Sabtu, 08 Januari 2011

MEKANISME PERTAHANAN TUBUH TERHADAP INFEKSI TUMOR

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Lebih kurang permulaan abad ini, peranan daripada proses imunologik dalam mengontrol pertumbuhan tumor telah lama diketahui. Tumor yang berkembang secara progresif sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu kegagalan daripada reaksi imunologik didalam tubuh.

Pada pertumbuhan sel tumor umumnya timbul beberapa antigen baru serta asing bagi tubuh. Dengan adanya antigen tersebut, mesin imunologik didalam tubuh dapat terangsang, sehingga menimbulkan suatu reaksi imun yang dapat menghancurkan sel tumor tadi.

Dengan lain perkataan sistem respons imun bukan saja berfungsi sebagai benteng pertahanan tubuh terhadap serangan kuman penyakit, akan tetapi juga dapat memegang peranan dalam menjaga timbulnya sel-sel yang abnormal didalam tubuh; keadaan seperti ini dikenal dengan nama "immunological surveillance". Dengan maju-pesatnya penyelidikan dibidang ini, sedikit banyak memberikan harapan kepada kita kalau terapi tumor dikemudian hari dapat dilaksanakan secara metode-metode imunologik.









B.     Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan suatu permasalahan dalam makalah ini antara lain sebagai berikut :
  1. Apa pengertian tumor?
  2. Bagaimana pembagian tumor ?
3.      Bagaimana penamaan, stadium, dan penyebab tumor?
4.      Apa antigen tumor?
5.      Bagaimana respon imun terhadap tumor?
6.       Apa usaha tumor menghindari sistem imun?
7.      Bagaimana keganasan sistem imun?
8.      Apa yang dimaksud Imunodiagnosis?
9.      Bagaimana pendekatan terapi pada tumor?

C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penulis dapat memahami tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apa pengertian tumor
2.      Untuk mengetahui bagaimana pembagian tumor
3.      Untuk mengetahui bagaimana penamaan, stadium, dan penyebab tumor
4.      Untuk mengetahui apa antigen tumor
5.      Untuk mengetahui bagaimana respon imun terhadap tumor
6.       Untuk mengetahui apa usaha tumor menghindari sistem imun
7.      Untuk mengetahui bagaimana keganasan sistem imun
8.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud imunodiagnosis
9.      Untuk mengetahui bagaimana pendekatan terapi pada tumor



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Tumor

1.      Sel tubuh yang bersifat abnormal dan berdiferensiasi dengan sangat cepat
2.      Berasal dari tumere bahasa Latin, yang berarti "bengkak“
3.      Pertumbuhan jaringan biologis yang tidak normal
4.      Pembesaran ukuran jaringan atau organ secara abnormal

B.      Pembagian  tumor
Tumor dapat berupa tumor neoplasma dan tumor non-neoplasma.
1.      Tumor non-neoplasma (benjolan yang bukan penyakit keganasan)
Dapat bermacam-macam :
·Kiste : suatu tumor yang berupa kantong dan didalamnya berisi cairan (encer atau setengah padat). Sebagian besar kista adalah suatu non-neoplasma.
·Radang : pembesaran / tumor akibat proses radang yaang disebabkan oleh infiltrasi sel-sel radang - oedema - vasodilatasi.
·Hipertrofi : pembesaran suatu organ akibat bertambah besarnya sel - sel jaringan penyusunnya.
·Hiperplasia : pembesaran suatu organ akibat bertambah banyaknya sel - sel jaringan penyusunnya.
·Displasia : pembesaran suatu organ, akibat bertambah banyaknya dan bertambah besarnya sel - sel jaringan yang berbeda.
2.      Sel Neoplasma (sel kanker)
Adalah sel tubuh itu sendiri yang mengalami mutasi dan transformasi dari bentuk dan sifatnya, yang berakibat pertumbuhannya menjadi otonom dan tak terkendali.
Mutasi dan transformasi ini terjadi karena kerusakan gen yang mengatur pertumbuhan dan differensiasi, dimana kerusakan yang terjadi ini dapat ringan sampai berat dan luas.
Bila kerusakannya ringan, akan terbentuk sel / jaringan neoplasma jinak dan bila berat dan luas akan terbentuk sel / jaringan neoplasma ganas yang ganas yang lebih akrab dikenal sebagai kanker. Kanker memiliki potensi untuk menyerang dan merusak jaringan yang berdekatan dan menciptakan metastasis. Tumor jinak tidak menyerang tissue berdekatan dan tidak menyebarkan benih (metastasis), tetapi dapat tumbuh secara lokal menjadi besar. Mereka biasanya tidak muncul kembali setelah penyingkiran melalui operasi.
Tumor yang tumbuhnya tidak terus menerus dan tidak menginvasi jaringan sehat sekitarnya secara luas disebut tidak ganas (benigna). Tumor yang terus tumbuh dan menimbulkan progresif invasif disebut ganas (maligna). Istilah tumor adalah spesifik untuk tumor yang ganas. Tumor ganas cendrung bermetastasis, gerombol sel tumor kecil dapat terlepas dari tumor, menginvasi pembukuh darah atau limfe dan dibawa ke organ lain untuk seterusnya berpoliferasi. Dalam hal ini, tumor primer di satu pihak menimbulkan tumor sekunder di tempat lain.

C.      Penamaan, stadum, dan penyebab tumor
Penamaan
Hampir semua jenis tumor dinamakan berdasarkan tempat awal mereka berasal. Misalnya, tumor pada paru dinamakan tumor paru atau tumor pada payudara dinamakan tumor payudara.  Dan ada juga penamaan berdasarkan jaringan asal tumor itu berada, misalnya fibroadenoma mamae yang berasal dari jaringan fibrous pada payudara.

Stadium / Staging
 Penentuan stadium / staging diberikan hanya untuk tumor ganas (kanker), dipergunakan untuk mengetahui seberapa jauh dan luasnya penyakit, dan juga penting untuk pemilihan jenis terapi dan prognosa (tingkat kesembuhan).

