Jumat, 27 Mei 2011

KONSEP KEPERAWATAN ANAK (5)


IMUNISASI DAN PENGKAJIAN FISIK 
PADA BAYI DAN ANAK


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Imunisasi adalah usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit-penyakit tertentu ( Soekidjo Notoatmojo, 1997 ). Imunisasi adalah suatu prosedur rutin yang akan menjaga kesehatan anak.  Kebanyakan dari imunisasi ini adalah untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap  penyakit-penyakit yang berbahaya dan sering terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak.  Walaupun pengalaman sewaktu mendapatkan vaksinasi tidak menyenangkan untuk bayi anda (karena biasanya akan mendapatkan suntikan), tapi rasa sakit yang sementara akibat suntikan ini adalah untuk kesehatan anak dalam jangka waktu panjang.

Peran perawat dimasyarakat untuk mempromosikan program imunisasi ini dengan harapan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat umumnya dan bayi/ balita khususnya.

Sangat perlu diadakan pemeriksaan fisik terhadap bayi  dan  anak, agar orang tua tahu perkembangan sang anak. Pemeriksaan fisik dapat dilakukkan setiap saat untuk memantau perkembanga anak namun dal perjalananya perlu ada persiapan yang matang baik itu oleh orang tua maupun dari tenaga medis yang akan melakukan pemeriksaan fisik anak. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan bantuan tenaga medis seperti perawat dan dokter.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan suatu permasalahan dalam makalah ini antara lain sebagai berikut :
  1. Apa saja factor yang mempengaruhi imunisasi?
  2. Apa saja factor yang mempengaruhi pengkajian fisik pada bayi dan anak?

1.3  TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penulis dapat memahami tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
A.    Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi imunisasi?
B.     Apa saja factor yang mempengaruhi pengkajian fisik pada bayi dan anak?


BAB II
TEORI



2.1  IMUNISASI PADA BAYI DAN ANAK
A.    Jenis-Jenis Imunisasi Dasar
1.      Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Imunisasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). Imunisiasi ini diberikan satu kali sebelum anak berumur dua bulan. Vaksin BCG tidak dapat mencegah seseorang terhindar dari infeksi M. tuberculosa 100%, tapi dapat mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.
2.      Imunisasi Campak
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak . Meskipun campak hanya menulari satu kali seumur hidup. Namun penyakit ini sangat berbahaya, karena dapat menimbulkan kematian. Penyakit campak yang bisa menyebabkan kematian yaitu apabila telah terjadi komplikasi, misalnya radang paru-paru dan radang otak.
3.      Imunisasi Hepatitis B
Memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B diberikan tiga kali. Yang pertama dalam waktu 12 jam setelah lahir. Imunisasi ini dilanjutkan saat bayi berumur 1 bulan, kemudian diberikan lagi saat 3-6 bulan.
4.      Imunisasi Polio
Imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio. Penyakit akibat virus ini dapat menyebabkan kelumpuhan. Polio diberikan saat kunjungan pertama setelah lahir. Selanjutnya vaksin ini diberikan 3 kali, saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan. Pemberian vaksin ini dulang pada usia 18 bulan dan 5 tahun.
5.      Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus)
Imunisasi DPT diberikan untuk mencegah tiga macam penyakit sekaligus, yaitu Difteri, Tetanus, dan Pertusis. Vaksin ini diberikan pertama kali saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Lalu saat bayi berumur 4 dan 6 bulan. Ulangan DTP diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun. Pada anak umur 12 tahun, imunisasi ini diberikan lagi dalam program BIAS SD kelas VI.
(Suririnah, 2010. Imunisasi. Diakses tanggal 24 Mei 2011 dari www.infoibu.com)

6.      Imunisasi HIB
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Hacmophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak.  Sampai saat ini, imunisasi HiB belum tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal.
7.      Imunisasi MMR
Yaitu : Measles strain moraten (campak), Mumps strain Jeryl lynn (parotitis), dan Rubela strain RA (campak jerman). Diberikan pada umur 15 bulan. Ulangan umur 12 tahun Imunisasi. MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali.
8.      Imunisasi Typhus (Tipa)
Imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid (tifus atau paratifus). Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama 3 sampai 5 tahun. Oleh karena itu perlu diulang kembali. Imunisasi ini dapat diberikan dalam 2 jenis: imunisasi oral berupa kapsul yang diberikan selang sehari selama 3 kali. Biasanya untuk anak yang sudah dapat menelan kapsul. Sedangkan bentuk suntikan diberikan satu kali.
9.      Imunisasi Varicella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Bisa diberikan pada umur 1 tahun, ulangan umur 12 tahun.
10.  Imunisasi Hepatitis A
Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi bila terkena penyakit ini penyembuhannya memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar 1 sampai 2 bulan. Vaksin hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak enam hingga 12 bulan pada orang yang berisiko terinfeksi virus ini.
11.  Vaksin Combo
Gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda, misalnya DPT + hepatitis B +HiB atau gabungan beberapa antigen dari galur multipel yg berasal dari organisme penyakit yang sama.
12.  Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus.
13.  Imunisasi TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus.
(Suririnah, 2010. Imunisasi. Diakses tanggal 24 Mei 2011 dari www.infoibu.com)

