Kamis, 26 Mei 2011

KONSEP KEPERAWATAN ANAK (3)

Download makalah tumbang, bermain dan hospitalisasi anak DISINI atau klik download link:
http://www.ziddu.com/download/16439912/RTUMBUHANPERKEMBANGANANAKbermaindanhospitalisasi.docx.html

Download makalah tumbang, bermain dan hospitalisasi anak vers 2 DISINI atau klik download link:http://www.ziddu.com/download/16439911/TUMBUHANPERKEMBANGANANAKBERMAINDANHOSPITALISASI2.docx.html


PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
BERMAIN DAN HOSPITALISASI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Papalia (1995), seorang ahli perkembangan manusia dalam bukunya Human Development, mengatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan bermain anak-anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri.
Dengan bermain, anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau keahlian baru dan belajar (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang.
Dalam kondisi sakit atau sehat anak dirawat di Rumah Sakit, aktivitas bermain ini tetap perlu dilaksanakan, namun harus sesuai dengan kondisi anak.Oleh karena itu perawat perlu memahami tentang terapi bermain untuk anak.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan suatu permasalahan dalam makalah ini antara lain sebagai berikut :
A.    Apa saja factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak?
B.     Apa saja factor yang mempengaruhi bermain dan hospitalisasi pada anak?

1.3  TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penulis dapat memahami tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
A.    Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak?
B.     Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi bermain dan hospitalisasi pada anak?

                                                                            BAB II
TEORI

 POSTER PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK (BAG 2), BERMAIN DAN HOSPITALISASI

2.1  PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
A.    Perkembangan Kepribadian dan Fungsi Mental
Dasar Teoritik Perkembangan Kepribadian
Menurut freud, semua prilaku manusia digerakkan oleh kekuatan psikodinamik, dan energi fisik ini dibagi menjadi 3 komponen  : id, ego dan superego. Id , pikiran bawah sadar , merupakan komponen dari lahir yang digerakkan oleh insting. Ego , pikiran sadar , memberikan prinsip-prinsip relita. Berfungsi sebagai kesadaran atau pengendalian diri yang mampu menentukan arti realistic tentang memuaska insting sambil menghambat pikiran irasional dari id. Superego , suara hati , berfungsi sebagai hakim moral dan mewakili ideal.
1)      Perkembangan Psikoseksual Sigmund Freud
Menurut Sigmund Freud (1856-1939) Fase-fase perkembangan individu didorong oleh energi psikis yang disebut libido (dorongan kehidupan yang sudah ada sejak bayi). Freud membagi perkembangan manusia menjadi 6 fase :
a)      Fase Oral (0-1tahun)
Pada mulanya bayi tidak dapat membedakan antara bibirnya dengan puting susu ibunya, yaitu asosiasi antara rasa kenyang dengan pemberian asi. Bayi hanya sadar akan kebutuhannya sendiri dan pada waktu menunggu terpenuhi kebutuhannya, bayi menjadi frustasi dan baru sadar akan adanya obyek pemuas pada waktu kebutuhannya terpenuhi. Inilah pengalaman pertama kesadaran akan adanya obyek diluar dirinya. Jadi kelaparan menuntutnya untuk mengenal dunia luar.

Reaksi primitif pertama terhadap obyek yaitu bayi berusaha memasukkan semua benda yang dipegangnya ke mulut. Bayi merasa bahwa mulut adalah tempat pemuasan (oral gratification). Rasa lapar dan haus terpenuhi dengan menghisap puting susu ibunya. Kebutuhan-kebutuhan, persepsi-persepsi dan cara ekspresi bayi secara primer dipusatkan di mulut, bibir, lidah dan organ lain yang berhubungan dengan daerah mulut.

Dorongan oral terdiri dari 2 komponen yaitu dorongan libido dan dorongan agresif. Dorongan libido yaitu dorongan seksual pada anak, yang berbeda dengan libido pada orang dewasa. Dorongan libido merupakan dorongan primer dalam kehidupan yang merupakan suber energi dari ego dalam mengadakan hubungan dengan lingkungan, sehingga memungkinkan pertumbuhan ego. Ketegangan oral akan membawa pada pencarian kepuasan oral yang ditandai dengan diamnya bayi pada akhir menyusui. Sedangkan dorongan agresif dapat terlihat dalam perilaku menggigit, mengunyah, meludah, dan menangis.