Penyebab tumor
1.      Mutasi dalam DNA sel
2.      Pola hidup yang tidak sehat
3.      Demografis populasi
4.      Lingkungan dan bahan kimia
5.      Faktor keturunan
6.      Patogen
Kanker terbentuk melalui 2 kondisi yaitu adanya promoter dan inisiator. Promoter merupakan rangsangan/stimulus yang berulang-ulang hingga saat memicu DNA inti sel mengalami mutasi secara tiba-tiba (inisiator). Akibatnya gen-gen akan memberikan instruksi yang kacau pada tubuh dan memberikan perintah untuk membentuk jaringan monster atau apa pun bentuknya yang bukan merupakan jaringan normal. Sel-sel yang telah kacau inilah yang merupakan generasi jaringan kanker atau tumor yang disebut sebagai inisiator kanker. Bila gen kanker sudah terbentuk maka gen ini akan mudah diturunkan sehingga generasi berikutnya juga beresiko terkena kanker. Seberapa cepat proses ini terjadi sangat tergantung kepada seberapa kuat factor promoter dan berapa lama paparan terjadi, serta kemampuan tubuh dalam menangkal/menetralkan factor promoter.
Prof yukie niwa (pakar radikal bebas internasional) dalam bukunya free radical invite death memaparkan bahwa oksigen radikal bebas adalah promoter, bahkan sekaligus inisiator yang dominant dalam menyebabkan kanker/tumor atau bentuk sel tidak normal lainnya. Perlu diketahui bahwa radikal bebas merupakan bagian dari imun tubuh, karena itu kontak dengan atau penggunaan/pemakaian bahan-bahan asing/tidak dibutuhkan tubuh turut merangsang diproduksinya radikal bebas secara berlebihan. Akibatnya radikal bebas tidak saja merusak bakteri/virus atau menetralkan senyawa asing, tetapi juga ikut merusak inti sel disekitarnya sehingga berkembang menjadi sel tidak normal, tumor/kanker
Radikal bebas dapat masuk dari berbagai sumber eksternal (dari luar tubuh) seperti : rokok, polusi udara, polusi air, radiasi sinar UV dan sinar X, zat kimia pertanian, serta obat-obatan. Radikal bebas sendiri juga diproduksi secara berlebihan oleh tubuh di saat stress, kelelahan yang amat sangat (fatigue), aktivitas fisik/olahraga berlebihan dalam kondisi suhu yang ekstrim dan peradangan.
Tumor juga disebabkan oleh mutasi dalam DNA sel. Sebuah penimbunan mutasi dibutuhkan untuk tumor dapat muncul. Mutasi yang mengaktifkan onkogen atau menekan gen penahan tumor dapat akhirnya menyebabkan tumor. Sel memiliki mekanisme yang memperbaiki DNA dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel untuk menghancurkan dirinya melalui apoptosis bil DNA rusak terlalu parah. Mutasi yang menahan gen untuk mekanisme ini dapat juga menyebabkan kanker. Sebuah mutasi dalam satu oncogen atau satu gen penahan tumor biasanya tidak cukup menyebabkan terjadinya tumor. Sebuah kombinasi dari sejumlah mutasi dibutuhkan.
DNA microarray dapat digunakan untuk menentukan apakah oncogene atau gen penahan tumor telah termutasi. Di masa depan kemungkinan tumor dapat dirawat lebih baik dengan menggunakan DNA microarray untuk menentukan karakteristik terperinci dari tumor.
Penuaan menyebabkan lebih banyak mutasi di DNA mereka. Ini berarti “prevalence” tumor meningkat kuat sejalan dengan penuaan. Ini juga kasus di mana orang tua yang terdapat tumor, kebanyakan tumor ini merupakan tumor ganas. Contohnya, bila seorang wanita berumur 20 tahun memiliki tumor di dadanya kemungkinan besar tumor ini adalah jinak. Namun, apabila wanita berumur 70 tahun makan kemungkinan besar tumor ini adalah ganas.
D.     Antigen Tumor
Dalam penyelidikan terhadap tumor-tumor yang disebabkan oleh virus dan zat karsinogen kimia pada binatang percobaan, telah dapat diambil suatu kesimpulan yang jelas kalau sel tumor tersebut mengandung suatu antigen yang asing bagi tubuhnya sendiri. Bila suatu tumor yang diinduksi pada binatang yang murni, ditransplantasikan kepada binatang lain dari jenis yang sama, akan tetapi sebelumnya telah diimunisasi dengan sel-sel tumor tersebut, maka binatang ini dapat menolak pertumbuhan tumor yang ditransplantasikan tadi.
Timbulnya antigen baru pada suatu tumor dapat disebabkan oleh dua proses, yaitu
1.      Hilangnya beberapa antigen yang spesifik daripada jaringan normal,
2.      Timbulnya beberapa antigen baru yang spesifik untuk tumor dan tidak terdapat pada sel-sel normal lainnya.

Proses menghilangnya antigen tubuh yang baru itu agaknya berhubungan dengan proses diferensiasi fungsi sel tumor. Oleh karena fungsi beberapa system enzim didalam sel tadi berubah atau menghilang, maka akibatnya proses-proses biokimianya daripada sel tumor berbeda dengan sel yang normal. Bersamaan dengan kejadian ini, maka keantigenan daripada struktur protein tersebut yang mungkin mengidentifikasi sel atau jaringan yang bersangkutan, akhirnya menghilang juga. Disamping proses menghilangnya antigen tadi, maka sel tumor dapat memperoleh antigen yang baru, terutama pada sel-sel tumor yang diinduksi dengan zat kimia atau/dan virus. Pada tumor-tumor yang disebabkan oleh zat kimia, maka antara antigen yang baru timbul dengan zat karsinogen tersebut tidak tampak suatu hubungan yang timbal-balik. Sering ditemukan kalau zat karsinogen yang sama akan menghasilkan tumor-tumor dengan antigen yang berbeda-beda serta tidak memperlihatkan reaksi silang sama sekali. Sebaliknya pada tumor-tumor yang diinduksi oleh virus, umpamanya virus Rous sarkoma pada ayam, virus polioma pada tikus, virus SV40 pada monyet, ternyata akan menimbulkan antigen-antigen yang baru serta spesifik untuk tumor.
Yang dimaksudkan dengan spesifik ialah, spesifik terhadap virus yang menginduksi tumor tadi dan tidak tergantung kepada spesies atau jenis binatangnya. Hal ini agaknya disebabkan karena informasi genetik virus, terutama virus yang mengandung DNA ("deoxyribonucleic acid"), akan menggabungkan diri dengan khromosom sel yang diinfeksi. Setelah menggabungkan diri, akhirnya khromosom virus akan turut dalam proses-proses sintesa protein didalam sel dan hasilnya akan diekspresikan sebagai antigen yang baru serta asing tadi; biasanya antigen ini terletak pada permukaan sel tumor. Antigen sel tumor ini selain spesifik juga dapat mengakibatkan suatu reaksi penolakan pada proses transplantasi, oleh karena itu antigen ini dikenal sebagai "Tumor Specific Transplantation Antigen" atau sering disingkat dengan TSTA. Selain antigen pada permukaan sel ini, sebenarnya ada pula antigen baru. yang letaknya lebih kedalam sel, yaitu pada nukleusnya; akan tetapi ditinjau dari sudut imunologi, antigen-antigen tersebut lebih sukar untuk dikenal.
Identifikasi molecular antigen tumor telah dapat memberikan berbagai informasi mengenai respon imun terhadap tumor dapat merupakan faktor kunci dalam perkembangan imunoterapi antitumor. Antigen tumor yang unik dapat digunakan sebagai molekul sasaran untuk dikenal sistem imun untuk dihancurkan secara spesifik. Antigen tersebut dapat dibagi sesuai gambaran ekspresinya pada sel tumor dan sel normal.
1.      Tumor Specific Antigen
TSA atau TSTA merupakan antigen sasaran ideal untuk tumor terapi imun tumor. Respons imun terhadap antigen demikian memberikan banyak harapan untuk dapat menghancurkan banyak sel tumor tanpa merusak sel yang sehat. Contoh TSA adalah suatu protein yang diproduksi akibat mutasi satu atau lebih gen. Jenis TSA yang lain adalah protein dalam tumor yang diindiksi virus. TSA sangat menarik ditinjau dari imunoterapi, meskipun sampai sekarang belum memberikan keuntungan yang jelas.