B.     Cara dan Tempat Pemberian Imunisasi
1.      Imunisasi BCG
Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas (insertio muskulus deltoid). Untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 ml dan untuk anak berumur lebih dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 ml. Imunisasi ulang tidak perlu, keberhasilan diragukan. Vaksin BCG berbentuk bubuk kering harus dilarutkan dengan 4 cc NaCl 0,9%. Setelah dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam, sisanya dibuang. Penyimpanan pada suhu kurang dari 5°C dan terhindar dari sinar matahari (indoor day-light).
Cara penyuntikan BCG
o   Bersihkan lengan dengan kapas air
o   Letakkan jarum hampir sejajar dengan lengan anak dengan ujung jarum yang berlubang menghadap keatas.
o   Suntikkan 0,05 ml intra kutan
2.      Imunisasi Campak
Diberikan pada bayi umur 9 bulan oleh karena masih ada antibodi yang diperoleh dari ibu. Jika ada wabah, imunisasi bisa diberikan pada usia 6 bulan, diulang 6 bulan kemudian. Dosis 0,5 ml diberikan sub kutan di lengan kiri. Vaksin disimpan pada suhu 2-8°C, bisa sampai – 20 °C karena vaksin yang telah dilarutkan hanya tahan 8 jam pada suhu 2-8 °C.
3.      Imunisasi Hepatitis B
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha. Pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, diberikan vaksin HBV pada lengan kiri dan 0,5 ml HBIG (Hepatitis B immune globulin) pada lengan kanan, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat anak berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak berumur 6 bulan. Pada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak diketahui, diberikan HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir. Pada saat persalinan, contoh darah ibu diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif, maka segera diberikan HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu). Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar pulih. Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C.
4.      Imunisasi Polio
Terdapat 2 macam vaksin polio:
o   IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
o   OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan. Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun). Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini berbentuk cairan dengan kemasan 1 cc atau 2 cc dalam flacon, pipet.  Diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 ml) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula. Penyimpanan vaksinpada suhu 2-8°C.
Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertingi.
5.      Imunisasi DPT
Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III). Selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Dosis 0,5 ml secara intra muskular di bagian luar paha.
Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT. Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.
(Supartini,Yeni. (2004). “Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak 1”. Jakarta: EGC)
6.      Imunisasi HIB
Diberikan mulai umur 2-4 bulan, pada anak kurang dari 1 tahun, diberikan 1 kali. Dosis yang diberikan 0,5 ml diberikan intra muscular. Vaksin dalam bentuk beku kering dan 0,5 ml pelarut dalam semprit dan disimpan pada suhu 2-8°C.
7.      Imunisasi MMR
Diberikan pada umur 15 bulan. Ulangan pada umur 12 tahun dengan dosis 0,5 ml secara subkutan. Diberikan minimal 1 bulan setelah suntikan imunisasi lain.
8.      Imunisasi Typhus
Tersedia 2 jenis vaksin: suntikan (typhim) pada usia kurang dari 2 tahun dan oral (vivotif) pada usia kurang dari 6 tahun. Typhim (Capsular Vi polysaccharide-Typherix) diberikan dengan dosis 0,5 ml secara IM. Ulangan dilakukan setiap 3 tahun. Namun imunitas hanya terjadi dalam waktu 15 hari sampai 3 minggu setelah imunisasi. Vaksin disimpan pada suhu 2-8°C.
9.      Imunisasi Varicella
Vaksin varicella (vaRiLrix) berisi virus hidup strain OKA yang dilemahkan. Bisa diberikan pada umur 1 tahun, ulangan pada umur 12 tahun. Vaksin diberikan secara subkutan. Penyimpanan vaksin pada suhu 2-8°C.
10.  Imunisasi Hepatitis A
Imunisasi diberikan pada daerah kurang terpajan, pada anak umur kurang dari 2 tahun. Imunisasi dasar 3x pada bulan ke 0, 1, dan 6 bulan kemudian. Dosis vaksin (Harvix-inactivated virus strain HM 175) 0,5 ml secara IM di daerah deltoid.
11.  Vaksin Combo
Gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda, misal DPT + hepatitis B +HiB atau Gabungan beberapa antigen dari galur multipel yang berasal dari organisme penyakit yang sama, misalnya: OPV
12.  Imunisasi DT
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL. Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam tinggi.


