Jumat, 23 September 2011

ILMU PENGETAHUAN, TEORI DAN PENELITIAN, BERPIKIR DEDUKTIF, INDUKTIF DAN REFLEKTIF, PROSES PENYELESAIAN MASALAH


Download makalah DISINI atau klik:
 

BAB I
PENDAHULUAN
Diawal kuliah Ilmu Dasar Keperawatan VI, manhasiswa terlebih dahulu harus memahami apa itu ilmu, pengetahuan, teori, dan penelitian. Berdasarkan skenario:
Seorang mahasiswa PSIK akan melakukan penelitian, akan tetapi sebelumnya ia harus memahami ilmu, pengetahuan, dan teori-teori sesuai dengan bidang kajiannya. Oleh karena itu, ia harus memahami apa sebenarnya hakikat ilmu pengetahuan, teori, dan penelitianitu sendiri. Untuk mengumpulkan ilmu pengetahuandapat dilakukan melalui pendekatan ilmiah seperti berpikir induktif, deduktif, dan reflektif serta memahami proses penyelesaian masalah.
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya.
Secara umum teori diartikan sebagai pendapat. Sedangkan dalam pengertian khusus, teori hanya digunakan dalam lingkungan ilmu atau biasa disebut teori ilmiah. Teori dianggap sebagai sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala sosial maupun natura yang ingin diteliti dan juga merupakan alat dari ilmu (tool of science)
Teori mempunyai hubungan yang erat dengan penelitian dan juga dapat meningkatkan arti dari penemuan penelitian. Tanpa teori, penemuan tersebut akan merupakan keterangan-keterangan empiris yang berpencar. Makin banyak penelitian yang dituntun oleh teori, maka makin banyak pula kontribusi penelitian yang secara langsung dapat mengembangkan ilmu pengetahuan (disarikan dari Moh. Nazir, 1983:22-25).

Dalam ilmu pengetahuan, teori dalam ilmu pengetahuan berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dan dievaluasi menurut metode ilmiah.


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Ilmu (ilmu pengetahuan)
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.
Kata ilmu dalam bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan lain sebagainya.
Syarat-syarat ilmu
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
1.       Objektif.
Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
2.       Metodis
upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3.       Sistematis.
Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4.       Universal.
Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
B.      Pengetahuan
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman indrawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.
Selain pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang didapatkan melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi.
Pengetahuan tentang keadaan sehat dan sakit adalah pengalaman seseorang tentang keadaan sehat dan sakitnya seseorang yang menyebabkan seseorang tersebut bertindak untuk mengatasi masalah sakitnya dan bertindak untuk mempertahankan kesehatannya atau bahkan meningkatkan status kesehatannya. Rasa sakit akan menyebabkan seseorang bertindak pasif dan atau aktif dengan tahapan-tahapannya.
Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
o   Pendidikan
Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia.

o   Media
Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah.