2.      Tumor Associated Antigen
Ada 2 jenis antigen tumor yaitu TSTA dan TATA. Yang pertama tidak ditemukan pada sel normal, dapat timbul oleh mutasi sel tumor yang memproduksi protein sel yang berubah. Proses protein terjadi dalam sitosol dan menghasilkan peptida yang diikat MHC-1 dan menginduksi CTL yang tumor spesifik.
TATA tidak unik untuk tumor, dapat merupakan protein yang diekspresikan oleh sel normal selama perkembangan fetal waktu sistem imun masih imatur dan dan tidak dapat memberikan respons. Pada keadaan normal tidak diekspresikan pada dewasa. Pada banyak hal, tumor tidak menunjukkan antigen unik yang dapat dikenal limfosit untuk diproses sebagai antigen. Tumor dapat dikenal sebagai sistem imun atas dasar perubahan kuantitatif dalam ekspresi profil proteinnya. Antigen tersebut tidak tumor spesifik, disebut TAA.
a)      Antigen onkofetal adalah contoh TAA. Antigen tersebut disandi oleh gen yang diekspresikan selama embryogenesis dan perkembangan janin, namun transkripsional tenang pada dewasa. Gen tersebut menjadi protein yang diduga berperan dalam pertumbuhan cepat sel embrio dan diaktifkan kembali untuk fungsi yang sama pada tumor yang tumbuh cepat. Golongan antigen onkofetal diekspresikan testis normal, dikenal sebagai antigen tumor testis, paru, kepala, leher, dan kandung kencing. Dewasa ini dikensl lebih dari 50 jenis TAA dan banyak epitop yang sudah dapat diidentifikasikan sel T.
b)      Jenis TAA lain adalah tissue-specific dan ekspresinya ditemukan terus sesudah transformasi neoplastik. Jadi antigen tersebut menunjukkan asal jaringan tumor.
·         Melanoma differentiating antigen gp 100
·         Gen tersebut menjadi protein yang berfungsi dalam jalur biosintesis melanin sel kulit dan juga diekspresikan oleh banyak tumor melanoma dengan pigmen.
·         PSA diekspresikan jaringan prostat normal dan dengan tumor.
·         Carcinoembryonic Antigen
·         CEA yang dapat dilepas ke dalam sirkulasi, ditemukan dalam serum penderita dengan berbagai neoplasma. Kadar CEA yang meningkat ( diatas 2,5 mg/ml ) ditemukan dalam sirkulasi penderita tumor kolon, tumor pancreas, beberapa jenis tumor paru, tumor payudara dan lambung. CEA telah pula ditemukan dalam darah penderita nonneoplastik seperti emfisema, colitis ulseratif, prankreatitis, peminum alkohaol dan perokok.
·         AFP ditemukan dengan kadar tinggi dalam serum fetus normal, eritroblastoma testis dan hepatoma.









E.      Respons Imun Terhadap Tumor
Imunitas tumor ialah proteksi sistem imun terhadap timbulnya tumor. Meskipun adanya  respon imun alamiah terhadap tumor yang dapat dibuktikan, namun imunitas sejati dapat terjadi pada subset tumor yang mengekspresikan antigen imunogenik, misalnya tumor yang  di induksi virus onkogenik yang mengekspresikan antigen virus. Berbagai jenis virus yang dilaporkan menunjukkan hubungan dengan tumor.

A.     Imunitas Humoral
Melalui cara sebagai berikut:
1.      lisis oleh antibodi dan komplemen
2.      opsonisasi melalui antibodi dan  komplemen
3.      hilangnya adhesi oleh antibodi
Meskipun imunitas selular ada tumor lebih banyak berperan dibanfing imunitas humoral, tapi tubuh membentuk juga antibody terhadap antigen tumor. Antibody tersebut ternyata dapat menghancurkan sel tumor secara langsung atau dengan bantuan komplemen atau melalui sel efektor ADCC. Yang terakhir reseptor Fc misalnya sel NK dan makrofag (opsonisasi) atau dengan jalan memcegah adhesi sel tumor. Pada penderita tumor sering ditemukan kompleks imun, tetapi pada kebanyakan tumor sifatnya masih belum jelas. Antibody diduga lebih berperan terhadap sel yang bebas (leukemia, metastase tumor) disbanding tumor padat. Hal tersebut mungkin disebabkan karena antibody membentuk kompleks imun yang mencegah sitotoksisitas sel T.

B.      Imunitas selular
Pada pemeriksaan patologi anantomi tumor, sering ditemukan infiltrate sel-sel yang terdiri atas sel fagosit mononuclear , limfosit, sedikit sel plasma dan sel mast. Meskipun pada beberapa neuplasma, infiltrate sel mononuclear merupakan indicator untuk prognosis yang baik, tetapi pada umumnya tidak ada hubungan antara infiltrasi sel dengan prognosis. Sistem imun dapat langsung menghancurkan sel tumor tanpa sensitasi sebelumnya.
Limfosit matang akan mengenal TAA  dalam pejamu, meskipun TAA merupakan self-protein yang disandi gen normal. Adanya limfosit yang self-raktif nampaknya berlawanan dengan self-toleran. Bila sel B dan T menjadi matang dalam sumsum tulang dan timus, limfosit yang terpajan dan berikatan dengan self-antigen akan mengalami apoptosis . namun banyak yang self-antigen tidak di ekspresikan dalam sumsum tulang dan timus. Oleh karena deletion sentral tidak lengkap dan limfosit sel reaktif yang mengenal antigen tidak di ekspresikan dalam sumsum tulang atau timus, maka sistem imun biasanya tidak responsive terhadap antigen oleh karena ada dalam keadaan energy. Mengapa sel autoreaktif dipertahankan dalam keadaan inaktif tidaklah jelas. Diduga limfosit anergik tidak memberikan respon terhadap self-antigen dengan kadar yang di ekspresikan pada keadaan normal oleh sel sehat, namun responsive terhadap peningkatan ekspresif antigen pada sel tumor.

1.      Cytolytic Thymus-Dependent  Lymphocytes (Ctls) = Cytotoxic T Cells
Banyak studi menunjukkan bahwa tumor yang mengekspresikan antigen unik dapat memacu CTL/Tc spesifik yang dapat menghancurkan tumor. CTL biasanya mengenal peptide asal TSA yang diikat MHC-I. CTL  tidak selalu efisien, disamping respon CTL tidak selalu terjadi pada tumor.
CTLs, dapat membunuh tumor setelah dipresentasikan oleh MHC kelas I. sebagai sel-sel efektor utama dalam penolakan tumor cangkok dan tumor-tumor yang disebabkan oleh DNA virus. CTLs dapat membunuh sel-sel target melalui 2 pathway :
1.   Pathway pertama, yang melibatkan sekresi protein dan protease  serin alami       yang keduanya ada dalam granula unik pada  CTLs
2.  Pathway  kedua, memerlukan cross-linked ligands permukaan  pada  CTLs             dengan reseptor  permukaan spesifik pada sel-sel tumor untuk merangsang        apoptosis sel-sel tumor (program kematian sel).
   
2.      Sel NK
Sel NK adalah limfosit sitotoksik yang mengenal sel sasaran yang tidak antigen spesifik dan juga tidak MHC dependen. Diduga bahwa fungsi terpenting sel NK adalah anti tumor. Sel NK mengekspresikan FcR yang dapat mengikat sel tumor yang dilapisi antibody dan dapat membunuh sel sasaran melalui ADCC dan pengelepasan protease, perforin, dan granzim. Sel-sel NK dapat membunuh sel-sel tumor tanpa mensintesa sebelumnya Antigen spesifik, aktivitas-nya tidak memerlukan adanya MHC kelas I pada sel-sel target. Diperkirakan sel-sel NK ambil bagian dalam pengawasan tumor yang mulai timbul dan juga terhadap pertumbuhan metastatik tumor. NK, berkembang dalam bone marrow, kemudian diperoleh dalam peripheral blood, sel pit (sinusoid liver)dan sinusoid limpa . Dapat mensekresi interferon gamma, dan  secara spontan membunuh sel yang diinfeksi virus dan sel-sel tumor. Mempunyai reseptor yang berikatan dengan bagian dari molekul IgG. Saat berikatan, sel-sel NK memasukkan suatu protein ke sel target, menyebabkan sel target membengkak dan pecah.

