Senin, 12 Maret 2012

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dicirikan dengan tingkat gangguan perhatian, impulsivitas dan hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan dan gangguan ini dapat terjadi disekolah maupun di rumah (Isaac, 2005). Pada kira-kira sepertiga kasus, gejala-gejala menetap sampai dengan masa dewasa (Townsend, 1998). ADHD adalah salah satu alas an dan masalah kanak-kanak uyang paling umum mengapa anak-anak dibawa untuk diperiksa oleh para professional kesehatan mental. Konsensus oendapat professional menyatakan bahwa kira-kira 305% atau sekitar 2 juta anak-anak usia sekolah mengidap ADHD (Martin, 1998).
Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa 5% dari populasi usia sekolah sampai tingkat tertentu dipengaruhi oleh ADHD, yaitu sekitar 1 % sangat hiperaktif. Sekitar 30-40% dari semua anak-anak yang diacu untuk mendapatkan bantuan professional karena masalah perilaku, datang dengan keluhan yang berkaitan dengan ADHD (Baihaqi dan Sugiarmin, 2006). Di beberapa negara lain, penderita ADHD jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia. Literatur mencatat, jumlah anak hiperaktif di beberapa negara 1:1 juta. Sedangkan di Amerika Serikat jumlah anak hiperaktif 1:50. Jumlah ini cukup fantastis karena bila dihitung dari 300 anak yang ada, 15 di antaranya menderita hiperaktif. "Untuk Indonesia sendiri belum diketahui jumlah pastinya. Namun, anak hiperaktif cenderung meningkat.

B.     TUJUAN
1.      Menjelaskan defenisi ADHD
2.      Menjelaskan faktor predisposisi ADHD
3.      Menjelaskan faktor presipitasi ADHD
4.      Menjelaskan psikodinamika ADHD
5.      Menjelaskan patopsikologi ADHD
6.      Menjelaskan tanda khas ADHD
7.      Menjelaskan intervensi ADHD

BAB II
PEMBAHASAN

1.      DEFENISI
 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah kelainan hiperaktivitas kurang perhatian yang sering ditampakan sebelum usia 4 tahun dan dikarakarakteriskan oleh ketidaktepatan perkembangan tidak perhatian, impulsive dan hiperaktif (Townsend, 1998). ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder, suatu kondisi yang pernah dikenal sebagai Attention Deficit Disorder (Sulit memusatkan perhatian), Minimal Brain Disorder (Ketidak beresan kecil di otak), Minimal Brain Damage (Kerusakan kecil pada otak), Hyperkinesis (Terlalu banyak bergerak / aktif), dan Hyperactive (Hiperaktif). Ada kira-kira 3 - 5% anak usia sekolah menderita ADHD (Permadi, 2009).
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan neurobiologis yang ciri-cirinya sudah tampak pada anak sejak kecil. • Anak ADHD mulai menunjukkan banyak masalah ketika SD karena dituntut untuk memperhatikan pelajaran dengan tenang, belajar berbagai ketrampilan akademik, dan bergaul dengan teman sebaya sesuai aturan (Ginanjar, 2009).

Diagnosis ADHD tidak tepat untuk anak-anak yang ribut, aktif, atau agak mudah teralih perhatiannya karena di tahun-tahun awal sekolah anak-anak sering berperilaku demikian (Whalen, 1983). Anak dengan ADHD mengalami kesulitan mengendalikan aktifitas dalam berbagai situasi yang menghendaki mereka duduk tenang. Mereka terdisorganisasi, eratik, tidak berperasaan, kerasa kepala, dan bossy. Banyak anak ADHD mengalami kesulitan besar untuk bermain dengan anak seusia mereka dan menjalin persahabatan (Hinshaw & Melnick, 1995; Whalen & Henker, 1985), hal ini mungkin karena mereka cenderung agresif saat bermain sehingga membuat teman-temannya merasa tidak nyaman.

Anak ADHD bermain agresif dengan tujuan mencari sensasi sedang anak normal malakukan hal tersebut dangan tujuan untuk bermain sportif. Anak ADHD mengetahui tindakan yang dibenarkan secara sosial dalam berbagai situasi hipotesis, namun tidak mampu mempraktekan pengetahuan tersebut dalam perilaku interaksi sosialnya (Whalen & Henker, 1985, 1999).

