Jumat, 18 November 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ABLASIO RETINA


ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ABLASIO RETINA
TINJAUAN TEORITIS
A. DEFENISI
Ablasio retina adalah suatu keadaan terlepasnya sehingga terjadi penggumpalan cairan retina antara lapisan basilus (sebatang) dan konus (sel kerucut) dengan sel epitelium pigmen retina (Vera H. Darling Magaret R. 1996 : 73).

B. ETIOLOGI
a. Malformasi kongenital
b. Kelainan metabolisme
c. Penyakit vaskuler
d. Inflamasi intraokuler
e. Neoplasma
f. Trauma
g. Perubahan degeneratif dalam vitreus atau retina
(C. Smelzer, Suzanne, 2002).
C. PATOFISIOLOGI
Pada Ablasio Retina cairan dari vitreus bisa masuk ke ruang sub retina dan bercampur dengan cairan sub retina. Ablasio Retina dapat diklasifikasikan secara alamiah menurut cara terbentuknya:
  1. Ablasio Rhegmatogen terjadi setelah terbentuknya tulang atau robekan dalam retina yang menembus sampai badan mata masuk ke ruang sub retina, apabila cairan terkumpul sudah cukup banyak dapat menyebabkan retina terlepas.
  2. Ablasio oleh karena tarikan, terjadi saat retina mendorong ke luar dari lapisan epitel oleh ikatan atau sambungan jaringan fibrosa dalam badan kaca.
  3. Ablasio eksudatif, terjadi karena penumpukan cairan dalam ruang retina akibat proses peradangan, gabungan dari penyakit sistemik atau oleh tumor intraocular, jika cairan tetap berkumpul, lapisan sensoris akan terlepas dari lapisan epitel pigmen.
D. MANIFESTASI KLINIS
Ablasio retina akan memberikan gejala terdapatnya:
·         gangguan penglihatan yang kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutup.
·         Riwayat melihat benda mengapung atau pendaran cahaya(fotopsia) / light flashes atau keduanya.
·         Floater dipersepsikan sebagai titik-titik hitam kecil/rumah laba-laba
·         Pasien akan melihat bayangan berkembang atau tirai bergerak dilapang pandang ketika retina benar-benar terlepas dari epitel berpigmen
·         Penurunan tajam pandangan sentral aau hilangnya pandangan sentral menunjjukkan bahwa adanya keterlibatan macula
E. PENATALAKSANAAN MEDIS

Pengobatan pada ablasio retina adalah dengan tindakan pembedahan atau operasi. Tujuan operasi adalah untuk mengeluarkan cairan sub retina, menutup lubang atau robekan dan untuk melekatkan kembali retina. Hal ini dikarenakan jarang terjadi pertautan kembali secara spontan. Apabila diagnosis ablasio retina telah ditegakkanmaka pasien harus MRS dan dipersiapkan untuk menjalani operasi.
A. Persiapan pre-operatif
Sedikitnya 5 – 7 hari sebelum operasi, penderita sudah harus masuk rumah sakit, harus tirah baring sempurna (Bedrest total).  Kepala dan mata tidak boleh digerakan, mata harus di tutup segera, segala keperluan pen-derita dibantu. Kedua mata ditetesi midriatik sikloplegik seperti: Atropin tetes 1 % jangan menggunakan obat- Obat mata dalam bentuk salep mata karena akan menghalangi Jalannya operasi (kornea akan keruh akibat salep).  Persiapan lainnya sama dengan persiapan operasi katarak, operasi ablasio retina menggunakan anestesi umum tetapi bila menggunakan anestesi lokal maka 1 jam sebelum operasi diberikan luminal (100 mg) atau largactil (100 mg) IM, kemudian ½ jam sesudahnya diberi pethidine (50 mg) dan phenergan (25 mg) IM.
B. Operasi
a)     Elektrodiatermi
Dengan menggunakan jarum elektroda, melalui sclera untuk memasukkan cairan subretina dan mengeluarkan suatu bentuk eksudat dari pigmen epithelium yang menempel pada retina.
b)   Sclera Buckling
Suatu bentuk tehnik dengan jalan sclera dipendekkan, lengkungan terjadi dimana kekuatan pigmen epithelium lebih menutup retina, mengatasi pelepasan retina dan menempatkan posisi semula, maka sebuah silikon kecil diletakkan pada sclera dan diperkuat dengan membalut melingkar.
c)   Photocoagulasi
Suatu sorotan cahaya dengan laser menyebabkan dilatasi pupil. Dilakukan dengan mengarahkan sinar laser pada epithelium  yang mengalami pigmentasi.
d)   Cyro Surgery
Suatu pemeriksaan super cooled yang dilakukan pada sclera, menyebabkan kerusakan minimal seperti suatu jaringan parut, pigmen epithelium melekat pada retina.
e)   Cerclage
Operasi yang dikerjakan untuk mengurangi tarikan badan kaca. Pada keadaan cairan retina yang cukup banyak dapat dilaksanakan phungsi lewat sklera.
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DAN PENUNJANG
  • Pemeriksaan visus
  • Ophtalmoskop indirek
  • USG mata
  • Campur Visi
G. KOMPLIKASI
a. Komplikasi awal setelah pembedahan
·         Peningkatan TIO
·         Glaukoma
·         Infeksi
·         Ablasio koroid
·         Kegagalan pelekatan retina
·         Ablasio retina berulang
b. Komplikasi lanjut
·         Infeksi
·         Lepasnya bahan buckling melalui konjungtiva atau erosi melalui bola mata
·         Vitreo retinpati proliveratif (jaringan parut yang mengenai retina)
·         Diplopia
·         Kesalahan refraksi
·         Astigmatisme

