Kamis, 22 September 2011

POLA FUNGSIONAL GORDON DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK

Download makalah DISINI atau klik :
http://www.ziddu.com/download/16480941/GGK.docx.html 

 
Pola Fungsional Gordon
1.      Pola penatalaksanaan kesehatan / persepsi sehat
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana pola sehat – sejahtera yang dirasakan pasien
  2. Bagaimana pengetahuan tentang gaya hidup pasien yang berhubungan dengan sehat
  3. Bagaimana pengetahuan pasien tentang praktik kesehatan preventif
  4. Bagaimana ketaatan pasien pada ketentuan media dan keperawatan
Pada pasien gagal ginjal kronik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gagal ginjal kronik sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien.
2.      Pola nutrisi – metabolik
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana pola makan biasa dan masukan cairan pasien
  2. Bagaimana tipe makanan dan cairan
  3. Apakah ada peningkatan / penurunan berat badan
  4. Bagaimana nafsu makan, pilihan makanan pasien
  5. Melihat apakah pasien menggunakan alat bantu untuk kebutuhan nutrisi metaboliknya.
Pada pasien gagal ginjal kronik biasanya terjadi anoreksi, mual, muntah dan rasa pahit pada rongga mulut, intake minum yang kurang. dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan klien. Biasanya pasien dipasangi NGT  untuk pemasukan nutrisi pasien.
Gejala : Peningkatan berat badan cepat (oedema) penurunan berat badan (malnutrisi) anoreksia, nyeri ulu hati, mual muntah, bau mulut (amonia), penggunaan diuretik.
Tanda : Gangguan status mental, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, kejang, rambut tipis, kuku rapuh.
3.      Pola eliminasi
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana defekasi, berkemih pasien (jumlah, warna, bau, dan pola)
  2. Apakah ada penggunaan alat bantu
  3. Apakah ada penggunaan obat-obatan
Pada pasien gagal ginjal kronik, ginjal mengalami kehilangan kemampuan untuk Mengkonsentra-sikan Atau Mengencerkan urin secara normal. Sehingga urine sulit di kelurkan, Terjadi penurunan frekuensi urine dan penahanan cairan dan natrium. Warna: secara abnormal warna urin keruh kemungkinan disebabkan oleh pus, bakteri, lemak, fosfat atau uratsedimen. Volume urine: biasanya kurang dari 400 ml/24 jam bahkan tidak ada urine (anuria). Berat jenis: kurang dari 1,010 menunjukkn kerusakan ginjal berat.

Gejala:Penurunan frekuensi urin, oliguria, anuria ( gagal tahap lanjut), diare, Konstipasi, abdomen kembung.
Tanda:Perubahan warna urin, Warna urine kotor, kecoklatan menunjukkan adanya  darah, Hb, mioglobin, porfirin contoh kuning pekat, coklat, kemerahan,   berawan, oliguria, dapat menjadi anuria.

4.      Pola aktivitas – latihan
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana pola aktivitas, latihan dan rekreasi pasien
  2. Bagaimana kemampuan untuk mengusahakan aktivitas sehari-hari (merawat diri, bekerja, dan lain-lain)
Pada pasien gagal ginjal kronik pasien mudah mengalami kelelahan dan lemas menyebabkan klien tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal.
Gejala : kelelahan ektremitas, kelemahan, malaise.
Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
5.      Pola tidur dan istirahat
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana pola tidur – istirahat pasien dalam 24 jam
  2. Bagaimana kualitas dan kuantitas tidur pasien
  3. Apakah pasien mengalami masalah sebelum tidur atau saat tidur
  4. Apakah pasien ada menggunakan obat tidur
Pada pasien gagal ginjal biasanya mengalami Gangguan tidur  seperti; insomnia / gelisah atau somnolen). nafas dangkal atau sesak nafas, Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/ nyeri kaki, dan gelisah dapat mengganggu istirahat klien.
6.      Pola kognitif – perseptual – keadekuatan alat sensori
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana fungsi penglihatan, perasa, pembau pasien
  2. Bagaimana kemampuan bahasa, belajar, ingatan dan pembuatan keputusan pasien
  3. Apakah mengalami disorientasi atau tidak
Gejala: Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/ kekaburan pandangan, Sakit kepala, Kram otot/kejang, sindrom kaki gelisah, kebas rasa terbakar pada telapak kaki, Kebas/kesemutan dan kelemahan khususnya ekstrimitas bawah (neuropati perifer).
Tanda:Gangguan status mental, contohnya ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, penurunan lapang perhatian, stupor, koma
7.      Pola persepsi-konsep diri
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana sikap pasien mengenai dirinya
  2. Bagaimana persepsi pasien tentang kemampuannya
  3. Bagaimana pola emosional pasien
  4. Bagaimana citra diri, identitas diri, ideal diri, harga diri dan peran diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem).
8.      Pola peran dan tanggung jawab
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana persepsi pasien tantang pola hubungan
  2. Bagaimana persepsi pasien tentang peran dan tanggung jawabnya
Biasanya pasien akan mengalami gejala  kesulitan menentukan kondisi. (tidak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran).

9.      Pola seksual – reproduksi
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Kepuasan dan ketidakpuasan yang dirasakan klien terhadap seksualitasnya
  2. Bagaimana tahap dan pola reproduksi
Pada pasien gagal ginjal kronik angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi seksual, gangguan kualitas maupun ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme.
Gejala : Penurunan libido, amenorea, infertilitas.
10.  Pola koping dan toleransi stress
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana kemampuan pasien dalam mengendalikan stress
  2. Apakah ada sumber pendukung
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, faktor stress, perasaan tidak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan, karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain – lain, dapat menyebabkan klien tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif.
Gejala : faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan,
Tanda : menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.
11.  Pola nilai dan keyakinan
Pada pola ini hal yang perlu kita kaji adalah:
  1. Bagaimana nilai, tujuan dan keyakinan pasien
  2. Bagaimana spiritual pasien sebelum ataupun setelah sakit
  3. Apakah ada kendala untuk melakukan ibadah saat sakit
Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta gagal ginjal kronik dapat menghambat klien dalam melaksanakan ibadah maupun mempengaruhi pola ibadah klien.