Pada fase oral ini, peran Ibu penting untuk memberikan kasih sayang dengan memenuhi kebutuhan bayi secepatnya. Jika semua kebutuhannya terpenuhi, bayi akan merasa aman, percaya pada dunia luar. Hal ini merupakan dasar perkembangan selanjutnya dalam berhubungan dengan dunia luar. Jika pada fase oral ini bayi merasakan kekecewaan yang mendalam, hal ini akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Pada waktu dewasa akan mengalami gangguan tingkah laku seksual misalnya kepribadian oral sadistik yang dimanifestasikan dalam penyimpangan seksual sadisme, yaitu kepuasan seks yang dicapai bila didahului atau disertai tindakan yang menyakitkan. Sebaliknya, bila bayi mendapat kepuasan yang berlebihan maka dalam perkembangan selanjutnya dapat menjadi sangat optimis, narcistik (cinta diri sendiri), dan selalu menuntut.

b)      Fase Anal (1-3tahun)
Fase ini ditandai dengan matangnya syaraf-syaraf otot sfingter anus sehingga anak mulai dapat mengendalikan beraknya. Pada fase ini kepuasan dan kenikmatan anak terletak pada anus. Kenikmatan didapatkan pada waktu menahan berak. Kenikmatan lenyap setelah berak selesai. Jika kenikmatan yang sebenarnya diperoleh anak dalam fase ini ternyata diganggu oleh orangtuanya dengan mengatakan bahwa hasil produksinya kotor, jijik dan sebagainya, bahkan jika disertai dengan kemarahan atau bahkan ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan, maka hal ini dapat mengganggu perkembangan kepribadian anak. Dimana pada perkembangan seksualitas deawasa anak merasa jijik (kotor) terhadap alat kelaminnya sendiri dan tidak dapat menikmati hubungan seksual dengan partnernya. Oleh karena itu sikap orangtua yang benar yaitu mengusahakan agar anak merasa bahwa alat kelamin dan anus serta kotoran yang dikeluarkannya adalah sesuatu yang biasa (wajar) dan bukan sesuatu yang menjijikkan. 
Hal ini penting, karena akan mempengaruhi pandangannya terhadap seks nantinya. Jika terjadi hambatan pada fase anal, anak dapat mengembangkan sifat-sifat tidak konsisten, kerapian, keras kepala, kesengajaan, kekikiran yang merupakan karakter anal yang berasal dari sisa-sisa fungsi anal. Jika pertahanan terhadap sifat-sifat anal kurang efektif, karakter anal menjadi ambivalensi (ragu-ragu) berlebihan, kurang rapi, suka menentang, kasar dan cenderung sadomsokistik (dorongan untuk menyakiti dan disakiti). Karakter anal yang khas terlihat pada penderita obsesif kompulsif. Penyelesaian fase anal yang berhasil, menyiapkan dasar untuk perkembangan kemandirian, kebebasan, kemampuan untuk menentukan perilaku sendiri tanpa rasa malu dan ragu-ragu, kemampuan untuk menginginkan kerjasama yang baik tanpa perasaan rendah diri.

c)      Fase Falik (3-5tahun)
Pada fase ini anak mula mengerti bahwa kelaminnya berbeda dengan kakak, adik atau temannya. Anak mulai merasakan bahwa kelaminnya merupakan tempat yang memberikan kenikmatan ketika ia mempermainkan bagian tersebut. Tetapi orangtua sering marah bahkan mengeluarkan ancaman bila melihat anaknya memegang atau mempermainkan kelaminnya. Pada fase ini, anak laki-laki dapat timbul rasa takut bahwa penisnya akan dipotong (dikebiri). Ketakutan yang berlebihan tersebut dapat menjadi dasar penyebab gangguan seksual seperti impotensi primer dan homoseksual. 
Pada fase ini muncul rasa erotik anak terhadap orangtua dari jenis kelamin yang berbeda. Rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seks tampak dalam tingkah laku anak, misalnya membuka rok ibunya, meraba buah dada atau alat kelamin orangtuanya. Daya erotik anak laki-laki terhadap ibunya, disertai rasa cemburu terhadap ayahnya, dan keinginan untuk mengganti posisi ayah disamping ibu, disebut kompleks Oedipus. Untuk anak wanita disebut kompleks Elektra. Kompleks elektra biasanya disertai rasa rendah diri karena tidak mempunyai kelamin seperti anak laki-laki dan merasa takut jika terjadi kerusakan pada alat kelaminnya. Bila kompleks oedipus/elektra tidak dapat diselesaikan dengan baik, dapat menyebabkan gangguan emosi pada kemudian hari.