13.   Imunisasi TT
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 ml. Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam tinggi. Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. Imunisasi TT yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Lalu TT2 dilakukan sebulan setelah TT1 (dengan perlindungan tiga tahun). Tahap berikutnya adalah TT3, dilakukan enam bulan setelah TT2 (perlindungan enam tahun), kemudian TT4 diberikan satu tahun setelah TT3 (perlindungan 10 tahun), dan TT5 diberikan setahun setelah TT4 (perlindungan 25 tahun).
(http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/02/vaksin-untuk-imunisasi-balita/)

C.    Penyimpanan Vaksin
Sebagai produk biologis, vaksin memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan yang khusus sejak diproduksi di pabrik hingga dipakai di unit pelayanan. Suhu yang baik untuk semua jenis vaksin adalah 2 ºC - 8 ºC.
Penyimpangan dari ketentuan yang ada dapat mengakibatkan kerusakan vaksin sehingga menurunkan atau menghilangkan potensinya bahkan bila diberikan kepada sasaran dapat menimbulkan ”kejadian ikutan pasca imunisasi” (KIPI) yang tidak diinginkan. Kerusakan vaksin dapat mengakibatkan kerugian sumber daya yang tidak sedikit, baik dalam bentuk biaya vaksin, maupun biaya-biaya lain yang terpaksa dikeluarkan guna menanggulangi masalah KIPI atau kejadian luar biasa.
Semua vaksin akan rusak bila terpapar panas atau terkena sinar matahari langsung. Tetapi beberapa vaksin juga tidak tahan terhadap pembekuan, bahkan dapat rusak secara permanen dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan bila vaksin terpapar panas.
Berdasarkan sensitivitas terhadap suhu, penggolongan vaksin adalah sebagai berikut:
1.      Vaksin sensitif beku (Freeze sensitive/FS)
Adalah golongan vaksin yang akan rusak terhadap suhu dingin dibawah 0ºC (beku), yaitu:  vaksin Hepatitis B, DPT, DPT-HB, DT, TT.
2.      Vaksin sensitif panas (Heat Sensitive/HS)
Adalah golongan vaksin yang akan rusak terhadap paparan panas yang berlebih, yaitu: BCG, Polio, Campak.
Paparan panas secara kumulatif akan mengurangi umur dan potensi semua jenis vaksin. Untuk memantau hal tersebut dipergunakan alat pemantau suhu panas Vaccine Vial Monitor (VVM). Untuk memantau suhu beku dapat dilakukan dengan menggunakan Freeze Watch dan Freeze tag yaitu alat yang sensitif terhadap suhu beku dimana bila alat ini terpapar suhu dibawah -0 ºC akan terlihat pada monitor berupa warna biru untuk Freeze Watch atau tanda silang untuk Freeze tag.
Baru-baru ini ditemukan cara penyimpanan vaksin yang mudah. Para peneliti menggabungkan vaksin dengan dua tipe gula sebelum perlahan-lahan dikeringkan dalam kertas filter. Hal ini akan mengawetkan vaksin sehingga bila sewaktu-waktu dibutuhkan dapat langsung diaktifkan. Gula yang dipakai adalah jenis sukrosa dan trehalose yang biasa digunakan dalam bahan pengawet. Dengan metode tersebut, sanggup menjaga kestabilan vaksin dalam suhu 45 derajat selama enam bulan.
(Fitri, Fatimah. 2007. Penyimpanan Vaksin. Diakses tanggal 23 Mei 2011 dari www.waspada.co.id)