Aktivasi Sel NK dan ADCC

3.      Makrofag
Memiliki enzim dengan   fungsi sitotoksik dan melepas mediator oksidatif seperti superoksik dan oksida nitrit. Makrofag juga melepas TNF-α yang mengawali apoktosis. Diduga makrofag mengenal sel tumor melalui IgG-R yang mengikat antigen tumor. Makrofag dapat memakan dan mencerna sel tumor dan mempresentasikannya ke sel CD4+. Jadi makrofag dapat berfungsi sebagai inisiator dan efektor imun terhadap tumor.

Lebih jelasnya, berikut penjelasan reaksi imunologi tubuh terhadap tumor:
Oleh karena sel-sel tumor mempunyai antigen baru yang oleh mesin imunologik dianggap bukan sebagai "self" antigen, maka lambat laun akan terjadi suatu proses terbentuknya suatu reaksi imun terhadapnya. Pada prinsipnya reaksi imun itu dapat dibagi atas dua bagian, yaitu pertama, dengan jalan terbentuknya suatu molekul imunoglobulin yang mempunyai daya antibodi yang spesifik terhadap TSTA, dan kedua, dengan jalan terbentuknya sel-sel limfosit yang sensitif terhadap antigen itu. Dengan lain perkataan, didalam tubuh dapat terjadi dua macam reaksi imunologik, yang satu dibawakan oleh system humoral dan yang lainnya dibawakan oleh system sel.
Agar respons imun dapat dimulai, maka antigen harus dilepaskan terlebih dahulu oleh sel-sel tumor dan dengan aliran darah atau limfe, akhirnya sampai kedalam limfonodus dan/atau limpa. Didalam organ-organ tersebut, antigen itu akan diproses oleh sel-sel makrofag agar selanjutnya dapat bereaksi dengan sel-sel limfosit. Sel ini, yang umumnya berasal atau berada dibawah pengaruh sumsum tulang, dikenal sebagai sel limfosit-B (dari "Bone Marrow"), dan setelah mengadakan kontak dengan antigen tersebut lambat laun sel ini akan berkembang dan mengalami proses diferensiasi. Sel limfosit tersebut akhirnya akan menjadi sel yang matang dan siap untuk mensintesa molekul imunoglobulin, yaitu suatu molekul yang 'mempunyai daya antibodi yang spesifik; dalam hal ini, spesifik terhadap antigen sel tumor tadi. Antibodi-antibodi yang dibentuk ternyata dapat mempunyai beberapa aktifitas; dan dari sekian banyak antibodi, yang mempunyai hubungan dengan pasang-surutnya pertumbuhan tumor hanya ada dua macam, yaitu "cytotoxic antibody" dan "enhancement antibody". Antibodi yang pertama ini dapat mengaktifkan sistem komplemen didalam peredaran darah. Biasanya antibodi ini termasuk kelas IgG yang mempunyai sifat dapat mengikat sistem komplemen tadi. Selanjutnya secara proses yang bertingkat, maka seluruh komponen didalam sistem komplemen itu diaktifkan sehingga dapat berfungsi, yaitu dengan jalan melakukan pengrusakan pada membran sel tumor.
Pada "enhancement antibody" keadaan yang sebaliknya akan ditemukan; dalam hal ini, justru dengan adanya antibodi tersebut, sel-sel tumor dapat tumbuh dengan baik. Agaknya antibodi ini memperlihatkan suatu daya "blocking efect" terhadap serangan imunologik yang dibawakan oleh sistem sel. Hal ini disebabkan karena antibodi tersebut ternyata hanya bereaksi dengan TSTA akan tetapi tidak mengaktifkan system komplemen. Dengan terjadinya reaksi antara antigen dan antibodi itu, maka antigenik determinan pada TSTA justru akan terlindung terhadap serangan sel-sel imun.
Antigen-antigen tumor selain mengadakan kontak dengan sel-sel Iimfosit-B, juga dapat merangsang sel-sel yang berasal atau berada dibawah pengaruh kelenjar timus; sel seperti ini disebut sel-sel Iimfosit-T (dari "Thymus"). Sel tersebut bila telah mengadakan kontak dengan antigenik determinan sel tumor, segera akan berkembang dan melakukan diferensiasi sehingga menjadi suatu sel limfosit yang peka atau sensitif. Nanti bila ada rangsangan antigen yang serupa untuk kedua kalinya, sel tersebut akan segera bereaksi dengan jalan mengeluarkan suatu zat yang disebut "Iymphokine". Zat ini mempunyai daya merangsang sel-sel fagosit diseluruh tubuh; selain sel-sel tersebut akan memperbayak diri dan mengadakan migrasi ketempat terjadinya tumor, juga dapat mengakibatkan sel-sel itu melakukan penyerangan secara fagositosis.
Pengrusakan jaringan oleh sistem sel ternyata lebih bermanfaat dan hebat daripada sistem humoral. Adanya proses imun yang dibawakan oleh system sel ini, dapat dibuktikan pada binatang percobaan, yaitu dengan jalan memindahkan sel-sel limfosit yang peka dari hewan yang imun ke hewan yang tidak imun. Hewan yang menerima sel tersebut segera akan memperlihatkan suatu reaksi imunologik. Pada hewan-hewan yang telah dilakukan suatu timektomi atau pada penderita yang mempunyai kelainan pada kelenjar timusnya, tidak akan memperlihatkan suatu reaksi imun sel; dan biasanya pada hewan atau penderita semacam itu akan lebih mudah terjangkit tumor.
sel B

sel T
pagosit

Peran respon imun dalam menangkal tumor
Sel tumor kebanyakan terbentuk pada keadaan system imun tersupresi, ketika tidak ada respon imun sel T, sel tumor yang seringkali muncul pada keadaan tersebut adalah lymphoproliferative.
Efektivitas respon imun dalam melawan sel tumor
1.      Sel tumor berada pada situs daerah istimewa
Mata dan jaringan dari nervous system adalah bagian dari situs istimewa yang kemudian keberadaan sel tumor ini akan hancur oleh respon system imun.
2.      Modulasi antigen dari antien tumor
Respon imun akan merusak seluruh antigen sel tumor.
3.      Kehadiran dari “blocking” factor
Proses penghancuran sel tumor oleh komponen dari system imun merupakan blockade sel tumor tersebut dari sirkulasi atau perputaran sel tumor dalam tubuh.
4.      Supresor T limfosit
Antigen spesifik supresor sel T berperan dalam regulasi system imun.
5.      Imun supresi oleh sel tumor
Sel tumor memproduksi prostaglandin, yang dapat mengurangi sensitivitas respon imun.
6.      Pertumbuhan pesat dari sel tumor
Respon imun dan komponen-komponenya mempunyai keterbatasan dalam menghancurkan sel tumor, hal ini dapat terjadi pada saat system imun sdang lemah atau sel tumor dan mekanisme pertumbuhannya dapat”mengelabui” system imun.

F.       Usaha Tumor Menghindari Sistem Imun
Kemampuan sistem imun dalam mendeteksi dan menghancurkan sel tumor disebut immune surveillance.
Tumor dapat mengelabui sistem imun dengan berbagai macam cara
1.      Tumor dapat memiliki imunogenitas yang rendah, beberapa tumor tidak memiliki peptide atau protein lain yang dapat ditampilkan oleh molekul MHC, oleh karena itu sistem imun tidak melihat ada sesuatu yang abnormal. Sel tumor lain tidak memiliki satu atau lebih molekul MHC, dan kebanyakan tidak mengekspresikan co-stimulatory protein yang dibutuhkan untuk dapat mengaktivasi sel T.
2.      Beberapa sel tumor memproduksi faktor-faktor seperti TGF-β yang dapat secara langsung menghambat aktivitas sel T.

