Jumat, 14 Januari 2011

Membantu Klien Berjalan dengan Alat Bantu Kruk dan Melakukan Range of Motion

Download makalah DISINI atau klik:  
http://www.ziddu.com/download/16477734/membantuklienberjalan.docx.html


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Konsep Teori
Pengertian
Membantu klien berjalan dengan “menggunakan alat bantu kruk” dan “melakukan range of motion” merupakan suatu tindakan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan klien dalam mobilisasi.

Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak bebas. Pergerakan atau mekanika tubuh merupakan koordinasi dari sistem muskuloskeletal dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur tubuh, dan kesejajaran tubuh selama beraktivitas sehari-hari. Sedangkan imobilisasi adalah suatu keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik.
Anatomi
Sistem tubuh yang berkoordinasi adalah sistem musculoskeletal dan sistem saraf. Sistem skeletal terdiri dari tulang, sendi, ligament, tendon, dan kartilago.
Otot atau muskul terutama berfungsi mempertahankan postur, berbentuk pendek, dan menyerupai kulit karena membungkus tendon dengan arah miring berkumpul secara tidak langsung pada tendon.
Pergerakan dan postur tubuh diatur oleh sistem saraf. Area motorik yang utama terdapat di korteks serebral, yaitu di girus prasentral atau jalur motorik. Serabut motorik turun dari girus prasentral dan bersilangan pada tingkat medulla. Sehingga serabut motorik dari jalur motorik kanan mengawali gerakan volunter dari bagian tubuh kiri, dan serabut dari jalur motorik kiri mengawali gerakan volunteer dari bagian tubuh kanan. Transmisi impuls dari sistem saraf ke sistem musculoskeletal merupakan peristiwa kimia listrik dan membutuhkan neurotransmiter.
Pada dasarnya, neurotransmitter merupakan substansi kimia seperti asetikolin yang memindahkan impuls listrik dari saraf yang bersilangan pada simpul mioneural di otot. Neurotransmitter mencapai otot dan menstimulasinya sehingga menyebabkan gerakan.
Pengaruh Fisiologi gangguan mobilisasi
Perubahan sistem respirasi yang menyebabkan komplikasi paru. Komplikasi yang sering terjadi adalah atelestatik, pneumonia hipostatik, penurunan kemampuan batuk produktif.
Perubahan sistem kardiovaskuler menyebabkan hipotensi ortostatik, peningkatan beban jantung, pembentukan trombus.
Perubahan metabolik menyebabkan terjadi nya gangguan fungsi metabolik, laju metabolik, metabolism karbohidrat, lemak dan protein, ketidakseimbangan cairan elektrolit, kalsium, gangguan pencernaan.
Perubahan pada sistem musculoskeletal, klien dapat mengalami keseimbangan nitrogen negatif dan kehilangan berat badan, penurunan masa otot, dan kelemahan akibat katabolisme jaringan.
Perubahan sistem integument yaitu terjadinya dekubitus karena jaringan tertekan.
B.        Membantu klien berjalan  menggunakan kruk
Postur jalan normal adalah kepala tegak, vertebra servikal, torakal, lumbal sejajar, pinggul dan lutut berada dalam keadaan fleksi yang sesuai, dan lengan bebas berayun bersama dengan kaki.
Kruk dapat digunakan secara temporer, seperti pada setelah kerusakan ligament di lutut. Kruk dapat digunakan permanen, seperti klien paralis ekstremitas bawah.
Kruk terbuat dari kayu atau logam. Ada dua tipe kruk, kruk lofstrand dengan pengatur ganda atau kruk lengan bawah dan kruk aksila terbuat dari kayu.
Kruk lengan bawah memiliki sebuah pegangan tangan dan pembalut logam yang pas mengelilingi lengan bawah. Pembalut logam dan pegangan tangan diatur agar sesuai dengan ketinggian klien.
Kruk aksila mempunyai garis permukaan yang seperti bantalan pada bagian atas, berada tepat di bawah aksila. Pegangan tangan berbentuk batang yang dipegang setinggi telapak tangan untuk menyokong tubuh. Kruk ini lebih umum digunakan.
Kruk harus diukur panjang yang sesuai, dan klien harus diajarkan menggunakan kruk mereka dengan aman, mencapai kestabilan gaya berjalan, naik turun tangga, dan bangkit dari duduk.
Pengukuran kruk meliputi tiga area: tinggi klien, jarak antara bantalan kruk dengan aksila, dan sudut fleksi siku. Pengukuran berikut, dengan klien berada pada posisi supine atau berdiri.
Ketika berjalan dengan kruk, berat badan klien perlu disokong oleh bahu dan lengan, bukan di bawah lengan. Siku harus ditekuk
Tujuan
·         Membantu melatih kemampuan gerak klien, melatih dan meningkatkan mobilisasi.
·         Mencapai kestabilan klien dalam berjalan.
Manfaat
Klien mampu berjalan dengan menggunakan alat bantu dan meningkatnya kemampuan mobilisasi klien.
Indikasi
·         Klien dengan nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan/atau trauma
·         Klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan bengkak sendi
·         Klien amputasi kaki: di atas atau di bawah lutut
·         Klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhungan dengan nyeri dan kerusakan musculoskeletal
·         Klien setelah bedah artroskopis lutut
·         Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan ketidaknyamanandan imobilisasi yang diprogramkan.
Kontraindikasi
·         Klien dengan nyeri yang berhubungan dengan inflamasi, insisi, dan drainase.
·         Klien yang potensial kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan turgor kulit.
Persiapan alat
·         Menyediakan kruk yang digunakan (kruk aksila).
·         goniometer
·         Melakukan pengukuran kruk yang meliputi area tinggi klien, jarak antara bantalan kruk dengan aksila, dan sudut fleksi siku.
Pengukuran dilakukan dengan satu dari dua metode berikut, dengan klien berada pada posisi supine atau berdiri.
Pada posisi telentang-ujung kruk berada 15cm di samping tumit klien. Tempatkan ujung pita pungukur dengan lebar tiga sampai empat jari(4-5cm) dari aksila dan ukur sampai tumit klien.
Pada posisi berdiri-posisi kruk dan ujung kruk berada 14-15 cm di samping dan 14-15 cm di depan kaki klien. Dengan motede lain, siku harus direfleksikan 15 sampai 30 derajat. Fleksi siku harus diperiksa dengan goniometer.
·         Lebar bantalan kruk harus 3-4 lebar jari di bawah aksila.
·         Tempat berjalan, seperti lorong rumah sakit atau taman yang dilengkapi dengan tempat latihan untuk berjalan.