ILUSTRASI KASUS KASUS  ABLASIO RETINA

ANAMNESIS
Identitas
Nama               : Ny. S
Usia                 : 52 tahun
Alamat                        : Jl. Budaya Batu Ampar, Jakarta Timur
Pekerjaan         : swasta
Pendidikan      : tamat SD
Agama             : Islam
Suku                : Jawa

Keluhan Utama
Penglihatan mata kanan mendadak buram sejak 5 hari SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang
Pada 5 hari SMRS, mata kanan pasien mendadak buram, tidak merah dan tidak nyeri. Tidak ada riwayat trauma sebelumnya. Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang kelihatan hanya pinggir sebelah kanan. Pasien tidak melihat ada kilatan cahaya berulang. Tidak terdapat riwayat penglihatan kabur sesaat yang hilang timbul sebelumnya. Pasien berobat ke dokter mata lalu diperiksa dan dibilang ada masalah di retina kanan dan perlu dioperasi. Pasien kemudian dirujuk ke RSCM.
Pasien menggunakan kacamata minus (-3 dioptri) di kedua mata sejak 10 tahun lalu. Pasien tidak mengeluh ada gangguan pada mata sebelumnya.

Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Hipertensi (+) sejak 10 tahun yang lalu, namun pasien tidak berobat teratur. Riwayat Diabetes Mellitus disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak terdapat anggota keluarga dengan keluhan serupa dengan pasien.

PEMERIKSAAN FISIK:
Keadaan Umum          : pasien tampak sakit sedang
Kesadaran                   : compos mentis
Tanda Vital
Tekanan darah             : 140/80 mmHg
Frekuensi nadi             :  84 x/menit
Frekuensi nafas           :  16 x/ menit
Suhu                            :  36 oC
Lain-lain                      : dalam batas normal
PEMERIKSAAN OFTALMOLOGIS
Mata Kanan
Pemeriksaan
Mata Kiri
1/ 300 proyeksi baik
Visus
6/ 12
Tenang
Palpebra/ konjungtiva
Tenang
Jernih
Kornea
Jernih
Dalam
Bilik mata depan
Dalam
Bulat, sentral, middilatasi
Iris/ pupil
Bulat, sentral, refleks cahaya (+)
Keruh, shadow test (+)
Lensa
Keruh, shadow test (+)
n/ p
Tekanan Intra Okular
n/ p
Baik ke segala arah
Pergerakan
Baik ke segala arah
Tobacco dust (+)
Badan kaca
Jernih
Papil bulat, batas tegas, CDR 0,3, aa/vv = 2/3
Ablasio retina (+) di superior temporal meluas ke inferior temporal. Corrugated (+), Tear (+), macula on
Funduskopi
Papil bulat, batas tegas, CDR 0,3, aa/vv = 2/3