Didalam tubuh manusia atau hewan, sebenarnya terdapat dua proses yang saling bertentangan, yaitu proses pertumbuhan tumor dan proses penolakan tumor oleh sistem imunologik tubuh. Sebenarnya hal ini dapat diumpamakan sebagai suatu timbangan yang terdiri daripada kedua proses tersebut, proses yang satu disebelah kanan dan lainnya disebelah kiri. Jadi bila anak timbangan lebih berat pada reaksi imunologiknya, maka tumor tidak akan tumbuh, dan sebaliknya, bila anak timbangan lebih berat pada pertumbuhan tumor, maka tumor tersebut akan lebih leluasa dan cepat tumbuhnya.
Perubahan-perubahan pada respons imun atau keadaan-keadaan yang mengakibatkan lumpuhnya reaksi imunologik sehingga menyebabkan suatu tumor dapat tumbuh tanpa mendapat suatu gangguan, dapat disebabkan oleh beberapa faktor atau hal, yaitu antara Iain,
1.      Umur
Umur sangat mempengaruhi kematangan system mimun respons didalam tubuh. Pada umur yang muda hingga dewasa, kapasitas imunitas akan mencapai puncaknya dan lambat laun akan menurun terutama pada usia yang agak lanjut.
2.      Genetika
Bila ada kelainan-kelainan genetika, terutama yang menyerang mesin imunologik dan komponen- komponen imun sel dan humoral, dapat mengakibatkan fungsi imunologik yang abnormal pula.
3.      Defisiensi imunologik
Terjadinya kekurangan pada faktor-faktor imunologik, sehingga reaksi kekebalan tidak sempurna. Pada keadaan-keadaan seperti hipogamaglobulinemia, ataksi-telangiektasia dan lain-lain, akan ditemukan frekwensi tumor yang lebih tinggi daripada orang-orang yang normal.
4.      lmunosupresif
Bila sistem imunologik tertekan, umpamanya disebabkan oleh obat-obatan (azathioprine, 6- mercaptopurine dll), radiasi atau serum antilimfosit, maka akan mengakibatkan suatu kelainan dalam daya tangkap terhadap rangsangan anti gen.
5.      Toleransi
Antigen-antigen yang spesifik seperti pada permukaan sel tumor, kadang-kadang sangat lemah, sehingga tidak cukup untuk dapat merangsang sistem respons imun. Antigen-antigen yang lemah ini terutama ditemukan pada tumor-tumor yang disebabkan oleh virus-virus yang mempunyai periode laten yang panjang, sedangkan virus-virus dengan periode laten yang pendek, keantigenannya kuat sekali.
6.      "Blocking efect"
Hal ini telah diterangkan diatas, yaitu adanya antibodi yang justru melindungi TSTA dari serangan sel-sel limfosit.






G.     Keganasan Sistem Imun
1.      Penyakit limfoproliferatif
Kelainan limfoproliferatif yaitu lekemia limfoid dan limfoma maligna merupakan keganasan sel limfoid yang terjadi pada tahap diferensiasi yang berbeda. Tumor sistem imun dapat dibagi menjadi limfoma atau leukemia. Limfoma adalah kanker yang berasal dari jaringan limfoid mencakup system limfatik dan imunitas tubuh. Tumor ini bersifat heterogen, ditandai dengan kelainan umum yaitu pembesaran kelenjar limfe diikuti splenomegali, hepatomegali dan kelainan sumsum tulang. Tumor ini dapat juga dijumpai ekstra nodul yaitu diluar system limfatik dan imunitas antara lain pada traktus digestivus, paru, kulit dan organ lain. Perbedaannya dengan leukemia, limfoma berproliferasi sebagai tumor padat dalam jaringan limfoid seperti sumsum tulang, KGB dan timus. Sedangkan leukemia  cenderung berproliferasi sebagai sel tunggal dan ditemukan dari peningkatan jumlah sel dalam darah atau kelenjar limfe. Leukemia dapat berkembang dalam jaringan limfoid atau myeloid. Pada lomfoma sel abnormal hanya ditemukan dalam jaringan (kelenjer limfoid dan limfa). Namun pada beberapa kasus kurang adekuat membedakan keduanya.
a.       Limfoma Hodgkin
Penyakit  Hodgkin  adalah  keganasan  system  limforetikuler  dan  jaringan pendukungnya yang sering menyerang kelenjar getah bening dan disertai gambaran histopatologi yang khas. Ciri histopatologis yang dianggap khas adalah adanya sel Reed –Steinberg atau variannya yang disebut sel Hodgkin dan gambaran pleimorfik kelenjar getah bening
Klasifikasi
Tipe utama
Sub-tipe
Frekuensi
Bentuk lymphocyte predominance (LP)
Nodular
Difus
}5%
Bentuk nodular sclerosis (NS)
70-80%
Bentuk Mixed Cellulating (MC)
10-20%
Bentuk Lymphocyte Depletion (LD)
Reticular
Fibrosis difus
}1%
b.      Limfoma non Hodgkin’s
Adalah kanker yang berasal dari sistem limfatik, disease ini melewati jaringan dan menyebar ke seluruh tubuh. Pada non Hodgkin’s limfoma, tumor berkembang dari sel darah putih. Tumor ini dapat tumbuh dari tempat yang berbeda-beda di tubuh. Hodgkin adalah suatu keganasan primer jaringan limfoid yang bersifat padat.
Non Hodgkin’s limfoma terjadi tujuh kali lebih sering dibanding dengan limfoma tipe lain. Limfoma malignum non Hodgkin atau limfoma non Lebih dari 45.000 pasien didiagnosis sebagai limfoma non Hodgkin (LNH) setiap tahun di Amerika Serikat. Limfoma non Hodgkin, khususnya limfoma susunan saraf pusat biasa ditemukan pada pasien dengan keadaan defisiensi imun dan yang mendapat obat-obat imunosupresif, seperti pada pasien dengan transplantasi ginjal dan jantung.
c.       limfoma angioimunoblastik
Sering ditemukan adanya anemia hemolitik autoimun dan hipergamaglobulinema. Histology kelenjar limfoid menunjukkan adanya infiltrate campuran limfoid dengan pembentukan pembuluh darah kecil.
d.      Limfoma/leukemia sel T dewasa
Leukemia jenis ini sering ditemukan di karibia dan Jepang. Ditimbulkan oleh virus HTCL tipe 1 yang ditandai dengan proliferasi CD4 yang aktif mengekspresikan CD25.
e.      Leukemia limfositik kronis
Tes diagnostic dilakukan dengan phonetyping limfosit. Pada 95% kasus ditemukan sel yang berasal dari sel B (B-CLL). Sel tersebut menunjukkan ekspresi CD5 yaang biasa ditemukan pada antigen panT (CD19+, CD5+). Beberapa sel tersebut juga ditemukan pada neonates dan beberapa penyakit autoimun.
f.        Hairy cell leukaemia (HCL)
HCL merupakan penyakit limfoproliferatif sel B yang lain yang cendrung ditemukan pada usia lanjut. Lebih banyak ditemukan pada pria daripada wanita. Sering ditemukan pansitopeia dan sel limfoid dengan penampilan “hairy” yang ditimbulkan oleh proyeksi sitoplasma halus yang banyak. Fibrosis sumsum tulang dapat terjadi dan limfosit menunjukkan ekspresi molekul adhesi CD11c yang anormal.
g.       Common acute lymphoblastic leukemia
Call berasal dari sel B yang berkembang menjadi sel plasma dan sangat agresif. Tanpa terapa, c ALL dapat menimbulkan kematian dalam beberapa minggu setelah diagnosis ditegakkan. Myeloma berasal dari sel plasma matang, tumbuh perlahan, meepas immunoglobulin monoclonal dan penderita dapat hidup bertahun-tahun tanpa terapi.
h.      Mikosis fungoides
Mikosis fungoides merupakan limfona sel T  kulit yang khas mengenai pria usia pertengahan. Sela ganas adalah sel T CD4 dengan nucleus yang menunjukkan gambaran yang tidak normal. Meskipun definisi mikosis fungoides terbatas pada kulit namun dapat menjadi sistemik yang ditandai dengan limfadenooati, splenomegali, dan leukemia yang disebut sindrom sezary.
i.        Myeloma multiple
Myeloma multiple (MM) ditemukan terutama pada usia diatas 70 tahun, lebih banyak daripada pria disbanding wanita. Dalam serum ditemukan paraprotein yaitu suatu immunoglobulin abnormal yang diproduksi klon sel B yang ganas. Myeloma igG merupakan yang terbanyak (37%), igA (27%), igD (1,5%), igM (0,2%), dan igE (0,1%).
j.        Gamotapi monoclonal
Gamotapi monoclonal adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan paraprotein yang tidak memilki cirri paraprotein yang ganas. Diduga bahwa stimulasi imun menimbulkan proliferasi selektif klon sel B.
k.       Makroglobulinemia waldenstrom
Merupakan suatu penyakit yang umumnya terjadi pada usia sangat lanjut, yaitu diatas 80-90 tahun. Namun kini mulai banyak ditemukan pada usia yang lebih muda. Penyakit ini ditandai dengan perkembangan paraprotein igM.
l.        Krioproteinemia
Krioprotein (termasuk kriogglobulin dan fibrinogen) merupakan serum protein abnormal yang akan diendapkan pada suhu dibawah normal. Protein ini selanjutnya akan membentuk kompleks imun dan secara parsial mengktifkan jalur komplemen klasik. Kadar C4 serum yang rendah disertai C3 normal merupakan temuan yang khas pada krioproteinemia, yang terjadi sebagai akibat aktifasi jalur klasik yang tidak sempurna pada fase cair.