Tipe ADHD
Karena simtom-simtom ADHD bervariasai, DSM-IV-TR mencantumkan tiga subkategori, yaitu:
1.      Tipe predominan inatentif: anak-anak yang masalah utamanya adalah rendahnya konsentrasi.
2.      Tipe predominan Hiperaktif-Impulsif: anak-anak yang masalah utamanya diakibatkan oleh perilaku hiperaktif-impulsif.
3.      Tipe kombinasi: anak-anak yang mengalami kedua rangkaian masalah diatas.

Anak-anak yang mengalami masalah atensi, namun memiliki tingkat aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangannya, tampak sulit memfokuskan perhatian atau lebih lambat dalam memproses informasi (Barkley, Grodzinsky, & DuPaul,1992), mungkin berhubungan dengna masalah pada daerah frontal atau striatal otak (Tannock,1998). Gangguan ADHD, lebih berhubungan dengan perilaku tidak mengerjakan tugas di sekolah, kelemahan kognitif, rendahnya prestasi, dan prognosis jangka panjangnya lebih baik. Berbeda dengan anak yang mengalami gangguan tingkah laku, mereka bertingkah disekolah dan dimana pun, dan kemungkinan jauh lebih agresif, serta mungkin memiliki orang tua yang antisosial.

2.      FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor Biologi
1.      Faktor genetik, penelitian menunjukan bahwa predisposisi genetika terhadap ADHD kemungkinan berperan. Bila orang tua menderita ADHD, kemungkinan sebagian anaknya akan mengalami gangguan tersebut (Biederman, dkk, 1995). Mengenai apa yang diturunkan dalam keluarga sampai saat ini belum ditemukan, namun studi baru-baru ini menunjukan bahwa ada perbedaan ungsi dan struktur otak pada anak ADHD dan anak yang tidak ADHD. Frontal lobe pada anak ADHD kurang responsif terhadap stimulasi (Rubia dkk,1999 ; tannock, 1998), aliran darah cerebral berkurang (Sieg dkk, 1995). Terlebih lagi beberapa bagian otak (frontal lobe, nucleus, kaudat, globus pallidus) pada anak ADHD lebih kecil dari ukuran normal (Castellanos dkk, 1996; Filipek dkk, 1997; Hynd dkk, 1993).

2.      Faktor perinatal dan prenatal,  berbagai hal yang berhubungan dengan masa-masa kelahiran, serta berbagai zat yang dikonsumsi ibu saat kehamilan, merupakan prediktor simtom-simtom ADHD.

3.      Racun lingkungan, teori pada tahun 1970-an menyangkut peran racun dalam  terjadinya hiperaktifitas. Zat-zat adiktif pada makanan mempengaruhi kerja system saraf pusat pada anak-anak hiperaktif. Nikotin, merupakan racun lingkungan yang dapat berperan dalam terjadinya ADHD.

Faktor Psikologis
Bruno Bettelheim (1973), mengemukakan teori diathesis-stres mengenai ADHD, yaitu hiperaktifitas terjadi bila suatu predisposisi terhadap gangguan dipasangkan dengan pola asuh orang tua yang otoritarian. Pembelajaran juga dapat berperan dalam ADHD, seperti yang dikemukakan Ross dan Ross (1982), hiperaktivitas dapat merupakan peniruan perilaku orang tua dan saudara-saudara kandung. Dalam hubungan orang tua-anak sangat kurang bersifat dua arah dan lebih mungkin merupakan “rantai asosiasi kompleks” (Hinshaw dkk, 1997). Seperti halnya orang tua anak yang hiperaktif mungkin memberi lebih banyak perintah dan memiliki interaksi negatif dengan mereka (a.l.,Anderson, Hinshaw, & Simmel, 1994; Heller dkk, 1996), demikian juga anak-anak hiperaktivitas diketahui kurang patuh dan memiliki interaksi yang lebih negative dengan orang tua mereka (Barkley, Karlsson & Pollar; Tallmadge & Barkley, 1983).