o   Keterpaparan informsi
Pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary, adalah “that of which one is apprised or told: intelligence, news”. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisa, dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Sedangkan informasi sendiri mencakup data, teks, image, suara, kode, program komputer, databases . Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan(intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan observasi terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi.
C.      Hakekat Ilmu Pengetahuan
Moh. Nazir, Ph.D (1983:9) mengemukakan bahwa ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan, baik natura atau pun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum. Sedangkan Ahmad Tafsir (1992:15) memberikan batasan ilmu sebagai pengetahuan logis dan mempunyai bukti empiris. Sementara itu, Sikun Pribadi (1972:1-2) merumuskan pengertian ilmu secara lebih rinci (ia menyebutnya ilmu pengetahuan), bahwa :
“Obyek ilmu pengetahuan ialah dunia fenomenal, dan metode pendekatannya berdasarkan pengalaman (experience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen, survey, studi kasus, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu diolah oleh fikiran atas dasar hukum logika yang tertib. Data yang dikumpulkan diolah dengan cara analitis, induktif, kemudian ditentukan relasi antara data-data, diantaranya relasi kausalitas. Konsepsi-konsepsi dan relasi-relasi disusun menurut suatu sistem tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang terintegratif. Keseluruhan integratif itu kita sebut ilmu pengetahuan.”
Di lain pihak, Lorens Bagus (1996:307-308) mengemukakan bahwa ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke obyek (atau alam obyek) yang sama dan saling keterkaitan secara logis.
Dari beberapa pengertian ilmu di atas dapat diperoleh gambaran bahwa pada prinsipnya ilmu merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan pengetahuan atau fakta yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, dan dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survai, studi kasus dan lain-lain)
Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
1.       obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif
2.       koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan
3.       reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi,
4.       valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal,
5.       memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum
6.       akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi, dan
7.       dapat melakukan prediksi; ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal
D.      Teori
Secara umum teori diartikan sebagai pendapat. Sedangkan dalam pengertian khusus, teori hanya digunakan dalam lingkungan ilmu atau biasa disebut teori ilmiah. Dalam pengertian khusus ini, Kerlinger (1973:9) menyatakan bahwa :
“ A theory is a set of interrelated constructs (concepts), definitions, and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaning and predicting the phenomena.”
Di dalam definisi ini terkandung tiga konsep penting. Pertama, suatu teori adalah satu set proposisi yang terdiri atas konsep-konsep yang berhubungan. Kedua, teori memperlihatkan hubungan antarvariabel atau antar konsep yang menyajikan suatu pandangan yang sistematik tentang fenomena. Ketiga, teori haruslah menjelaskan variabelnya dan bagaimana variabel itu berhubungan.
Dengan demikian, teori dianggap sebagai sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala sosial maupun natura yang ingin diteliti dan juga merupakan alat dari ilmu (tool of science). Di lain pihak, teori juga merupakan alat penolong teori. Sebagai alat dari ilmu, teori mempunyai peranan sebagai :
a)      teori sebagai orientasi utama dari ilmu,
b)      teori sebagai konseptualisasi dan klasifikasi,
c)       teori meringkas fakta,
d)      teori memprediksi fakta-fakta, dan
e)      teori memperjelas celah kosong.

Teori mempunyai hubungan yang erat dengan penelitian dan juga dapat meningkatkan arti dari penemuan penelitian. Tanpa teori, penemuan tersebut akan merupakan keterangan-keterangan empiris yang berpencar. Makin banyak penelitian yang dituntun oleh teori, maka makin banyak pula kontribusi penelitian yang secara langsung dapat mengembangkan ilmu pengetahuan (disarikan dari Moh. Nazir, 1983:22-25).
Dalam ilmu pengetahuan, teori dalam ilmu pengetahuan berarti model atau kerangka pikiran yang menjelaskan fenomena alami atau fenomena sosial tertentu. Teori dirumuskan, dikembangkan, dan dievaluasi menurut metode ilmiah. Teori juga merupakan suatu hipotesis yang telah terbukti kebenarannya. Manusia membangun teori untuk menjelaskan, meramalkan, dan menguasai fenomena tertentu (misalnya, benda-benda mati, kejadian-kejadian di alam, atau tingkah laku hewan). Sering kali, teori dipandang sebagai suatu model atas kenyataan (misalnya : apabila kucing mengeong berarti minta makan).
Ø  Elemen Teori
Di dalam sebuah teori terdapat beberapa elemen yang mengikutinya. Elemen ini berfungsi untuk mempersatukan variabel-variabel yang terdapat di dalam teori tersebut. Diantaranya:
1.       Konsep.
Konsep adalah sebuah ide yang diekspresikan dengan symbol atau kata. Konsep dibagi dua yaitu, simbol dan definisi.Dalam ilmu alam konsep dapat diekspresikan dengan simbol-simbol seperti, ”∞” = tak terhingga, ”m”= Massa, dan lainya. Akan tetapi, kebanyakan di dalam ilmu sosial konsep ini lebih diekspresikan dengan kata-kata tidak melalui simbol-simbol. Menurut Neuman kata-kata juga merupakan simbol karena bahasa itu sendiri adalah simbol. Karena mempelajari konsep dan teori seperti mempelajari bahasa. Konsep selalu ada di mana pun dan selalu kita gunakan. Misalnya kita membicarakan tentang pendidikan. Pendidikan merupakan suatu konsep, ia merupakan ide abstrak yang hanya didalam pikiran kita saja.
2.       Scope.
Dalam teori seperti yang dijelaskan di atas memiliki konsep. Konsep ini ada yang bersifat abstrak dan ada juga yang bersifat kongkret. Teori dengan konsep-konsep yang abstrak dapat diaplikasikan terhadap fenomena sosial yang lebih luas, dibanding dengan teori yang memiliki konsep-konsep yang kongkret. Contohnya, teori yang diungkapkan oleh Lord Acton ”kekuasaan cenderung dikorupsikan”. Dalam hal ini kekuasaan dan korupsi ada pada lingkup yang abstrak. Kemudian kekuasaan ini dalam lingkup kongkret sepeti presiden, raja, jabatan ketua RT,dll. Dan korupsi dalam lingkup kongkret seperti korupsi uang.