2.      Keganasan Yang Disebabkan Virus
Virus herpes dan virus retro menginfeksi sel tanpa menimbulkan sitolisis atau membunuhnya. Virus dapat memacu pertumbuhan sel terinfeksi yang tidak terkontrol. EBV dapat menimbulkan infeksi mononucleosis/glandular fever, limfona dan karsinoma nasofaringeal, limfona yang dipacu EBV sering terjadi pada penderita dengan imunodefisiensi dan daerah malaria. EBV memproduksi protein yang merangsang pertumbuhan sel terinfeksi tidak terkontrol dan mencegah apoptosis.
Infeksi virus lainnya seperti virus herpes 8 (HV8) dapat menimbukkan sarcoma Kaposi pada individu dengan imunodefisiensi.  Keganasan sel T jarang terjadi. Bila terjadi sering disebabkan virus T limfotropik (HLC1), suatu retrovirus yang menyandi protein tax dan menunjukkan efek serupa dengan IL-2 (factor pertumbuhan sel T). HLV1 jarang terjadi dinegara berkembang.
H.     Imunodiagnosis
Dapat dilakukan dengan tujuan:
1.      Menemukan Ag spesifik terhadap sel tumor.
2.      Mengukur RI pejamu terhadap sel tumor.
Sel tumor dapat ditemukan dalam sitoplasma. Ciri-ciri suatu tumor dapat ditentikan dari sitopasma permukaan sel atau produk yang dihasilkan atau dilepasnya yang berbeda baik dalam sifat maupun dalam jumlah disbanding orang normal.
Pertanda tumor mempunyai sifat antigen yang lemah. Adanya antibody monoklonal telah banyak membantu dalam imunodiagnosis sel tumor dan produknya. Sampai sekarang, imunodiagnosis tumor belum dapat dipraktekkan untuk menemukan tumor dini, tetapi mempunyai arti penting di klinik dalam memantau progres atau regresi tumor tertentu.
Imunodiagnosis tumor
1.      Deteksi sel tumor dan produknya dengan cara imunologik
·         Protein mieloma Bence-Jones (misalnya tumor sel plasma)
·         Alfa Feto Protein (AFP pada kanker hati)
·         Antigen karsinoembrionik (CEA pada kanker gastrointestinal)
·         Deteksi antigen tumor spesifik (dalam sirkulasi atau dengan immunoimaging)

2.      Deteksi respons imun anti-tumor
·         Antibodi antitumor
·         CMI antitumor

Tumor Marker (Petanda Tumor)

Petanda tumor adalah suatu substansi yang dapat ditemukan dalam tubuh karena adanya kanker, biasanya ditemukan dalam darah atau urine, yang diproduksi langsung oleh sel-sel kanker atau tubuh sendiri sebagai respon terhadap adanya kanker atau kondisi lain. Mayoritas petanda tumor adalah protein.
Petanda tumor ini ada beberapa macam. Beberapa hanya terdapat dalam satu jenis kanker, lainnya bisa terdapat dalam beberapa jenis kanker. Marker ini didaatkan dengan memeriksa darah atau urine menggunakan antibodi manusia yang akan bereaksi dengan protein spesifik dari tumor tersebut.
Petanda tumor ini sangat berguna untuk skrining dan deteksi awal kanker. Skrining digunakan pada pasien sehat yang tidak memiliki keluhan maupun gejala klinis. Sedangkan deteksi awal berarti menemukan kanker pada stadium awal, sebelum penyebaran dan masih berespon baik terhadap pengobatan.
Manfaat kedua dari petanda tumor adalah membantu menentukan jenis kanker dan membantu diagnosis penyebaran tumor ketika tumor primer(asal)nya belum diketahui. Petanda tumor biasanya tidak digunakan untuk mendiagnosis kanker, pada banyak kasus, kanker hanya didiagnosis dengan biopsi. Petanda tumor juga dapat digunakan untuk menunjukkan agresivitas kanker seseorang atau seberapa baik responnya terhadap obat tertentu. Hal ini mengingat beberapa jenis kanker menyebar lebih cepat dibanding kanker yang lain.
Tumor marker juga digunakan untuk mendeteksi adanya kekambuhan (relaps) kanker setelah terapi. Beberapa wanita yang sudah mendapatkan terapi untuk tumor payudara selama bertahun-tahun, tetap harus melakukan pemeriksaan kadar Ca 15-3. Hal ini kadang dapat mendeteksi berulangnya kanker bahkan sebelum munculnya gejala klinis atau terbukti dari pemeriksaan MRI, pada kasus kanker colorectal, pemeriksaan CEA juga dapat mendeteksi kekambuhan. Dan yang paling penting dari manfaat petanda tumor adalah untuk monitoring erapi kanker, utamanya pada kanker stadium lanjut. Jika petanda tumor yang diperiksa spesifik dengan jenis kanker, akan sangat mudah untuk mengetahui rspon terapi daripada harus melakukan foto toraks ulang, CT scan, bone scan atau pemeriksaan lain yang relatif lebih mahal. Jika kadar petanda tumor menurun, hampir selalu merupakan indikasi keberhasilan terapi, begitu juga sebaliknya.
PETANDA TUMOR SPESIFIK
Alpha fetoprotein(AFP)
Sangat berguna untuk mengertahui responds terapi pada kanker hati ( Karsinoma Hepatoseluler ).Kadar normal AFP biasanya <20ng/ml. Kadar AFP akan meningkat pada dua dari tiga pasien dengan kanker hati, kadar AFP ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya ukuran tumor. Pada pasien dengan kanker hati, kadar AFP meningkat hingga >500ng/ml tapi perlu diwaspadai pula bahwa kadar AFP juga meningkat pada hepatitis akut dankronis tapi kadarnya jarang melebihi 100ng/ml. Kadar AFP juga meningkat pada kanker testis tertentu dan kanker ovarium tertentu meskipun jarang.
CA 15-3
Petanda tumor ini biasanya digunakan untuk monitoring kanker payudara. Peningkatan kadarnya dijumpai <10% pasien dengan stadium awal dan sekitar 70% pasien dengan stadium lanjut. Kadarnya akan turun seiring dengan berhasilnya pengobatan.
CA 125
Merupakan petanda tumor standar untuk monitoring selama atau setelah terapi kanker epitel ovarium yang merupakan jenis kanker epitel ovarium tersering. Lebih dari 90% wanita dengan kanker ovarium stadium lanjut memiliki kadar CA 125 yang tinggi.
CA 19-9
Sebenarnya petanda ini dikembangkan untuk kanker kolorectal, tapi ternyata lebih sensitif terhadap kanker pankreas. Kadar normal <37 U/ml, kadar yang tinggi pada awal diagnosis menunjukkan stadium lanjut dari kanker.
Carcinoembryonic antigen (CEA)
Petanda tumor untuk monitoring pasien dengan kanker kolorektal selama atau setelah terapi, tetapi tidak bisa dipakai untuk skrining atau diagnosis. Kadarnya bervariasi antar laboratorium, tapi kadar >5ng/ml dapat dikatakan abnormal.
Human chorionic gonadotropin (HCG)
Juga dikenal sebagai beta-HCG. Kadarnya meningkat pada pasien dengan beberapa jenis kanker testis dan ovarium dan kanker choriocarcinoma. Kadar HCG ini dapat membantu diagnosis, monitoring terapi juga mendeteksi berulangnya kanker pasca terapi.
Prostat-specific antigen (PSA)
Adalah petanda tumor untuk kanker prostat. Satu-satunya marker untuk skrining kanker jenis umum. Kadarnya meningkat pada kanker prostat dankadang-kadang pada Benign prostat hiperplasia (BPH). Kadar PSA < 4 ng/ml menunjukkan bukan kanker, kadar >10ng/ml mengindikasikan adanya kanker, sedangkan kadar 4-10 ng/ml merupakan daerah abu-abu dan biasanya perlu dilakukan biopsi atau diperiksakan free PSA, jika free PSA meningkat >25% dari total PSA kemungkinan besar tidak ada kanker prostat, tapi apabila kenaikan free PSA < 10%, kemungkinan terjadi kanker prostat lebih besar.