3.      FAKTOR PRESIPITASI
·         Petistiwa pasca kelahiran, seperti komplikasi kelahiran dan penyakit.
·         Keracunan lingkungan, seperti kandungan timah.
·         Gangguan bahasa dan pembelajaran.
·         Tanda-tanda ketidakmatangan neurologis, seperti berperilaku aneh, lemah keseimbangan dan koordinasi, serta adanya refleks yang tidak normal.
·         Peningkatan dalam simtom-simtom ADHD diakibatkan oleh zat obat-obatan yang dilakukan dalam terapi medis dan diketahui sangat berpengaruh terhadap system jaringan otak sentral.
·         Persamaan di antara simtom-simtom ADHD, simto-simtom yang dihubungkan dengan kerusakan pada korteks prefrontal (Fuster, 1989; Grattal dan Eslinger, 1991).
·         Menurunnya kemampuan anak ADHD pada tes neuropsikologis yang dikaitkan pada fungsi lobus prefrontal (Barkeley, Grodzinsky, dan DuPaul, 1992).

4.      PSIKODINAMIKA
Masa bayi
·         Tingkah bayi serba sulit dimengerti
·         Menjengkelkan
·         Serakah
·         Sulit tenang
·         Sulit tidur
·         Tidak ada nafsu makan

Masa prasekolah
·         Terlalu aktif
·         Keras kepala
·         Tidak pernah merasa puas
·         Suka menjengkelkan
·         Tidak bisa diam
·         Sulit beradaptasi dengan lingkungan

Usia sekolah
·         Sulit berkonsentrasi
·         Sulit memfokuskan perhatian
·         Impulsif

Adolescent
·         Tidak dapat tenang
·         Sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat
·         Tidak konsisten dalam sikap dan penampilan
5.       
PATOPSIKOLOGI
·         Mekanisme patofisiologis dan patopsikologis bagaimana gangguan pemusatan perhatian ini terjadi masih belum jelas terungkap. Beberapa ahli berpendapat bahwa gangguan ini dikaitkan dengan beberapa gangguan neurofungsional otak, masalah kognosis dan ingatan (Cognitive-Memory Problem), Gangguan sosial dan emosi, Gangguan motivasi.
·         Mekanisme patofisiologis gangguan ini masih banyak diperdebatkan oleh para ahli. Seperti halnya gangguan autism, tampaknya gangguan pemusatan perhatian dan ADHD merupakan suatu kelainan yang bersifat multi faktorial. Banyak faktor yang dianggap sebagai penyebab gangguan ini, diantaranya adalah faktor genetik, perkembangan otak saat kehamilan, perkembangan otak saat perinatal, tingkat kecerdasan (IQ), terjadinya disfungsi metabolisme, ketidak teraturan hormonal, lingkungan fisik, sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua, guru dan orang-orang yang berpengaruh di sekitarnya.
·         Banyak penelitian menunjukkan efektifitas pengobatan dengan psychostimulants, yang memfasilitasi pengeluaran dopamine dan noradrenergic tricyclics. Kondisi ini mengungatkan sepukalsi adanya gangguan area otak yang dikaitkan dengan kekuirangan neurotransmitter. Sehingga neurotransmitters dopamine and norepinephrine sering dikaitkan dengan gangguan komsentrasi
·         Faktor genetik tampaknya memegang peranan terbesar terjadinya gangguan konsentrsi. Diduga  gangguan konsentrasi yang terjadi pada seorang anak selalu disertai adanya riwayat gangguan yang sama dalam keluarga setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Mungkin  salah satu orang penderita gangguan konsentrasi juga menderita gangguan yang sama pada masa kanak mereka. Seperti pada ADHD, orang tua dan saudara penderita gangguan konsentrasi mungkin mengalami resiko 2-8 kali lebih mudah terjadi gangguan konsentrasi, kembar monozygotic lebih mudah terjadi ADHD dibandingkan kembar dizygotic juga menunjukkan keterlibatan fator genetik di dalam gangguan ADHD. Keterlibatan genetik dan kromosom memang masih belum diketahui secara pasti.  Beberapa gen yang berkaitan dengan kode reseptor dopamine dan produksi serotonin, termasuk DRD4, DRD5, DAT, DBH, 5-HTT, dan 5-HTR1B, banyak dikaitkan dengan ADHD.
·         Penelitian neuropsikologi menunjukkkan kortek frontal dan sirkuit yang menghubungkan fungsi eksekutif bangsal ganglia.  Katekolamin adalah fungsi neurotransmitter utama yang berkaitan dengan  fungsi  otak lobus frontalis.  Sehingga dopaminergic dan noradrenergic neurotransmission tampaknya merupakan target utama dalam pengobatan ADHD.
·         Teori lain menyebutkan kemungkinan adanya disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh dopamin sebagai neurotransmitter pencetus gerakan dan sebagai kontrol aktifitas diri. Akibat gangguan otak yang minimal, yang menyebabkan terjadinya hambatan pada sistem kontrol perilaku anak. Dalam penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan MRI didapatkan gambaran disfungsi otak di daerah mesial kanan prefrontal dan striae subcortical yang mengimplikasikan terjadinya hambatan terhadap respon-respon yang tidak relefan dan fungsi-fungsi tertentu. Pada penderita ADHD terdapat kelemahan aktifitas otak bagian korteks prefrontal kanan bawah dan kaudatus kiri yang berkaitan dengan pengaruh keterlambatan waktu terhadap respon motorik  terhadap rangsangan sensoris. 
·         Dengan pemeriksaan radiologis otak PET (positron emission tomography) didapatkan gambaran bahwa pada anak penderita ADHD dengan gangguan hiperaktif yang lebih dominan didapatkan aktifitas otak yang berlebihan dibandingkan anak yang normal dengan mengukur kadar gula (sebagai sumber energi utama aktifitas otak) yang didapatkan perbedaan yang signifikan antara penderita hiperaktif dan anak normal.
·         Penyebab Kesulitan Konsentrasi Neurologik, Malfungsi organik otak, faktor genetik, Ketrampilan Persepsi. Tidak bisa membedakan “figure” dan “latar belakang”. Tidak mampu mengolah makna apa yang didengar atau dilihat sehingga anak tidak berminat. Tidak memahami urutan perintah (min 3 perintah)
·         Masalah Kognisi, Ingatan ( Cognitive –Memory Problem ). Kognisi adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan strategi. Ingatan adalah kemampuan mengingat. Metacognition adalah kemampuan untuk memilih strategi dalam menyelesaikan tugas dan membentuk mekanisme secara efektif.
·         Masalah Sosial-Emosi (Perilaku) meliputi memiliki masalah ketrampilan sosial ( tidak memahami tanda-tanda dari lingkungan sosial ). Tidak memahami perasaan dan emosi diri sendiri dan orang lain. Masalah Motivasi ditandai 3 hal yaitu bagaimana anak mempersepsi kesuksesan dan kegagalan adalah karena faktor diluar dirinya (external locus of control). Memiliki penilain negatif pada dirinya (Negative Attribution). Merasa usahanya sia –sia (Learned helplessness).