3.       Relationship.
Teori merupakan sebuah relasi dari konsep-konsep atau secara lebih jelasnya teori merupakan bagaimana konsep-konsep berhubungan. Hubungan ini seperti pernyataan sebab-akibat (causal statement) atau proposisi. Proposisi adalah sebuah pernyataan teoritis yang memperincikan hubungan antara dua atau lebih variable, memberitahu kita bagaimana variasi dalam satu konsep dipertangggung jawabkan oleh variasi dalam konsep yang lain. Ketika seorang peneliti melakukan tes empiris atau mengevaluasi sebuah hubungan itu, maka hal ini disebut sebuah hipotesa. Sebuah teori sosial juga terdiri dari sebuah mekanisme sebab akibat, atau alasan dari sebuah hubungan, sedangkan mekanisme sebab akibat adalah sebuah pernyataan bagaimana sesuatu bekerja.
E.       Hakekat Teori
Teori dianggap sebagai sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala sosial maupun natura yang ingin diteliti dan juga merupakan alat dari ilmu (tool of science). Di lain pihak, teori juga merupakan alat penolong teori.
Sebagai alat dari ilmu, teori mempunyai peranan sebagai:
(a) teori sebagai orientasi utama dari ilmu
(b) teori sebagai konseptualisasi dan klasifikasi
(c) teori meringkas fakta
(d) teori memprediksi fakta-fakta
(e) teori memperjelas celah kosong.
Teori mempunyai hubungan yang erat dengan penelitian dan juga dapat meningkatkan arti dari penemuan penelitian. Tanpa teori, penemuan tersebut akan merupakan keterangan-keterangan empiris yang berpencar. Makin banyak penelitian yang dituntun oleh teori, maka makin banyak pula kontribusi penelitian yang secara langsung dapat mengembangkan ilmu pengetahuan (disarikan dari Moh. Nazir, 1983:22-25)