D.    Persiapan Sebelum Imunisasi
Sebelum melakukan imunisasi ada beberapa hal yang dipersiapkan.
1.      Sebulan sebelum waktu pelaksanaan perlu disampaikan pesan-pesan kepada masyarakat antara lain:
a)      Pentingnya imunisasi bagi bayi dan balita
b)      Mempersiapkan jadwal pelaksanaan dan tempat-tempat/pos kapsul vitamin atau vaksin dan pelayanan imunisasi campak (pakai poster “Pos Vaksin X” yang telah dikirim)
c)      Bawa anti anafilaktik untuk  mengatasi bila terjadi anaphylactic shock karena imunisasi
2.      Sehari sebelum kegiatan semua sarana pelayanan telah mendistribusikan:
a)      Data sasaran balita (alamat, nama ayah, nama ibu, tanggal lahir, umur).
b)      Undangan  kepada sejumlah sasaran yang telah terdata.
c)      Kapsul vitamin atau vaksin sebanyak 125 % jumlah sasaran.
d)     Pakai kapsul vitamin atau ampul vaksin yang diterima lebih awal terlebih dahulu, perhatikan tanggal kadaluwarsa.
e)      Alat suntik sesuai jumlah sasaran.
f)       Vaksin campak sesuai kebutuhan , dengan perhitungan jumlah vial sama dengan jumlah sasaran dibagi 8 (untuk vial 10 dosis).
g)      Vaksin campak harus disimpan didalam termos berisi es dengan suhu berkisar 2-8 °C
h)      Insenerator/kotak karton untuk memusnahkan alat suntik bekas pakai.
i)        Format pelaporan yang akan digunakan
3.      Cara Pencatatan dan Pelaporan
Catatan menggunakan menggunakan laporan seperti contoh format yang ada. Hasil cakupan imunisasi dan vitamin A selanjutnya direkap di Puskesmas dan dilaporkan melalui SP2TP.

Hal yang dilakukan terhadap sisa kapsul dan vaksin
1.      Sisa kapsul vitamin/vaksin, dapat disimpan sesuai dengan tanggal kadaluwarsa yang tertulis di botol kapsul.
2.      Sisa kapsul dicatat dalam pencatatan logistik dalam laporan obat.
3.      Semua vaksin yang masih utuh dibawa kembali ke puskesmas dalam termos berisi es batu.
4.      Semua botol vaksin kosong dan vaksin sisa dibawa kembali ke Puskesmas untuk dimusnahkan setelah dihitung.

E.     Asuhan Keperawatan Pada Anak Yang Akan Dilakukan Imunisasi
A.  Pengkajian Pra Imunisasi :
1.      Biodata lengkap klien
2.      Pengkajian secara umum mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki (head to toe)
3.      Riwayat penyakit yang pernah diderita
4.      Riwayat imunisasi yang pernah didapatkan anak
5.      Riwayat prenatal
6.      Riwayat kejang
7.      Riwayat penyakit keluarga ( Disfungsi imunologi, HIV/ AIDS, kanker )
8.      Riwayat pemakaian obat- obatan
9.      Riwayat alergi terhadap obat tertentu.

B.     Diagnosa NANDA, Kriteria Hasil NOC, dan Intervensi NIC
Nanda
NOC
NIC
1.      Kesiagaan untuk meningkatkan status imunisasi
Kontrol imun yang hipersensitif
Indikator:
1)      Status respirasi, nadi, gastrointestinal,dan ginjal dalam batas normal
2)      Bebas reaksi alergi
3)      Bebas respon imflamasi lokal
4)      Bebas dari kejadian autoimun
5)      Tidak ada auto antibody atau auto-antigen

Status imun
Indikator:
1)      Infeksi ulangan tidak terjadi
2)      Tidak ada bengkak
3)      Berat dalam batas normal
4)      Imunisasi sekarang

Perilaku imunisasi
Indikator:
1)      Menyatakan resiko penyakit tanpa imunisasi
2)      Mendeskripsikan resiko yang berhubungan dengan  imunisasi khusus
3)      Mendeskripsikan kontraindikasi imunisasi khusus
4)      Membawa kartu vaksin setiap berkunjung
5)      Konfirmasi jadwal imunisasi selanjutnya
Pemberian imunisasi/vaksin
Aktivitas:
1)      Mengajarkan orang tua daftar imunisasi yang direkomendasikan, cara imunisasi diberikan, alas an, keuntungan, reaksi berlawanan, dan efek samping
2)      Sediakan informasi imunisasi dalam bentuk tertulis
3)      Sediakan teknik pemberian yang tepat
4)      Identifikasi rekomendasi terbaru tentang imunisasi
5)      Memantau pasien selama periode khusus setelah pemberian obat
6)      Menahan anak selama imunisasi
7)      Jadwal imunisasi sesuai dengan interval waktu
Persiapan vaksin


2.      Kecemasan
Kontrol kecemasan
Indikator :
1)      Memonitor intensitas kecemasan
2)      Mengeliminasi penyebab kecemasan
3)      Menurunkan stimulasi lingkungan ketika cemas
4)      Merencanakan strategi koping 
5)      Gunakan strategi koping yag efektif
6)      Gunakan teknik relaksasi
7)      Perhatikan hubungan social
8)      Laporkan tidur yang tidak adekuat
9)      Kontrol respon cemas