Prosedur
Gaya berjalan empat titik
1.      Kaji toleransi aktifitas, kekuatan, nyeri, koordinasi, kemampuan fungsional, dan penyakit serta cedera
2.      Menjelaskan prosedur kepada klien dan keluarga
3.      Memeriksa lingkungan untuk memastikan tidak rintangan di jalan klien
4.      Menentukan tempat istirahat klien setelah latihan
5.      Minta klien berdiri dengan posisi tripod, sebelum kruk berjalan
6.      Atur kesejajan kaki dan tubuh klien
7.      Klien memposisikan kruk pertama kali lalu memposisikan kaki yang berlawanan (mis. Kruk kanan dengan kaki kiri)
8.      Klien mengulangi urutan cari ini dengan kruk dan kaki yang lain.
Pada gaya berjalan tiga titik , berat badan di topang pada kaki yang tidak sakit dan kemudian di kedua kruk, dan urutan ini dilakukan berulang-ulang. Kaki yang sakit tidak menyentuh tanah selama berjalan ditahap awal. Secara bertahap klien mulai menyentuh, dan menopang berat badan secara penuh pada kaki yang sakit.
Gaya berjalan dua titik memerlukan sebagian penopang berat disetiap kaki. Setiap kruk digerakkan secara bersamaan dengan kaki yang berlawanan sehingga gerakan kruk sama dengan lengan.
Mengajarkan berjalan menggunakan kruk di tangga
1.      Menggunakan modifikasi gaya berjalan tiga titik
2.      Klien berdiri didasar tangga dan memindahkan berat badan ke kruk
3.      Kaki yang tidak sakit maju di antara kruk dan tangga
4.      Kemudian berat dialihkan dari kruk ke kaki yang tidak sakit
5.      Klien meluruskan kedua kruk di tangga


Evaluasi
·         Penggunaan mobilitas dan persendian klien meningkat
·         Menggunakan alat mobilisasi dengan tepat
·         Klien memperlihatkan cara yang lebih relaks
·         Klien mengatakan dan mendemontrasikan prinsip penggunaan kruk yang aman