F.       Pendekatan ilmiah
Suatu pendekatan yang merupakan metodologi (urut-urutan berpikir secara logik dan sistematis dalam mengkaji kebenaran-kebenaran) yang bersifat rasional, sehingga mendapatkan kebenaran koherensi yang bersifat empirik dan obyektif yang berdasarkan kebenaran korespondensi, serta mengandung maslahat bagi kehidupan manusia.
Pendekatan ilmiah adalah pendekatan disipliner dan pendekatan ilmu pengetahuan yang fungsional terhadap masalah tertentu. (Kamus Besar Bahasa Indonesia; PN Balai Pustaka, 1989). Pendekatan ilmiah wujudnya adalah metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapat lewat metode ilmiah.
Menurut Checkland (1993), berdasarkan sejarah perkembangan ilmu, didapatkan tiga karakteristik utama dari pendekatan ilmiah, yaitu:
1.Reductionism
2. Repeatability
3. Refutation
Almack (1939) membuat batasan bahwa metode ilmiah adalah suatu cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan, dan penjelasan kebenaran. Dengan demikian, maka penelitian pada dasarnya adalah proses penerapan metode ilmiah tersebut yang hasilnya adalah ilmu (kebenaran).
Untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan dapat dilakukan melalui pendekatan ilmiah seperti berfikir dedukti, induktif, dan reflektif, serta memahami proses penyelesaian masalah.
1.       Berfikir induktif
Induksi atau induktif adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat umum. Hal ini berarti dalam berpikir induksi permbuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ditangkap oleh indra. Kemudian disimpulkan dalam satu konsep yang memungkinkan sesorang untuk memahami suatu gejala. Karena proses berpikir induksi itu beranjak dari hasil pengamatan indra atau hal-hal yang nyata, maka dapat dikatakan bahwa induktif beranjak dari hal-hal yang konkret kepada hal-hal yang abstrak.
Proses berpikir induksi dikelompokkan menjadi dua, yakni induksi sempurna dan tidak sempurna. Induksi sempurna terjadi apabila kesimpulan diperoleh dari penjumlahan dari kesimpulan khusus. Misalnya, masing-masing atau tiap-tiap anak yang lahirnya prematur perkembangannya lambat. Jadi, kesimpulannya, semua anak yang lahir prematur perkembangannya lambat. Proses berpikir induksi ini terjadi apabila dalam proses berpikir tersebut menggunakan hasil pengamatan terhadap seluruh kejadian khusus yang berhubungan dengan satu hal, karena itu disebut induksi sempurna atau lengkap. Dalam hal ini proses berpikir berusaha mengidentifikasi seluruh subjek yang menjadi anggota objek yang diamati secara satu persatu, kemudian keseluruhan objek itu diidentifikasi pula keumumannya (kesamaan-kesamaannya dalam sesuatu hal) dan ditarik kesimpulan umumnya.
Sedangkan induksi tidak sempurna terjadi apabila kesimpulan diperoleh dari lompatan pernyataan-pernyataan yang khusus. Hal ini berarti bahwa dasar dari kesimpulan tersebut bukan penjumlahan dari tiap-tiap subjek yang diamati, melainkan hanya beberapa subjek saja sebagai sampel.
2.       Berpikir deduktif
Deduktif adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum ke khusus. Silogisme merupakan suatu bentuk deduksi yang memungkinkan seseorang untuk dapat mencapai kesimpulan yang baik. Silogisme sebagai bentuk berpikir deduksi yang tertatur terdiri dari tiga pernyataan atau proposisi, yaitu:
o   Pernyataan pertama disebut premis mayor yang berisi pernyataan yang bersifar umum.
o   Pernyataan kedua disebut premis minor, sifatnya lebih khusus daripada pernyataan pertama.
o   Pernyataan ketiga disebut konklusi yang merupakan kesimpulan.
3.       Berpikir Reflektif
Berpikir Reflektif adalah berpikir untuk mengingat kembali terhadap apa yang sudah dilakukan dalam rangka melakukan instropeksi , refleksi dan sipirit koreksi atas berbagai kualitas dan cara kerja yang sudah dilakukan dalam kehidupan ini .
Kemampuan berfikir reflektif terdiri atas 5 komponen yaitu:
a)      Recognize or felt difficulty/problem, merasakan dan mengidentifikasikan masalah
b)      Location and definition of the problem, membatasi dan merumuskan masalah
c)       Suggestion of posible solution, mengajukan beberapa kemungkinan alternatif solusi pemecahan masalah
d)      Rational elaboration of an idea, mengembangkan ide untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan data yang dibutuhkan
e)      Test and formation of conclusion, melakukan tes untuk menguji solusi pemecahan masalah dan menggunakannya sebagai bahan pertimbangan membuat kesimpulan.
Model pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan reflektif dikembangkan berdasarkan pendekatan filosofis konstruktivisme dan psikologi kognitif. Konstruktivisme dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang didasarkan pada pengalaman (experience is the only basis for knowledge and wisdom), yang kemudian direorganisasi dan direkonstruksikan.

G.     Penelitian
Penelitian pada hakikatnya adalah suatu upaya untuk memahami dan memencahkan masalah secara ilmiah, sistematis, dan logis . istilah ilmiah disini diartikan kebenaran pengetahuan yang didasarkan pada fakta empiris ,yang diperoleh dari penyelidikan secara berhati- hati dan bersifat objektif .
Penelitian dilakukan melalui berbagai jenis cara, yang ditinjau dari caranya:
1.       Operation research
Adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh seseorang  yang bekerja mengenai apa yang sedang ia laksanakan tanpa mengubah sistem pelaksanaanya.
2.       Eksperimen
Dengan cara ini peneliti sengaja membangkitkan timbulnya sesuatu kejadian atau keadaan, kemudian diteliti bagaimana akibatnya, dengan kata lain, eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat  antara dua factor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminisasi atau mengurangi atau menyisihkan factor – factor yang menggangaggu. Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat suatu  perlakuan.