Penurunan kecemasan
Aktivitas:
1)      Gunakan ketenangan, meyakinkan pendekatan
2)      Jelaskan semua prosedur
3)      Lihat untuk mengerti perspektif pasien terhadap situasi stress
4)      Sediakan informasi tentang diagnosis, pengobatan, dan prognosis
5)      Tetap bersama pasien untuk kenyamanan dan mengurangi takut
6)      Tanggapi perilaku
7)      Ciptakan suasana untuk menfasilitasi kepercayaan
8)      Menyemangati secara verbal mengenai perasaan, persepsi, dan ketakutan
9)      Identifikasi perubahan tingkat kecemasan
10)  Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menurunkan kecemasan

Teknik tenang
1)      Pegang dan nyamankan bayi atau anak
2)      Menguncang bayi jika perlu
3)      Bicara lembut atau bernyanyi pada bayi atau anak
4)      Pertahankan kontak mata
5)      Duduk dan bicara dengan pasien
6)      Tawarkan minuman hangat atau susu

 
C.    Intervensi Keperawatan Saat akan melakukan penyuntikan vaksin
1. lakukan komunikasi teraupeutik dengan orang tua atau keluarga anak
2. berikan informasi tentang efek samping vaksin dan resiko apabila anak tidak di imunisasi
3. Periksa kembali semua persiapan untuk imunisasi untuk mengantisipasi hal- hal yg tidak diinginkan
4. Baca dengan teliti informasi tentang produk yang akan dipakai
5. Tinjau kembali apakah ada kontraindikasi terhadap vaksin yang akan diberikan
6. Periksa jenis vaksin dan yakinkan kalau vaksin disimpan dengan baik
7. Periksa vaksin yang akan diberikan, apakah ada tanda- tanda perubahan pada vaksin tersebut, periksa tanggal kadaluawarsa, dan catat hal- hal istimewa, seperti ada perubahan warna
8. Yakinkan bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal, dan tawarkan vaksin lain untuk mengejar imunisasi yang tertinggal
9. Berikan vaksin dengan tekhnik yang benar.

D.    Setelah selesai pemberian vaksin
1.      Memberitahu ulang tentang efek samping vaksin dan resiko apabila tidak diimunisasi
2.      Dokumentasikan keadaan status klien
3.      Periksa status imunisasi anggota keluarga lainnya
4.      Laporan imunisasi secara rinci harus dilaporkan ke Puskesmas induk kemudia ke dinas kesehatan ( Bagian P2M )
5.      Berikan penyuluhan tentang imunisasi
6.      Berikan petunjuk kepada orang tua atau keluarga atau pengasuh apa yg harus dikerjakan dalam kejadian biasa atau kejadian yg lebih berat, misalnya pemberian parasetamol bila anak demam.
2.2  PENGKAJIAN FISIK PADA ANAK
A.    Urutan Pemeriksaan
            Urutan pemeriksaan pada klien memakai prinsip head to toe (kepala hingga kaki). Fungsi utama pendekatan ini adalah memberikan pedoman umum dalam mengkaji setiap daerah tubuh untuk meminimalkan adanya bagian yang terlewatkan dari pemeriksaan.Dalam memeriksa anak , urutan teratur ini sering kali berubah untuk mengakomodasi kebutuhan perkembangan anak, walaupun pemeriksaan dicatat dengan mengikuti model kepala sampai kaki.
B.     Persiapan Anak
            Kehadiran orang tua berperan penting dalam pemeriksaan. Anak biasanya bekerjasama sangat baik ketika orang tuanya tetap bersama mereka. Namun terkadang anak malah merasa risih apabila melakukan suatu pemeriksaan apabila ditemani oleh sesorang seperti pada pemeriksaan genetalia. Perawat perlu menjaga agar anak merasa senyaman mungkin selama pemeriksaan. Oleh karena itu, membina hubungan saling percaya pada anak sebelum pemeriksaan sangat penting dilakukan.