11 POLA FUNGSIONAL GORDON
1)                  Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
Yang perlu dikaji : bagaimana persepsi pasien tentang hidup sehat, dan apakah dalam melaksanakan talaksana hidup sehat penderita membutuhkan bantuan orang lain atau tidak.
Berdasarkan Kasus : Kemampuan merawat diri pasien menurun dan juga terjadi perubahan pemeliharaan kesehatan.
2)                  Pola nutrisi metabolik
Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah pola makan dan minum klien selama ini?, Kaji apakah klien alergi terhadap makanan tertentu?, Apakah klien menghabiskan makanan yang diberikan oleh rumah sakit?, Bagaimana dengan BB klien, apakah mengalami penurunan atau sebaliknya?
·         Biasanya klien dengan ablasio retina ini tidak mengalami perubahan nutrisi dan metabolisme.
3)                  Pola eliminasi
Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah pola BAB dan BAK klien selama ini?, Apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi?, Kaji konsistensi BAB dan BAK klien.
·         Biasanya klien dengan ablasio retina ini tidak mengalami gangguan dan perubahan eliminasi.
4)                  Pola aktivas latihan
Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah perubahan pola aktivitas klien?, Kaji aktivitas yang dapat dilakukan klien secara mandiri, Kaji tingkat ketergantungan klien.
Berdasarkan kasus : Biasanya pada pola ini pasien mengalami ketidakaktifan diri dan ganguan karena disini penglihatan klien mulai buram.
5)                  Pola istirahat tidur      
Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah pola tidur klien ?, Kaji frekuensi dan lama tidur klien, Apakah klien mengalami gangguan tidur?, Apakah klien mengkonsumsi obat tidur/penenang?, Apakah klien memiliki kebiasaan tertentu sebelum tidur?.
·         Biasanya pola tidur klien berubah sampai berkurangnya pemenuhan kebutuhan tidur klien.
6)                  Pola kognitif persepsi
Pada pola ini kita mengkaji: Kaji tingkat kesadaran klien, Bagaimanakah kondisi kenyamanan klien?, Bagaimanakah fungsi kognitif dan komunikasi klien?.
Berdasarkan Kasus : Pengelihatan klien buram, Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang kelihatan hanya pinggir sebelah kanan. Pasien tidak melihat ada kilatan cahaya berulang.
7)                  Pola persepsi diri dan konsep diri
Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah klien memandang dirinya terhadap penyakit yang dialaminya?, Apakah klien mengalami perubahan citra pada diri klien?, Apakah klien merasa rendah diri?
·         Biasanya klien merasa resah dan cemas akan terjadi kebutaan.
8)                  Pola peran hubugan
Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah peran klien di dalam keluarganya?, Apakah terjadi perubahan peran dalam keluarga klien?, Bagaimanakah hubungan sosial klien terhadap masyarakat sekitarnya?.
·         Biasanya hubungan klien dengan orang disekitarnya menurun begitu juga dalam melaksanakan perannya.
9)                  Pola reproduksi dan seksualitas
Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah status reproduksi klien?.
·         Biasanya pola ini tidak mengalami gangguan.
10)              Pola koping dan toleransi stress
Pada pola ini kita mengkaji: Apakah klien mengalami stress terhadap kondisinya saat ini?, Bagaimanakah cara klien menghilangkan stress yang dialaminya?, Apakah klien mengkonsumsi obat penenang?.
·         Biasanya klien sering bertanya kapan akan dilakukan tindakan operasi dan merasa cemas karena takut terjadinya kecacatan pada penglihatan.
11)              Pola nilai dan kepercayaan
Pada pola ini kita mengakaji: Kaji agama dan kepercayaan yang dianut klien, Apakah terjadi perubahan pola dalam beribadah klien?.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No
Diagnosa Kep
(NANDA)
Ditandai dengan DS/ DO
Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)
Intervensi
Kep dan Aktivitas (NIC)

1.

Gangguan Persepsi Panca indera ( Penglihatan )

Data Subjektif :
Pengelihatan klien buram, Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang kelihatan hanya pinggir sebelah kanan. Pasien tidak melihat ada kilatan cahaya berulang.
Data Objektif :
Papil bulat, batas tegas, CDR 0,3, aa/vv = 2/3
Ablasio retina (+) di superior temporal meluas ke inferior temporal. Corrugated (+), Tear (+), macula on

Defenisi:
perubahan dalam jumlah maupun  pola rangsangan yang diterima yang disertai dengan penyusutan,
pelebihan, penyimpangan,
atau gangguan tanggapan
terhadap rangsangan
tersebut.
Batasan Karaktristik :
·         Berubahnya pola
perilaku
·         Berubahnya  ketajaman pancaindera
·         Distorsi pancaindera
·         Konsentrasi yang
lemah
·         Kegelisahan
Faktor-faktor yang berhubungan :
·         Pengintegrasian pancaindera yang
terganggu
·         Penerimaan terhadap pancaindera yang
terganggu


