi selanjutnya tidak akan terganggu, maka Anda dapat mulai mencari informasi baru dari pasien.
3.        Lakukan pemeriksaan menyeluruh dan monitor terus vital sign. Peningkatan denyut nadi secara tiba-tiba misalnya, dapat menandakan syok yang dalam. Catat vital sign dan laporkan perubahan yang terjadi pada anggota staf bagian emergensi segera setelah mencapai fasilitas medis. Lakukan penilaian ulang vital sign setiap 5 menit untuk pasien tidak stabil dan setiap menit untuk pasien stabil.
4.        Beritahu fasilitas medis yang menjadi tujuan Anda. Beberkan informasi hasil pemeriksaan dan penanganan pasien yang sudah Anda lakukan, dan beri tahu perkiraan waktu kedatangan Anda.
5.        Periksa ulang perban dan bidai.
6.        Bicaralah dengan pasien, tapi kendalikan emosi Anda. Bercakap-cakap terkadang berguna untuk menenangkan pasien yang ketakutan.
7.        Jika terdapat tanda-tanda henti jantung, minta pengemudi untuk menghentikan ambulans sementara Anda melakukan Resusitasi dan memberikan AED (defibrilator). Beri tahu pengemudi untuk menjalankan ambulans lagi setelah memastikan bahwa henti jantung telah teratasi. Pastikan bahwa UGD mengetahui adanya henti jantung. Adalah hal yang sangat membantu jika Anda memang secara rutin selalu meletakkan bantalan keras di antara matras pelbet (cot) dan punggung pasien yang memiliki resiko tinggi mengalami henti jantung.

Memindahkan Pasien Ke Unit Gawat Darurat
1.        Dampingi staf UGD bila dibutuhkan dan berikan laporan lisan atas kondisi pasien Anda. Beritahu setiap perubahan kondisi pasien yang telah Anda amati.
2.        Segera setelah Anda tidak lagi menangani pasien, siapkan laporan perawatan pra rumah sakit.
3.        Serahkan barang-barang pribadi pasien ke pihak rumah sakit.. Jika benda-benda berharga pasien dipercayakan penuh pada penjagaan anda, segera serahkan kepada staf UGD yang bertanggung jawab.
Alat Transportasi
Walaupun telah dikeluarkan Surat Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik, tentang standarisasi pelayanan ambulans, masih terdapat heberapa hal yang memerlukan perbaikan. Karena penggunaan alat transportasi untuk membawa penderita gawat darurat memerlukan persyaratan khusus yang berlaku baik pada penggunaan alat transportasi darat, udara maupun laut.
Persyaratan tersebut antara lain :
1.     Tidak memperberat keadaan penderita, antara lain:
§  Suspensinya
§  Kebisingan minimal
§  Getaran minimal
§  Kecepatan tertentu
2.      Mempunyai peralatan bantu untuk mempertahankan keadaan penderita selama perjalanan, antara lain:
§ Memiliki tabung oksigen
§ Memiliki suction
§ Memiliki ambu‑bag
§ Cairan infus dan perlengkapannya dll.
3.      Mempunyai peralatan bantu untuk mengeluarkan penderita dari jepitan/reruntuhan, antara lain :
§ gergaji/pemotong besi
§ dongkrak peregang besi dll.
4.      Memiliki ruangan dimana tenaga medis/paramedis dapat bekerja di dalamnya.
§ Untuk ambulans mobil, karoserinya harus tinggi sehingga petugas bisa berdiri di dalamnya.
5.      Mudah dikenal oleh masyarakat
§ Mempunyai ciri tertentu (bentuk dan warna tulisan)
6.      Dilengkapi dengan petugas/crew ambulans yang mempunyai penge­tahuan dalam
§ mengemudikan kendaraan
§ menggunakan alat komunikasi


Long spine board

Sebuah papan belakang, juga dikenal sebagai papan tulang panjang (LSB), longboard, spineboard, atau papan, adalah sebuah perangkat penanganan pasien digunakan terutama dalam pra-rumah sakit, dirancang untuk immobilisasi gerakan dari pasien dengan cedera tulang belakang atau anggota badan yang diduga. Paling sering digunakan oleh layanan ambulans, oleh staf seperti teknisi darurat medis dan paramedis, tetapi juga digunakan oleh personel darurat khusus seperti lifeguards . Long Spine Board  terutama diindikasikan dalam kasus trauma di mana tenaga medis atau penyelamatan percaya bahwa ada kemungkinan cedera tulang belakang.  

Scoop stretcher

Scoop Stretcher (tandu ortopedi Roberson) adalah sebuah perangkat yang digunakan khusus untuk mengangkat korban. Hal ini paling sering digunakan untuk mengangkat pasien terlentang dari tanah, baik karena ketidaksadaran atau untuk menjaga stabilitas dalam kasus trauma, cedera terutama tulang belakang, di mana ia digunakan sebagai alat memindahkan antara tanah dan perangkat menahan seperti long spine board atau vacuum mattress.

Sebuah Scoop Stretcher memiliki struktur yang dapat dibagi secara vertikal ke dalam dua bagian, dengan berbentuk 'pisau' terhadap pusat yang bisa dibawa bersama-sama di bawah pasien. Dua bagian ditempatkan secara terpisah kedua sisi pasien, dan kemudian dibawa bersama-sama sampai klip penahan di bagian atas dan bawah kedua terlibat.

Tandu sendok mengurangi kemungkinan gerakan yang tidak diinginkan dari area cedera selama transfer pasien trauma, karena mereka mempertahankan pasien dalam keselarasan terlentang selama transfer ke papan atau tandu.

Scoop Stretcher dapat digunakan untuk transportasi pasien, asalkan pasien diikat. Tapi untuk alasan kenyamanan, disarankan untuk mentransfer pasien ke long spine board.

 
  







BAB III
PENUTUP
Pada tahun 2006 Cord Injury Jaringan Informasi Spinal memperkirakan bahwa kejadian tahunan cedera tulang belakang, tidak termasuk mereka yang meninggal di tempat kecelakaan itu, sekitar 40 kasus per juta penduduk di Amerika Serikat, atau sekitar 12.000 kasus baru setiap tahun (NSCISC , 2009).
Pada pasien dengan trauma servikal dan tulang belakang, pemindahan penderita harus dilakukan dengan hati-hati dan tidap dapat dilakukan sendirian. Tiga penolong dengan masing-masing penyangga bagian atas, tengah, dan bawah akan mengurangi kemungkinan cedera lebih parah. Dalam memiringkan juga perlu dilakukan secara bersama yang disebut dengan teknik log roll. Untuk menghindari cedera sekunder gunakan bidai, long spine board dan neck colar untuk menstabilkan posisi penderita. Pemilihan sarana transportasi yang salah juga bisa menimbulkan cedera yang lebih parah pada pasien. Idealnya transportasi pasien cedera kepala adalah menggunakan ambulan dengan peralatan trauma.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!