Diagnosa keperawatan
NANDA 1
Kelebihan Volume Cairan
Defenisi           : suatu keadaan dimana individu mengalami peningkatan retensi cairan isotonik
Batasan karakteristik:
·         Edema
·         Peningkatan tekanan vena

NOC 1
Keseimbangan cairan
Indikator         
§  Keseimbangan intake dan pengeluaran selama 24 jam
§  Edema peripheral tidak tampak
§  Kehausan abnormal tidak tampak
§  Kelembaban membrane mucus
§  Serum elektrolit dalam keadaan normal

NIC 1
Manajemen cairan
Defenisi : promosi keseimbangan cairan dan pencegahan komplikasi hasil dari ketidaknormalan atau tingkat cairan yang tidak diinginkan.
Aktivitas :
o   Monitor berat harian
o   Jaga catatan intake dan output harian
o   Monitor status hidrasi
o   Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan peningkatan cairan
o   Monitor status hemodinamik
o   Monitor tanda-tanda vital
o   Monitor indikasi kelebihan cairan(misalnya crackles, edema dan ascites)
o   Monitor lokasi dan luasnya edema
o   Monitor makanan/cairan yang masuk hitung intake kalori harian
o   Monitor startus nutrisi
o   Konsultasikan adanya tanda kelebihan cairan atau memburuk

NANDA 2
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Defenisi           :asupan gizi yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik
Batasan karakteristik:
·         Berat badan 20 % atau lebih dibawah ideal
·         Melaporkan intake makanan yang kurang dari RDA
·         Tidak nafsu makan

NOC 2
Status nutrisi
Defenisi: Banyaknya zat makanan yang dapat digunakan untuk keperluan proses metabolisme.
Indikator:
§  Intake nutrisi
§  Intake makanan dan cairan
§  energi

NIC 2
Pengaturan gangguan makan
Defenisi           : Pencegahan dan pengobatan pembatasan diet yang mengganggu dan latihan yang berlebihan atau makan terlalu banyak dan menyingkirkan makanan dan cairan
            Aktivitas          :
o   Mengajarkan dan memperkuat konsep nutrisi yang bagus dengan pasien (dan orang terkait, jika diperlukan)
o   Anjurkan pasien untuk mendiskusikan makanan pilihan dengan ahli makanan
o   Mengembangkan hubungan persahabatan yang mendukung dengan pasien
o   Memantau parameter fisiologi (tanda-tanda vital dan jumlah elektrolit), jika diperlukan
o   Menimbang berat badan menjadi sebuah rutinitas (e.g. pada waktu yang sama setiap hari dan setelah buang air)
o   Memantau intake dan output cairan, jika diperlukan
o   Memantau intake kalori makanan sehari-hari
o   Membuat harapan perilaku makan yang tepat, intake makanan/cairan, dan jumlan aktivitas fisik
o   Amati pasien selama dan setelah makan untuk memastikan bahwa kecukupan intake dapat dicapai dan dipertahankan
o   Memberi bantuan (e.g. terapiu relaksasi, latihan kesabaran, dan kesempatan untuk membicarakan tentang perasaan) kepada pasien untuk membentuk perilaku makan yang baru,
o   Merubah citra tubuh, dan merubah gaya hidup
o   Anjurkan pasien untuk menggunakan bahasa sehari-hari untuk menyatakan perasaan
o   Memberi kesempatan untuk membuat pilihan yang terbatas terhadap makan dan latihan, seperti penambahan berat badan sesuai cara yang diinginkan
o   Bantu pasien (dan orang terkait, jika perlu) untuk memeriksa dan memastikan masalah pribadi yang mungkin berhubungan dengan ketidakteraturan makan

NANDA 3
Intoleransi aktivitas
Defenisi: ketidakcukupan energy psikologikal atau psioligikal untuk melakukan aktivitas seahri-hari.
Batasan karakteristik:
·         Tidak bisa bergerak
·         Pernyataan kelemahan
·         Respon tekanan darah yang tidak normal terhadap akivitas
·         Respon nadi yang tidak normal terhadap aktivitas
·         Dispnea


NOC 3
Konservasi energi
Indicator:
§  Keseimbangan aktivitas dan istirahat
§  Mengakui keterbatasan energy
§  Menggunakan teknik konservasi energy
§  Menyediakan nutrisi yang adekuat
§  Menahan tingkat adekuat untuk aktivitas

NIC 3
Energy manajement
Aktivitas:
o   Determinasi keterbatasan fisik pasien
o   Determinasi persepsi penyebab kelelahan lainnya yang signifikan
o   Mendorong perasaan secara verbal tentang keterbatasan
o   Monitor intake nutrisi untuk energy yang adekuat
o   Monitor kardiorespiratori terhadap aktivitas
o   Monitor pola tidur dan jumlah jam tidur pasien
o   Monitor lokasi ketidaknyamanan atau nyeri saat beraktivitas
o   Dukung pasien untuk periode istirahat
o   Dorong aktivitas fisik
o   Monitor respon oksigen pasien
o   Dorong pasien untuk mengerti konservasi energy
o   Ajari organisasi aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mengatasi kelelahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!