C.    Pemeriksaan Fisik
Pengukuran Pertumbuhan
1.      Panjang
Istilah panjang dinyatakan sebagai pengukuran yang dilakukan ketika anak telentang (juga dinyatakan sebagai panjang pada saat berbaring). Karena posisi fleksi yang normal selama masa bayi, ekstensikan tubuh bayi secara penuh.
2.      Tinggi
Tinggi diukur dengan cara meminta anak melepaskan sepatu, berdiri setegak dan setinggi mungkin, dengan kepala pada garis tengah dan garis pandang, sejajar dengan langit-langit atau lantai. Pastikan punggung anak menempel pada dinding atau permukaan datar lain, dengan tumit, pantat, dan bagian belakang bahu menyentuh dinding dan jika mungkin meleopus medial.
3.      Berat badan
Sebelum anak ditimbang, timbang diatur pada angka nol dan jarum timbangan tepat berada di bagian tengah tanda.
4.      Ketebalan lipatan kulit dan lingkar lengan
Pengukuran lemak tubuh yang tepat adalah ketebalan lipatan kulit. Lingkar lengan adalah pengukuran tidak langsung terhadap massa otot.
5.      Lingkar kepala
Ukuran lingkar kepala pada lingkaran terbesarnya biasanya sedikit di atas alias mata dan daun telinga dan mengelilingi prominen oksipital di belakang tengkorak.

Pengukuran Fisiologis
1.      Suhu
Diukur pada oral, rectal, aksila, kulit atau membran timpani. Suhu normal tubuh adalah 370C (98,60F) melalui rute oral.
2.      Nadi
Catat perilaku anak bersamaan dengan frekuensi jantung, bandingkan nadi radialis dan femoralis sedikitnya satu kali selama masa bayi untuk mendekati adanya gangguan sirkulasi.
3.      Pernapasan
Hitung frekuensi pernapasan dengan cara seperti pada pasien dewasa, walaupun demikian, pada bayi observasi pergerakan abdomen karena pernapasan bayi terutama adalah pernapasan diafragmatik karena pergerakan tersebut tidak teratur, hitung jumlahnya selama 1 menit penuh agar akurat.
4.      Tekanan darah (TD)
Pengukuran tekanan darah dengan metode yang nonivasif adalah bagian dari penentuan tanda vital rutin.

Penampilan Umum
1.      Kulit
Kaji warna,tekstur, suhu, kelembapan, dan turgornya. Secara normal tekstur kulit anak yang masih kecil sangat halus, agak kering, dan tidak berminyak atau lembab.
2.      Kelenjar Limfe
Palpasi kelenjar dengan menggunakan bagian distal jari dan secara lembut namun tegas,tekan dengan gerakan melingkar sepanjang letak normal kelenjar tersebut. Pada anak kelenjar yang kecil, tidak nyeri, dan hangat biasanya normal.
3.      Kepala Dan Leher
Observasi bentuk dan simetris kepala secara umum. Palpasi tulang tengkorak untuk mengetahui kepatenan sutura, ubun-ubun, fraktur, dan pembengkakan. Ketika memeriksa kepala, observasi kesimetrisan, pergerakan dan penampilan umum wajah. Selain pengkajian pergerakan kepala dan leher, inspeksi ukuran leher dan palpasi leher untuk mengetahui struktur yang berhubungan.
4.      Mata        
Inspeksi Struktur Eksternal
Kaji kelopak mata, normalnya terletak horizontal. Bagian dalam kelopak mata (konjungtiva) normalnya terlihat merah muda dan mengkilap. Pada lubang lakrimal, catat adanya air mata yang berlebihan, keluaran, atau inflamasi.
Inspeksi Struktur Internal
Oftalmoskop memungkinkan visualisasi bagian dalam bola mata dengan sistem lensa dan cahaya intensitas tinggi. Periksa funduskopi anak. Selanjutnya pemeriksaan pembuluh darah, normalnya cabang arteri dan vena saling menyilang.
Uji Penglihatan
o   Uji reflex cahaya kornea (Uji Hirschberg)
o   Uji tutup mata
Uji ketajaman penglihatan pada anak setelah masa bayi. Uji yang paling umum digunakan adalah Snellen chart.
5.      Telinga
Inspeksi Struktur Eksterna
Ukur kesegarisan tinggi pina Normalnya, spina terletak dalam sudut 10 derajat dari garis vertical. Jika pina terletak di luar area ini, catat deviasi tersebut dan cari anomaly yang lain.
Uji Pendengaran
Beberapa jenis uji pendengaran
o   Uji pendengaran klinis: lakukan refleks kejut dan observasi respon lain neonatus terhadap suara keras
o   Timpanometri: ukur kemampuan meregang (mobilitas) membran timpani
o   Uji konduksi; uji rinne: rinne (+) dan (-), dan uji weber: weber (+) dan (-)
o   Audiometri: mengukur ambang batas pendengaran untuk frekuensi nada murni
o   Evoked Otoacoustic Emissions (EOAEs): energy suara yang diemisikan oleh koklea dihasilkan oleh pergerakan rambut-rambut Korti