Ragam Penelitian
Banyak sekali ragam penelitian yang dapat kita lakukan, diantaranya :
1.       Penelitian ditinjau dari tujuan
Ø  Penelitian eksploratif adalah penelitian yang diadakan untuk menemukan sebab musabab  atau hal – hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu.
Ø  Penelitian developmental atau penelitian pengembangan adalah penelitian yang diadakan untuk penyempurnaan melalui percobaan
Ø  Penelitian verifikatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengecek kebenaran hasil penelitian lain.
Ø  Penelitian kebijakan adalah yang dilakukan oleh lembaga pemerintah karena diberlakukan secara luas
2.       Penelitian dari bidang ilmu
Berkenaan dengan jenis spesialisasi dan interest,maka tentu saja bidang ilmu yang diteliti banyak sekali ragamnya menurut siapa yang mengadakan penelitian.Misalnya, penelitian terhadap pendidikan,keolahragaa, perbankan,kedokteran.
3.       Penelitian ditinjau dari tempatnya
Penelitian banyak dilakukan di laboratorium.Akan tetapi selain di laboratorium,penelitian di perpustakaan juga banyak dilakukan.Penelitian ini akan menghasilkan suatu kesimpulan tentang gaya bahasa buku,ilustrasi,tata tulis dan sebagainya.
4.       Penelitian ditinjau dari hadirnya variable
Variabel adalah hal-hal yang menjadi objek penelitian,yang ditatap dalam suatu penelitian,yang menunjukkan variasi baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang berarti ‘ubahan ‘ karena dapat berubah-ubah,bervariasi.
Apabila dilihat dari saat terjadinya ada variable masa lalu,masa sekarang dan masa yang akan datang.Penelitian yang dilakukan dengan menjelaskan variable masa lalu dan sekarang adalah penelitian deskriptif, sedangkan penelitian yang dilakukan terhadap variable masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen.
Persyaratan Penelitian
Ada tiga persyaratan penting dalam mengadakan penelitian yaitu:
·         Sistematis : dilaksanakan menurut pola tertentu,dari yang paling sederhana sampai kompleks hingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien.
·         Berencana : ddilaksanakan dengan adanya unsure dipikirkan langkah-langkah pelaksanaannya.
·         Mengikuti konsep ilmiah : mulai awal sampai akhir kegiatan penelitian mengikuti cara-cara yang sudah ditentukan,yaitu prinsip yang digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Langkah-langkah penelitian
1.       Memilih masalah
Memilih masalah bukanlah pekerjaan yang paling mudah terutama bagi orang-orang yang belum  banyak pengalaman meneliti.Untuk itu diperlukan kepekaan dari calon peneliti.Apabila sudah berpengalaman meneliti,masalah-masalah ini akan timbul dalam bentuk keinginan untuk segera dilakukan pemenuhannya.
2.       Studi Pendahuluan
Walaupun sudah diperoleh suatu masalah untuk diteliti,sebelum mengadakan penelitian yang sesungguhnya,peneliti mengadakan suatu studi pendahuluan.Studi pendahuluan juga dimaksudkan untuk mencari informasi yang diperlukan oleh peneliti agar masalahnya menjadi lebih jelas kedudukannya.

3.       Merumuskan masalah
Apabila sudah memperoleh informasi yang cukup,dari studi pendahuluan atau studi eksploratoris,maka masalah yang diteliti menjadi jelas.Agar penelitian dapat dilaksanakan sebaik-baiknya maka peneliti harus merumuskan masalahnya,sehingga jelas darimana harus mulai,kemana harus pergi dan dengan apa.

4.       Merumuskan Anggapan Dasar
Anggapan dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal-hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti didalam melaksanakan penelitiannya.
Hipotesis
Jika anggapan dasar merupakan dasar fikiran yang memungkinkan kita mengadakan penelitian tentang permasalahan kita, maka hipotesis merupakan kebenaran sementara yang ditentukan oleh peneliti,tetapi mesti harus dibuktikan,di tes atau di uji kebenarannya.Hipotesis merupakan Langkah ini diberi nomor 4a karena tidak semua penelitian menggunakan hipotesis. Bagi penelitian non hipotesis langkah ini tidak dilalui.

5.       Memilih pendekatan
Yang dimaksud pendekatan disini adalah metode atau cara mengadakan penelitian seperti halnya : eksperimen atau non-eksperimen.Tetapi disamping itu juga menunjukkan jenis atau tipe penelitian yang diambil,di pandang dari segi tujuan,misalnya eksploratif,deskriptif atau kasus.Penentuan pendekatan ini akan sangat menentukan apa variabel atau objek penelitian yang akan ditatap dan sekaligus menentukan subjek penelitian atau sumber dimana kita akan memperoleh data.

6.       Menentukan variabel dan sumber data
Langkah keenam ini menjawab pertanyaan:
a.       apa yang akan diteliti?
b.      Dan dari mana data diperoleh?
 Kedua hal ini harus diidentifikasikan secara jelas agar dengan tepat ditentukan alat apa yang akan kita gunakan untuk mengumpulkan datanya.  Kedua langkah ini diberi no 6a dan 6b karena dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan, begitu pemeliti menyebutkan satu macam apa yang akan di teliti seyogiannyalangsung menentukan dari mana data untuk variabeltersebut akan diperoleh.
7.       Menentukan dan menyusun instrument
Setelah peneliti mnegetahui dengana pasti ada yang akan diteliti dan dari mana data bias diperoleh, maka langkah yang segera diambil adalah menentukan dengan apa data yang akan ditentukan. Instrument ini sangat tergantung dari jenis data dan dari mana di peroleh.