6.      TANDA KHAS
Menurut Townsend (1998) ada beberapa tanda dan gejala yang dapat dapat ditemukan pada anak dengan ADHD antara lain :
  1. Sering kali tangan atau kaki tidak dapat diam atau duduknya mengeliat-geliat.
  2. Mengalami kesulitan untuk tetap duduk apabila diperlukan
  3. Mudah bingung oleh dorongan-dorongan asing
  4. Mempunyai kesulitan untuk menunggu giliran dalam suatau permainan atau keadaan di dalam suatu kelompok
  5. Seringkali menjawab dengan kata-kata yang tidak dipikirkanterhadap pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai disampaikan
  6. Mengalami kesulitan untuk mengikuti instruksi-instruksi dari orang lain
  7. Mengalami kesulitan untuk tetap bertahan memperhatikan tugas-tugas atau aktivitas-aktivitas bermain
  8. Sering berpindah-pindah dari satu kegiatan yang belum selesai ke kegiatan lainnya
  9. Mengalami kesulitan untuk bermain dengan tenang
  10. Sering berbicara secara berlebihan.
  11. Sering menyela atau mengganggu orang lain
  12. Sering tampaknya tidak mendengarkan terhadap apa yang sedang dikatakan kepadanya
  13. Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas-tugas atau kegiatan-kegiatan yang berbahaya secara fisik tanpa mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan akibatnya (misalnya berlari-lari di jalan raya tanpa melihat-lihat).
7.      INTERVENSI
Menurut Baihaqi dan Sugiarmin (2006) perawatan yang dapat dilakukan terhadap anak yang menderita ADHD antara lain :
  1. Terapi medis : Mengendalikan simptom-simptom ADHD di sekolah dan rumah
  2. Pelatihan manajemen orang tua : Mengendalikan perilaku anak yang merusak di rumah, mengurangi konflik antara orangtua dan anak serta meningkatkan pro-sosial dan perilaku regulasi diri
  3. Intervensi pendidikan : Mengendalikan perilaku yang merusak di kelas, meningkatkan kemampuan akademik serta mengajarkan perilaku pro sosial dan regulasi diri
  4. Merencanakan program-program bulanan : Melakukan penyesuaian di rumah dan keberhasilan ke depan di sekolah dengan mengombinasikan perlakukan tambahan dan pokok dalam program terapi
  5. Melakukan konseling keluarga : Coping terhadap stres keluarga dan individu yang berkaitan dengan ADHD, termasuk kekacauan hati dan permasalahan suami istri
  6. Mencari kelompok pendukung : Menghubungkan anak dewasa dengan orang tua anak ADHD lainnya, berbagi informasi dan pengalaman mengenai permasalahan umum dan memberi dukungan moral
  7. Melakukan konseling individu : Memberi dukungan di mana anak dapat membahas permasalahan dan curahan hati probadinya
Menurut Videbeck (2008) intervensi keperawatan yang dapat dilakukan pada anak dengan Attention Deficyt Hyperactivity Disorder (ADHD) antara lain :
  1. Memastikan keamanan anak dan keamanan orang lain dengan :
    1. Hentikan perilaku yang tidak aman
    2. Berikan petunjuk yang jelas tentang perilaku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima
    3. Berikan pengawasan yang ketat
  2. Meningkatkan performa peran dengan cara :
    1. Berikan umpan balik positif saat memenuhi harapan
    2. Manajemen lingkungan (misalnya tempat yang tenang dan bebas dari distraksi untuk menyelesaikan tugas)
  3. Menyederhanakan instruksi/perintah untuk :
    1. Dapatkan perhatian penuh anak
    2. Bagi tugas yang kompleks menjadi tugas-tugas kecil
    3. Izinkan beristirahat
  4. Mengatur rutinitas sehari-hari
    1. Tetapkan jadual sehari-hari
    2. Minimalkan perubahan
  5. Penyuluhan dan dukungan kepada klien/keluarga dengan mendengarkan perasaan dan frustasi orang tua
  6. Berikan nutrisi yang adekuat pada anak yang mengalami ADHD





























BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah kelainan hiperaktivitas kurang perhatian yang sering ditampakan sebelum usia 4 tahun dan dikarakarakteriskan oleh ketidaktepatan perkembangan tidak perhatian, impulsive dan hiperaktif (Townsend, 1998). ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder, suatu kondisi yang pernah dikenal sebagai Attention Deficit Disorder (Sulit memusatkan perhatian), Minimal Brain Disorder (Ketidak beresan kecil di otak), Minimal Brain Damage (Kerusakan kecil pada otak), Hyperkinesis (Terlalu banyak bergerak / aktif), dan Hyperactive (Hiperaktif). Ada kira-kira 3 - 5% anak usia sekolah menderita ADHD (Permadi, 2009).
Mekanisme patofisiologis dan patopsikologis bagaimana gangguan pemusatan perhatian ini terjadi masih belum jelas terungkap. Beberapa ahli berpendapat bahwa gangguan ini dikaitkan dengan beberapa gangguan neurofungsional otak, masalah kognosis dan ingatan (Cognitive-Memory Problem), Gangguan sosial dan emosi, Gangguan motivasi.
Faktor genetik tampaknya memegang peranan terbesar terjadinya gangguan konsentrsi. Diduga  gangguan konsentrasi yang terjadi pada seorang anak selalu disertai adanya riwayat gangguan yang sama dalam keluarga setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Mungkin  salah satu orang penderita gangguan konsentrasi juga menderita gangguan yang sama pada masa kanak mereka
SARAN
Perlu penelitian lebih lanjut mengenai penyebab dan cara penanggulangan untuk menekan angka penderita ADHD dan agar anak yang terkena gangguan ADHD dapat diperlakukan dengan benar.





DAFTAR PUSTAKA
Davison, Gerald C dkk. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
L. Betz, Cecily, A. Sowden, Linda. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Alih Bahasa Jan Tambayong. Jakarta, EGC, 2002
Nevid, Jeffrey S dkk. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian 1. Alih Bahasa Hunardja S. Jakarta, Widya
Medika, 2002









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!