6.      Hidung
Inspeksi Struktur Eksterna
Bandingkan penempatan dan kesegarisannya. Catat lokasi hidung, adanya deviasi pada salah satu sisi, dan asimetris pada ukurannya secara keseluruha dan diameter dari nares (lubang hidung).
Inspeksi Struktur Interna
Inspeksi vestibula anterior hidung. Perhatikan warna lapisan mukosa, yang normalnya berwarna lebih merah daripada membrane oral, juga perhatikan adanya pembengkakan, keluaran, kekeringan, atau pendarahan. Normalnya, tidak terdapat dalam hidung.
7.      Mulut Dan Tenggorokan
Inspeksi semua warna area yang dilapisi membrane mukosa, apakah ada bercak-bercak putih atau ulserasi, pendarahan, sensitivitas, dan kelembaban. Membran itu harus berwarna merah muda, cerah, lembut, basah, seragam, dan lembab.
8.      Dada        
Inspeksi dada  untuk mengetahui ukuran, bentuk, kesimetrisan, pergerakan, perkembangan payudara, dan adanya gambaran tulang pada dada.
9.      Paru
Auskultasi menggunakan stetoskop untuk mengevaluasi suara nafas. Cairan, udara, atau massa padat pada rongga pleura dapat mengganggu konduksi suara nafas.
10.  Jantung
Auskultasi bunyi jantung, normalnya dua bunyi S1 dan S2 dapat terdengar, yang secara berurutan berhubungan dengan suara “lub dup” yang sering digunakan untuk menggambarkan bunyi tersebut.
11.  Abdomen
Inspeksi kontir abdomen pada posisi tegak dan telentang. Observasi pergerakan abdomen. Periksa ukuran, kebersihan, dan adanya tanda-tanda abnormalitas umbilicus seperti hernia. Umbilicus harus datar dan sedikit menonjol. Auskultasi suara bising usus. Catat tidak adanya bising usus karena menunjikkan gangguan abdomen. Palpasi, ada dua tipe palpasi yaitu palpasi superficial dan palpasi dalam. Palpasi superficial dengan cara menempatkan dengan lembut tangan pada kulit dan rasakan sertiap kuadran, perhatikan adanya nyeri, tonus otot, dan lesi superficial seperti kista. Sedangkan palpasi dalam digunakan untuk melakukan palpasi organ dan pembuluh darah besar dan mendeteksi massa serta nyeri tekan yang tidak dapat ditemukan pada palpasi superficial. Kemudian palpasi nadi femoralis.
12.  Genitalia
Genitalia Pria. Catat penampilan eksterna glans dan bagian penis, prepusium, meatus uretra, dan skrotum.
Genitalia Perempuan,  untuk mengetahui ukuran dan lokasi struktur vulva atau pudendum. Perhatikan ukuran dan lokasi klitoris. Perhatikan ukuran labia dan tanda-tanda fusi, ynag dapat menunjukkan scrota laki-laki. Normalnya tidak ada massa yang dapat teraba di dalam labia.
13.  Anus        
Perhatikan kepadatan umum bokong dan kesimetrisan lipatan gluteal. Kaji tonus sfinkter anal dengan merangsang refleks anal.
14.  Punggung Dan Ekstermitas
Spina, kelengkungan umum spina diperhatikan. Normalnya bagian punggung bayi baru lahir adalah bulat atau berbentuk huruf C dari lengkung toraks dan pelvic. Inspeksi bagian punggung, apakah ada kumpulan rambut, tahi lalat, atau pemucatan.
Ekstermitas, inspeksi kesimetrisan panjang dan ukuran masing-masing ekstermitas. Hitung jumlah jari tangan dan kaki untuk meyakinkan jumlahnya normal. Inspeksi suhu dan warna lengan dan kaki, yang harus sama pada setiap ekstermitas, walaupun kaki normalnya lebih dingin daripada tangan.
Sendi, evaluasi sendi untuk mengetahui rentang geraknya.
Otot, perhatikan kesimetrisan dan kualitas perkembangan otot, tonus, dan kekuatan otot.
15.  Pengkajian Neurologis
Fungsi Serebral, pengkajian fungsi serebral digunakan dalam mengobservasi postur anak, pergerakan tubuh, gaya berjalan, dan perkembangan keterampilan motorik kasar dan motorik halus. Refleks, pemeriksaan refleks dilakukan dengan menggunakan palu refleks berkepala karet, bagian datar jari, atau samping tangan. Refleks tendon dalam merupakan refleks peregangan dari suatu otot.
(Wong, Donna L. (2008). “Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik”. Jakarta: EGC)
BAB III
PEMBAHASAN