I.        Pendekatan Terapi Pada Tumor
Hingga sekarang didalam klinik telah ditemukan beberapa tumor yang dapat menghilang atau mengecil secara spontan tanpa diberi obat atau dioperasi. Hal ini telah terjadi, umpamanya pada tumor-tumor neuroblastoma, melanoma, adenokarsinoma, limfoma dan lain-lain. Mekanisme daripada daya pertahanan tubuh diduga memegang peranan penting dalam proses tersebut. Oleh karena pengalaman-pengalaman di klinik seperti itu dan juga bukti-bukti pada binatang percobaan, maka dipandang dari sudut ilmu kedokteran pencegahan, mungkin sekali dikemudian hari para ahli dapat membuat suatu vaksin tumor. Umpamanya imunisasi secara aktif dapat dilakukan dengan memberikan kumpulan-kumpulan daripada antigen yang spesifik tumor, sehingga selang beberapa waktu akan timbul suatu reaksi imunologik yang sewaktu-waktu siap untuk menyerang sel tumor yang sedang tumbuh. Disamping ini, maka kita dapat juga memberikan serum yang sudah mengandung antibodi yang spesifik terhadap sel tumor. Sayangnya untuk dapat melakukan kedua prosedur ini, imunisasi aktif dan pasif, masih terlalu banyak rintangannya. Yang pertama, kita masih dihadapkan kepada persoalan-persoalan dasar yang penting, yaitu antara lain, berapa dosis yang harus diberikan, bagaimana cara pemberian antigen, dalam bentuk apa antigen tersebut diberikan, bagaimana cara mendapatkan antigen yang murni dan lain-lain, yang kesemuanya memegang peranan dan tidak dapat diabaikan begitu saja bila kita hendak membentuk antibodi yang mempunyai sifat-sifat sitotoksis yang spesifik terhadap sel tumor. Yang kedua, yaitu kesulitan pada imunisasi secara pasif ialah pemberian protein asing yang sering menyebabkan reaksi hipersensitif; selain ini, kita juga harus mempersiapkan berbagai macam antibodi dengan spesifisitas yang tertentu.
Oleh karena daya penolakan terhadap tumbuhnya tumor lebih bermakna pada reaksi imun yang dibawakan oleh sistem sel, maka para sarjana telah memikirkan pula kemungkinan-kemungkinannya untuk membuat dan mempergunakan sel-sel limfosit yang sudah peka terhadap sel tumor, sehingga dapat diimunisasikan secara pasif kedalam tubuh penderita. Pada binatang percobaan, hal ini telah dapat dilakukan dan hasilnya sangat memuaskan. Untuk dapat dilakukan pada manusia, agaknya masih memerlukan hasil-hasil penyelidikan yang lebih teliti lagi. Disamping itu untuk mendapatkan sel-sel Iimfosit yang sudah sensitive spesifik terhadap sel tumor tertentu sangat sulit oleh karena sulitnya mendapatkan penderita dengan tumortumor tertentu serta dapat dijadikan donor.

Macam-macam terapi pada tumor
  1. Khemoterapeutika  sitostatika
menyebabkan pemusnahan atau perusakan sel tumor. Tidak spesifik, menyerang jaringan yang mempunyai laju pembelahan tinggi (sumsung tulang, kelenjar testes, mukosa usus, rambut)
2.      Operasi
Paling efektif dan cepat untuk tumor yang belum menyebar

3.      Terapi Radiasi
Merusak sel yang membelah dengan cepat.

4.      Khemoterapi
Digunakan secara oral atau injeksi dan dikombinasikan dengan terapi lainnya.

5.      Terapi Hormon
Terapi hormon diberikan untuk menghambat hormon tertentu yang mendukung pertumbuhan sel kanker
6.      Imunoterapi
Menggunakan sistem imun tubuh untuk menyerang sel kanker dan melindungi tubuh.
a)      Antibody monoclonal
Antibodi monoklonal adalah zat yang diproduksi oleh sel gabungan tipe tunggal yang memiliki kekhususan tambahan. Ini adalah komponen penting dari sistem kekebalan tubuh. Mereka dapat mengenali dan mengikat ke antigen yang spesifik. Pada teknologi antibodi monklonal, sel tumor yang dapat mereplikasi tanpa henti digabungkan dengan sel mamalia yang memproduksi antibodi. Hasil penggabungan sel ini adalah hybridoma, yang akan terus memproduksi antibodi. Antibodi monoklonal mengenali setiap determinan yang antigen (bagian dari makromolekul yang dikenali oleh sistem kekepalan tubuh / epitope). Mereka menyerang molekul targetnya dan mereka bisa memilah antara epitope yang sama. Selain sangat spesifik, mereka memberikan landasan untuk perlindungan melawan patogen. Antibodi monoklonal sekarang telah digunakan untuk banyak masalah diagnostik seperti : mengidentifikasi agen infeksi, mengidentifikasi tumor, antigen dan antibodi auto, mengukur protein dan level drug pada serum, mengenali darah dan jaringan, mengidentifikasi sel spesifik yang terlibat dalam respon kekebalan dan mengidentifikasi serta mengkuantifikasi hormon.