NOC : Kompensasi Tingkahlaku Penglihatan

Defenisi: kegiatan untuk mengimbangi lemahnya penglihatan
Indikator :
·      Pantau gejala dari semakin buruknya penglihatan
·      Posisikan diri untuk menguntungkan penglihatan
·      Ingatkan yang lain untuk menggunakan teknik yang menguntungkan penglihatan
·      Gunakan pencahayaan yang cukup untuk aktivitas yang sedang dilakukan
·      Memakai kacamata dengan benar
·      Memakai kontak lens dengan bear
·      Merawat kacamata dengan benar
·      Menggunakan alat bantu penglihatan yang lemah
·      Menggunakan layanan pendukung untuk penglihatan yang lemah
·      Menggunakan alat bantu komputer


NOC : Kontrol Kecemasan

Defenisi:
tindakan seseorang untuk menghilangkan dan
mengurangi perasaan
ketakutan dan tertekan yang sumbernya tidak bisa diidentifikasi.
Indikator :
·      Memantau intensitas
kecemasan
·      Menghilangkan pencetus kecemasan
·      Menurunkan rangsang lingkungan ketika cemas
·      Mencari informasi untuk mengurangi kecemasan
·      koping terhadap situasi yang menekan
·      Menggunakan strategi koping yang efektif
·      Menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi rasa cemas
·      Melaporkan jangka waktu penurunan setiap episode


NIC : Peningkatan Komunikasi : Defisit
melihat
Defenisi: membantu dalam menerima dan mempelajari metode alternatif untuk hidup dengan gangguan penglihatan.
Aktivitas :
·      Kenali diri sendiri ketika memasuki ruang pasien
·      Catat reaksi pasien terhadap rusaknya penglihatan (misal, depresi, menarik diri, dan menolak kenyataan
·      Menerima reaksi pasien  terhadap rusaknya penglihatan
·      Bantu pasien dalam menetapkan tujuan yang baru untuk belajar bagaimana “melihat” dengan indera yang lain
·      Andalkan penglihatan pasien yang tersisa sebagaimana mestinya
·      Berjalan satu dua langkah di depan pasien, dengan siku pasien berada di sikumu
·      Rujuk pasien dengan masalah penglihatan ke agen yang sesuai
·      Jangan memindahkan benda-benda di kamar pasien tanpa memberitahu pasien
·      Bacakan surat, koran, dan informasi lainnya pada pasien
·      Identifikasi makanan yang ada dalam baki dalam kaitannya dengan angka-angka pada jam
·      Gambarkan lingkungan kepada pasien
NIC : Manajemen
Lingkungan
Defenisi: memanipulasi sekeliling pasien untuk kebaikan terapeutik.
Aktivitas :

·   Ciptakan lingkungan yang aman untuk pasien
·   Identifikasi kebutuhan rasa aman pasien,
berdasarkan tingkatan fungsi fisik dan kognisi dan sejarah perilaku di masa lalu
·   Hilangkan objek-objek yang membahayakan dari lingkungan
·   Sediakan kasur yang bersih lagi nyaman
·   Beri keluarga/orang
penting lainnya
informasi tentang
menciptakan lingkungan rumah yang aman bagi pasien


2.



Resiko cedera sehubungan dengan penurunan tajam penglihatan.

Definisi : Suatu kondisi individu yang berisiko untuk mengalami cedera sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang berhubungan dengan sumber-sumber adaptif dan pertahanan.
b. Faktor Risiko :
Eksternal :
  • Biologis ( tingkat imunisasi komunitas, mikroorganisme)
  • Kimia (misalnya, racun,polutan, obat-obatan, agen farmasi,alkohol, nikotin,pengawet, kosmetik, pewarna)
  • Orang (agen nosokomial, pola pemupukan, pola-pola kognitif, afektif dan psikomotor)
  • Jenis transportasi
  • Nutrisi  (vitamin, jenis makanan)
  • Fisik (desain, struktur, dan penataan komunitas, bangunan, dan /perlengkapan)
Internal :
  • Profil darah yang abnormal (leukositosis atau leukopenia, perubahan faktor penggumpalan darah, trombosiopenia, menurunnya kadar hemoglobin)
  • Disfungsi biokimia
  • Usia perkembangan (psikologis,psikososial)
  • Disfungsi efektor
  • Penyakit imun/ autoimun
  • Disfungsi integratif
  • Malnutrisi
  • Fisik (kulit terkelupas, perubahan mobilitas)
  • Psikologis (orientasi afektif)
  • Disfungsi sensori
  • Hipoksia jaringan