Berbagai usaha telah dikakukan oleh setiap elemen untuk peningkatan kesehatan anak Indonesia, salah satunya dengan imunisasi. Namun hasil yang didapatkan belum sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini terlihat dari masih banyaknya ibu hamil belum mendapatkan layanan imunisasi rutin. Akibatnya, penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin ini diperkirakan menyebabkan lebih dari dua juta kematian tiap tahun. Selain itu, masih banyak orang tua yang belum menyadari pentingnya imunisasi bagi anaknya. Hal ini menyebabkan masih tingginya tingkat penyakit dan kematian pada anak. Misalnya, pada survei atas dugaan kasus polio yang dilakukan WHO menunjukkan bahwa di beberapa daerah angka imunitas kurang dari  56 persen. Tiga tahun sebelumnya angka imunitas mencapai 70 persen. Hal ini menunjukkan turunnya layanan kesehatan di beberapa daerah miskin.
(www.unicef.org/indonesia/)
Untuk mengatasi masalah tersebut, kementerian telah melakukan imunisasi di seluruh wilayah Indonesia di masing-masing puskesmas semenjak tahun 1994. Ditargetkan, nantinya jumlah kasus penyakit pada anak dapat berkurang. Misalnya pada penyakit campak yang merupakan kasur besar pada anak Indonesia. Kementrian Kesehatan menargetkan pada tahun 2015 bayi Indonesia akan bebas dari penyakit campak.
(Agustia, Ririn. 2010. Diakses tanggal 24 Mei 2011 dari www.hileud.com/)
Tujuan pemeriksaan fisik adalah memperoleh informasi yang akurat tentang keadaan fisik pasien. Dalam pemeriksan anak harus memperhatikan kebutuhan perkembangan mental anak. Dalam prosedur pemeriksaan fisik dapat menimbulkan kecemasan dan stress pada anak.oleh karena itu perawat perlu membina rasa percaya terhadap anak. Keberadaan orang tua sangat penting dalam pemeriksaan karena anak lebih merasa nyaman ketika orang tua ada disamping mereka.
 Sebagai tenaga medis sebelum melakukan pemeriksaan hendaknya jangan mengabaikan komunikasi baik kepada orang tua maupun kepada anak. Kita bisa memulai kontak dengan anak dengan menceritakan sesuatu yang lucu. Dengan demikian
harapkan anak akan tertarik dengan pembicaraan perawat dan mau bekerja sama. Juga bisa dibantu dengan menggunakan mainan. Dengan demikian, persepsi anak terhadap pemeriksaan sebagai suatu proses yang menakutkan berubah menjadi persepsi yang positif.


BAB IV
PENUTUP

4.1  KESIMPULAN
Imunisasi itu sangat penting untuk mrngurangi mortalitas dan morbiditas pada anak. Ada berbagai macam imunisasi yang diberikan pada anak, misalnya BCG, DPT, polio, dan campak. Masing-masing imunisasi itu berguna untuk mencegah penyakit dan menghindari infeksi pada anak.
Sebelum melakukan imunisasi diperlukan persiapan yang optimal baik persiapan alat maupun persiapan teknis terutama penyampaian pentingnya imunisasi pada masyarakat. Dalam pelaksanaannya dibutuhkan kerja sama dari semua pihak. Selain itu, perawat perlu melakukan asuhan keperawatan pada anak yang akan diberikan imunisasi.
Pemeriksaan fisik pada bayi dan anak merupakan pemeriksaan untuk melihat adanya kelainan yang abnormal pada bayi dan anak. Pemeriksaan fisik pada bayi dan anak meliputi pemeriksaan dari kepala sampai kaki (head to toe).
4.2  SARAN
Perawat hendaknya memperbanyak pengetahuan tentang imunisasi dan pengkajian fisik pada anak agar dapat memberikan intervensi yang tepat. Selain itu, perawat juga tentu perlu memberikan pendidikan bagi orang tua maupun keluarga dari anak tersebut.











DAFTAR PUSTAKA

Agustia, Ririn. 2010. Diakses tanggal 24 Mei 2011 dari www.hileud.com/
Hidayat, A Aziz Almull. (2005). Pengatar Ilmu keperawatan Anak jilid 1”. Jakarta: Salemba
Supartini,Yeni. (2004). “Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak 1”. Jakarta: EGC
Suririnah, 2010. Imunisasi. Diakses tanggal 24 Mei 2011 dari www.infoibu.com
Wong, Donna L. (2008). “Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik”. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!