C.      Rentang Gerak
Rentang gerak adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh: sagital, frontal, dan transversal.
Latihan rentang gerak aktif
Latihan disebut renatang gerak aktif jika pesien melakukan latihan sendiri dengan intruksi dan kemungkian dari perawat dan anggota keluarga.
Latihan rentang gerak pasif
Rentang gerak yang dilakukan perawat kepada pasien, dalam kasus ini perawat melatih sendi untuk pasien. Beberapa pasien mulai dengan latihan rentang gerak pasif dan meningkat pada latihan rentang gerak aktif.
Tujuan
Melakukan rentang gerak bertujuan untuk melatih aktivitas seluruh sendi tubuh sehingga sendi-sendi tersebut tidak kaku, dan tidak terjadi kecelakan saat tubuh di gerakan. Menjamin keadekuatan mobilisasi sendi.
Manfaat
1.      Sistem kardiovaskuler
Meningkatkan curah jantung
Memperbaiki kontraksi miokardial, menguatkan otot jantung
Menurunkan tekanan darah istirahat
Memperbaiki aliran balik vena
2.      Sistem respiratori
Meningkatkan frekuensi dan kedalam pernafasan
Meningkatkan ventilasi alveolar
Menurunkan kerja pernapasan
Meningkatkan pengembangan diafragma
3.      Sistem metabolik
Meningkatkan laju metabolisme basal
Meningkatkan penggunaan glukosa dan asam lemak
Meningkatkan pemecahan trigliserida
Meningkatkan motilitas lambung
Meningkatkan produksi panas tubuh
4.      Sistem musculoskeletal
Memperbaiki tonus otot
Meningkatkan mobilisasi sendi
Memperbaiki toleransi otot untuk latihan
5.      Toleransi aktivitas
Meningkatkan toleransi
Mengurangi kelemahan
6.      Faktor psikososial
Meningkatkan toleransi terhadap stress
Melaporkan “perasaan lebih baik”
Indikasi
·         Klien dengan kerusakan fisik yang berhubungan dengan nyeri persendian dan mobilitas
·         klien dengan kerusakan mobilitas yang berhubungan dengan nyeri dan bengkak sendi.
·         klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan edema pada persendian.
·         Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan fraktur dan cedera pada jaringan sekitar.
·         klien pasca pembedahan.
·         Klien dengan kerusakan mobilitas fisik yang berhungan dengan prosedur bedah pada sendi yang sakit.
Kontraindikasi
·         klien dengan nyeri yang berhubungan dengan inflamsi, insisi, dan drainase.
·         klien yang potensial kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan turgor kulit.
·         klien dengan potensial terhadap perubahan perfusi: serebral dan/atau kardiopulmonar yang berhungan dengan resiko emboli lemak.
Persiapan peralatan
1.      Lokasi tempat klien melakukan latihan
2.      Tempat istirahat klien apabila telah selesai melakukan latihan.
Prosedur
1.      Kaji status kesehatan klien, kemampuan gerak sendi dan kemampuan aktifitas klien, kemampuan dan kemauan klien untuk bekerja sama dalam latihan, adanya nyeri, kekakuan, kelemahan dan bengkak, serta cek tanda-tanda vital.
2.      Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang prosedur yang akan dilakukan
3.      Jaga privasi klien
4.      Cuci tangan
5.      Lepaskan pengaman tempat tidur
6.      Lakukan latihan minimal tiga kali pada setiap sendi. Latihan dapat dilakukan dari anggota tubuh bagian atas ke anggota tubuh bagian bawah.
·         Leher
a)     Fleksi (menggerakkan dengan dagu menempel ke dada)
Ekstensi (mengembalikan kepala ke posisi tegak)
Hiperekstensi (menekukkan kepala ke belakang sejauh mungkin)
b)     Fleksi lateral (memiringkan kepala sejauh mungkin ke arah setiap bahu)
c)      Rotasi (memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkulasi)

·         Bahu
a)     Fleksi (mengangkat tangan dari posisi di samping badan sampai posisi di samping telinga)
Ekstensi (mengembalikan tangan ke samping badan)
Hiperekstensi (menggerakkan tangan ke belakang tubuh dengan siku lurus)
b)     Abduksi (mengangkat tangan kesamping kepala dengan telapak tangan menghadap membelakangi kepela)
Adduksi (menurunkan tangan ke arah samping, menyilangkan di depan tubuh sejauh mungkin)
c)      Rotasi internal (dengan siku di bengkokkan, putar lengan samping ibu jari di bawah dan mengarah ke belakang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!