8.       Mengumpulkan data
Apabila peneliti sudah menentukan data apa yang akan dikumpulkan, dari mana data tersebut dapat diperoleh, dan dengan cara apa, maka dirinya sendiri maupun orang lain yang kan membantu, sudah mengetahui dengan pasti apa yang berikutnya akan dilakukan, jika memperoleh data yang salah, tentu saja kesimpulannya salah pula, dan hasil peneltiannya menjadi palsu.

9.       Analisi data
Menganalisis data membutuhkan ketekunan dan pengertian terhadap jenis data. Jenis data akan menuntut teknik analisi data.
10.   Menarik kesimpulan
Jika pekerjaan meneliti telah selesai, dan peneliti tinggal mengambil konklusi dari hasil pengolahan data, kemudian dicocokan dnegan hipotesis yang telah dirumuskan. Dalam menarik suatu kesimpulan penelitian, peneliti tidak boleh mendorong atau mengarahkan agar hipotesisnya terbukti.
11.   Menyusun laporan
Kegiatan penelitian menuntut agar hasilnya disusun, ditulis dalam bentuk laporan penelitian agar hasilnya diketahui orang lain, serta prosedurnyapun diketahui orang lain pula, sehingga dapat mengecek kebenaran pekejaan penelitian tersebut.                                       
                                                          
H.     Fakta
Pentingnya mengetahui dan memahami hakikat ilmu pengetahuan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penelitian untuk melakukan penelitian serta membuat tulisan ilmiah.
Sebuah penelitian atau tulisan ilmiah akan terstruktur dengan baik apabila penulis memahami metode penelitian.
I.        Tujuan Pembelajaran
Dengan memgetahui serta mempelajari apa itu ilmu, pengetahuan, ilmu pengetahuan, hakekat ilmu serta metode penilitian kita dapat melakukan penelitian dan membuat tulisan ilmiah sesuai dengan kerangka ilmiah, karena penelitian tidak dapat dilakukan tampa adanya dasar ilmu pengetahuan.begitupun sebaliknya, ilmu pengetahuan tidak diketahui tampa penelitian.
Tujuan penelitian kesehatan atau kedokteran erat hubungannya dengan jenis penelitian yang akan dilakukan. Secara umum tujuan tersebut adalah:
1.       Menemukan atau menguji fakta baru maupun fakta lama sehubungan dengan bidang kesehatan atau kedokteran.
2.       Mengadakan analisis terhadap hubungan atau interaksi antara fakta-fakta yang ditemukan dalam bidang kesehatan atau kedokteran.
3.       Menjelaskan tentang fakta yang ditemukan serta hubungannya dengan teori-teori yang ada.
4.       Mengembangkan alat, teori, atau konsep baru dalam bidang kesehatan atau kedokteran.
5.       Meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya peningkatan kesejahteraan umat manusia.

















BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya.
Secara umum teori diartikan sebagai pendapat. Sedangkan dalam pengertian khusus, teori hanya digunakan dalam lingkungan ilmu atau biasa disebut teori ilmiah. Teori dianggap sebagai sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematik dalam gejala sosial maupun natura yang ingin diteliti dan juga merupakan alat dari ilmu (tool of science)
Teori mempunyai hubungan yang erat dengan penelitian dan juga dapat meningkatkan arti dari penemuan penelitian. Tanpa teori, penemuan tersebut akan merupakan keterangan-keterangan empiris yang berpencar. Makin banyak penelitian yang dituntun oleh teori, maka makin banyak pula kontribusi penelitian yang secara langsung dapat mengembangkan ilmu pengetahuan (disarikan dari Moh. Nazir, 1983:22-25).

B.      Saran
Setelah mengetahui dan memahami segala hal tentang ilmu, pengetahuan, teori, hakikat ilmu pengetahuan dan teori, serta penelitian, seorang mahasiswa akan mampu melakukan penelitian dan membuat tulisan ilmiah secara terstruktur dan dapat dipahami oleh orang lain serta bermanfaat. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu untuk menguasai dasar dari penelitian itu sendiri.  






DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, suharsina. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Saryono. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan.Yogyakarta: Mitra Cendikia
www.wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!