b)      Manipulasi sinyal kostimulator untuk meningkatkan imunitas
Imunitas tumor dapat ditingkatkan dengan memberikan sinyal kostimulator yang diperlukan untuk mengaktifkan precursor CTL. Oleh karena antigen melanoma memiliki sejumalah berbgai tumor, diduga dapat dibuat panel cell line melanoma B7 yang ditranfeksi untuk ekspresi antigen tumor dan HLA . Antigen  tumor yang diekspresikan tumor penderita dapat ditentukan, selanjutnya penderita dapat divaksinasi dengan cell line B7 yang ditranfeksi dan diradiasi yang mengekspresikan antigen tumor yang sama.

c)      Imunotoksin
Imunoterapi dengan mAb terhadapa TAA telah dicoba bersama toksin yang dapat mencegah proses seluler atau bersama radioisotp yang membantu menbunuh DNA dan melepas partikel dengan energy tinggi. Namun dosis yang diperlukan tinggi dan toksik untuk sumsum tulang. Cara pemberian antibody ini belum berhasil.

d)      Sitokin
Dapat meningkatkan respon imun terhadap tumor. Isolasi dan mengklon berbagai gen sitokin dapat menghasilkan sitokin dalam jumlah besar. Kesulitan dalam terapi sitokin ini adalah jaring sitokin yang sangat kompleks yang sangat menyulitkan untuk mengetahui letak intervensinya yang tepat.

e)      Peningkatan aktivitas APC
Dapat memodulasi imunitas tumor. Sejumlah ajuvan seperti M.Bovis (BCG) dan K. Parvum digunakan alam booster imunitas tumor yang meningkatkan aktivasi makrofag, ekspresi berbagai sitokin, molekul MHC-II, dan molekul konstimulator B7. Makrofag yang diaktifkan merupakan activator Th yang lebih baik sehingga secara keseluruhan meningkatkan respon humoral dan seluler.

f)       Vaksinasi dengan SD
Beberapa sel dendritik imatur dapat memfagositosis antigen lebih efektif disbanding sel dendritik matang. Pemberian sel imatur tersebut akan dapat meninduksi respon anti tumor CTL yang lebih baik. Pemberian SD yang ditransfeksi dengan RNA asal sel tumor dapat menginduksi ekspansi sel T tumor spesifik. Cara alernatif menggunakan monosit CD4+ dari darah perifer yang menghasilkan SD atas pengaruh GM-CSF dan IL-4.

g)      Imunoterapi aktif
Telah digunakan dalam usaha mencegah anergi sel T. anergi terjadi bila antigen tumor dipresentasikan ke sel T tanpa bantuan molekul kostimulator.jalan mudah untuk melakukan  hal itu ialah dengan menginfuskan sitokin.

h)      Imunisasi dengan antigen virus
Imunisasi ini berdasarkan atas adanya beberapa jenis tumor yang ditimbulkan virus onkogenik.

7.      Lymphokine active killer cells
CTC/Tc dapat diaktifkan di luar tubuh dan kemudian diinfuskan kembali dengan atau tanpa IL-2. Limfosit perifer dibiakkan dengan IL-2 untuk memperoleh sel LAK sitotoksis yang diaktifkan. Sel tersebut tidak lain adalah sel NK, jadi tidak mempunyai spesifisitas sel T, tetapi hanya bereaksi dan membunuh sel tumor saja yang tidak atau sedikit mengeskpresikan MHC-1. Cara tersebut menunjukkan toksisitas yang bermakna.

8.      Tumor infiltrating lymphocyte
Pada pemeriksaan histology tumor padat ditemukan infiltrasi sel. TIL tersebut terutama terdiri atas makrofag dan limfosit yangberupa sel NK dan CTL. Seperti halnya dengan LAK, TIL diperoleh dari penderita dengan tumor,  diaktifkan denga IL-2. TIL adalah limfosit CD8+ yang diperoleh dari tumor penderita yang beberapa diantaranya spesifik untuk tumor. Cara yang juga menginfuskan kembali ke penderita dengan atau tanpa IL-2 ini menunjukkan toksisitas yang berarti.

9.      Macrophage activated killer cells
Pendekatan lain yaitu menggunakan sitokin dan makrofag yang diaktifkan. Monosit diisolasi dari arah perifer penderita dengan tumor, dibiakan in vitro denga sitokin (IFN_γ) yang mengaktifkan sel dan meningkatkan sitotoksitas sebelum diinfuskan kembali ke penderita. Meskipun sel yang diperoleh sangat sitotoksik dan fagositik, namun nonspesifik.

10.  Terapi gen
Terapi gen ditunjukkan untuk melokasikan sitokin ke tempat yang diperlukkan. Bila sitokin hanya ditujukkan ke tempat tumor, akan mengurangi efek samping sistemik. Cara ini dilakukan dengan mengangkat sel tumor lalu dilakukan transfeksi dengan gen sitokin,. Bila sel tersebut diinfuskan kembali sel tumor tersebut akan mensekresi sitokin seperti IL-2 atau IFN-γ, sehingga dapat menngaktifkan sel T. bila sel T sudah memberikan espon terhadap transfected cell dan menjadi sel memori akan mempunyai kemampuan membunuh sel untuk waktu yang lama. Sampai sekarang cara itu belum menunjukkan hasil efektif, baik yang diberikan sendiri atau yang diberikan bersamaan dengan kemoterapi, radioterapi atau operasi.

11.  Kombinasi dari metoda-metoda diatas






BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Telah diuraikan hubungan antara perkembangan dan menghilangnya suatu tumor dengan reaksi imunologik didalam tubuh. Ada dua macam respons imun yang memegang peranan dalam proses ini, yaitu system imun yang dibawakan oleh humoral dan sistem imun yang dibawakan oleh sel. Umumnya yang lebih berpotensi dalam menghancurkan tumor ialah system imun sel. Pada sistem imun humoral, ditemukan dua macam antibodi, yaitu yang bersifat menghancurkan sel tumor, terutama bila sistem komplemen telah diaktifkan, dan yang kedua, suatu antibodi yang justru melindungi tumor terhadap serangan reaksi imun sel. Reaksi imun sel dan humoral biasanya dibentuk terhadap antigen yang terletak pada permukaan sel tumor; antigen tersebut merupakan antigen yang baru serta spesifik terhadap virus penyebab tumor itu. Oleh karena daya penolakan sel tumor secara imunologik telah banyak dibuktikan pada binatang percobaan, maka telah diuraikan pula beberapa kemungkinan untuk mempergunakan metode imunologik sebagai terapi antitumor.

B.      Saran
Dari semua penelitian yang ada, dapat disimpulkan bahwa sistim imun atau kekebalan tubuh kita adalah sangat penting untuk dijaga, tanpa sistim imun tubuh kita akan terserang berbagai macam penyakit.





DAFTAR PUSTAKA

Anonim. “Immune vs tumor” http://4lifetransferfactorsindonesia.com/ diakses tanggal 19 November 2010
Baratawidjaja, Karnen. 2006. Imunologi Dasar Edisi ke-7. Jakarta: FKUI
Halim, Binarwan. “Imunologi Tumor”  http://www.kalbe.co.id/ diakses tanggal 19 November 2010
Oehadian, Amaylia. “Dasar-dasar biologik kelainan limfoproliferatif” http://pustaka unpad.ac.id/ diakses tanggal 20 November 2010
Roit, Ivan. 1990. Pokok-pokok Ilmu Kekebalan. Jakarta:Gramedia
Tjokronegoro, Arjatmo. “Imunologi Tumor” http://www.kalbe.co.id/ diakses tanggal 19 November 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!