Data Subjektif : Pada 5 hari SMRS, mata kanan pasien mendadak buram
Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang kelihatan hanya pinggir sebelah kanan
Riwayat Hipertensi (+) sejak 10 tahun yang lalu

Data Objektif :
Keadaan Umum          :
pasien tampak sakit
TD       : 140/80 mmHg
nadi     : 84 x/menit
nafas    : 16 x/ menit
Lensa : Keruh, shadow test (+)


NOC : Kontrol Risiko : Pelemahan Penglihatan
Definisi : tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan perubahan fungsi penglihatan
Pantau gejala kemunduran penglihatan
Pantau lingkungan yg membahayakan mata
Hindari bahaya utk mata
Gunakan penerangan yg cukup selama beraktivitas
Istirahat dari kegiatan yg menegangkan mata
Pantau gejala penyakit mata
Gunakan resep obat mata dg benar
Gunakan alat pelindung mata
Dapatkan pemeriksaan mata


NIC : Manajemen Keamanan
Aktifitas :
·         Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien
·         Identifikasi kebutuhan keamanan klien
·         Pindahkan benda-benda berbahaya dari sekitar klien
·         Pindahkan benda-benda berisiko dari lingkungan klien
·         Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
·         Posisikan tempat tidur agar mudah terjangkau
·         Kurangi stimulus lingkungan

NIC : Pencegahan jatuh
Aktifitas :
·         Identifikasi deficit fisik yang berpotensi untuk jatuh
·         Identifikasi karakteristik lingkungan yang meningkatkan potensi jatuh ( seperti lantai yang licin)
·         Berikan peralatan yang menunjang untuk mengokohkan jalan
·         Ajarkan klien bagaimana berpindah untuk meminimalisir trauma
·         Hindari barang-barang berserakan di lantai
·         Ajarkan keluarga tentang faktor resiko yang berkontribusi pada jatuh dan bagaimana mengurangi resiko jatuh
Kaji keluarga dalam mengidentifikasi bahaya di rumah dan bagaimana memodifikasikannya


PERSIAPAN YANG DILAKUKAN OLEH PERAWAT SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN OPERASI

a. Persiapan penderita sebelum operasi
  • Mengatasi kecemasan
  • Membatasi aktivitas
  • Penutup mata harus selalu dipakai untuk mencegah atau membatasi pergerakan bola mata
  • Pengobatan dengan obat tetes mata jenis midriaticum untuk mencegah akomodasi dan kontriksi.
b. Persiapan penderita setelah operasi
  • Istirahatkan pasien (bad rest total) minimal dalam 24 jam pertama.
  • Ukur vital sign tiap jam dalam 24 jam pertama.
  • Evaluasi penutup mata
  • Bantu semua kebutuhan ADL
  • Perawatan dan pengobatan sesuai program
PENDIDIKAN KESEHATAN YANG DIBERIKAN PADA KLIEN DENGAN ABLASIO RETINA
Pada klien ablasio retina baik sebelum pembedahan maupun setelah pembedahan, perlu diberikan pendidikan kesehatan dalam merawat matanya, antara lain :
·         Diberikan pengetahuan mengenai perawatan diri setelah dioperasi
·         Dianjurkan untuk menjaga kebersihan mata
·         Setelah pembedahan retina perawat menekankan untuk menjaga posisi yang benar untuk memfasilitasi perekatan kembali lapisan retina.
·         Menkonsumsi anti oksidan (Vit C, Vit A, Vit E, Zinc, Cooper dan Lutein) menjaga agar dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.
·         Hindari ekspose berlebih terhadap sinar ultraviolet misalnya dengan menggunakan kaca mata hitam agar mata tidak berkontak langsung dengan sinar matahari.
·         Pemeriksaan berkala dengan Amsler Grid
Amsler Grid adalah cara pemeriksaan yang dapat dilakukan penderita untuk memeantau progresitifitas penyakit.
·         Menberikan penguatan psikologi kalau usaha operasi dapat mengembalikan fungsi penglihatan.
·         Preoperasi, Perawat perlu memberikan informasi secara akurat dan tenangkan hati klien untuk mengurangi kecemasan klien.
·         Post Operasi, Hindari gerakan menghentakkan kepala (menyisir rambut, membungkuk, mengejan, bersin, batuk, muntah) dan batasi aktivitas yang berlebihan hingga tercapai penyembuhan. Perawat perlu membantu aktivitas sehari-hari klien untuk mencegah hentakan atau pergerakan kepala yang berlebihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!