d)     Periode Laten (5-12tahun)
Pada fase ini semua aktifitas dan fantasi seksual seakan-akan tertekan, karena perhatian anak lebih tertuju pada hal-hal di luar rumah. Tetapi keingin-tahuan tentang seksualitas tetap berlanjut. Dari teman-teman sejenisnya anak-anak juga menerima informasi tentang seksualitas yang sering menyesatkan. Keterbukaan dengan orangtua dapat meluruskan informasi yang salah dan menyesatkan itu. Pada fase ini dapat terjadi gangguan hubungan homoseksual pada laki-laki maupun wanita. Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kurang berkembangnya kontrol diri sehingga anak gagal mengalihkan energinya secara efisien pada minat belajar dan pengembangan ketrampilan.

e)      Fase Genital (12 tahun keatas)  
Pada fase ini, proses perkembangan psikoseksual mencapai "titik akhir". Organ-organ seksual mulai aktif sejalan denga mulai berfungsinya hormon-hormon seksual, sehingga pada saat ini terjadi perubahan fisik dan psikis. Secara fisik, perubahan yang paling nyata adalah pertumbuhan tulang dan perkembangan organ seks serta tanda-tanda seks sekunder. Remaja putri mencapai kecepatan pertumbuhan maksimal pada usia sekitar 12- 13 tahun, sedangkan remaja putra sekitar 14-15 tahun. Akibat perbedaan waktu ini, biasanya para gadis tampak lebih tinggi daripada anak laki-laki seusia pada periode umur 11-14 tahun Perkembangan tanda seksual sekunder pada gadis adalah pertumbuhan payudara, tumbuhnya rambut pubes dan terjadinya menstruasi, pantat mulai membesar, pinggang ramping dan suara feminin. Sedangkan pada anak laki-laki terlihat buah pelir dan penis mulai membesar, tumbuhnya rambut pubes, rambut kumis, suara mulai membesar. Terjadi mimpi basah, yaitu keluarnya air mani ketika tidur (mimpi basah). Bersamaan dengan perkembangan itu, muncullah gelombang nafsu birahi baik pada laki-laki maupun wanita. Secara psikis, remaja mulai mengalami rasa cinta dan tertarik pada lawan jenisnya. Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kekacauan identitas.

2)      Perkembangan Psikososial ( Erik Erickson)
a)       Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)
Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan.

b)      Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu.

c)      Inisiatif vs Kesalahan
Tahap ketiga adalah tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan.

d)        Kerajinan vs Inferioritas
Tahap keempat adalah tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri.

e)        Identitas vs Kekacauan Identitas
Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah masyarakat

f)      Keintiman vs Isolasi
Yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri.

g)        Generativitas vs Stagnasi
Masa dewasa (dewasa tengah) berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi).

h)    Integritas vs Keputusasaan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan. 


B.     Dasar Teori Perkembangan Mental
1)      Perkembangan kognitif  piaget
Menurut Piaget intelegensia memmungkinkan individu melakukan adaptasi terhadap lingkungan sehingga meningkatkan kemungkinan bertahan hidup , dan melalui perilakunya , individu membentuk dan mempertahakan keseimbangan dengan ligkungan. Piaget mengemukakan tiga tahap berfikir : 1. Intuisi , 2 opearsional konkret , 3 operasional formal.
a) fase sensorimotor (lahir – 2 tahun)
§  tahap 1 : Penggunaan aktivitas refleks (lahir – 1 bulan)
§  tahap 2 : reaksi sirkular primer (1-4 bulan)
§  tahap 3 : reaksi sirkular sekunder            (4-8 bulan)
§  tahap 4 : koordinasi dari skema sekunder (8-12 bulan)
§  tahap 5 : reaksi sirkular tersier               (12-18 bulan)
§  tahap 6 : intervensi dari arti baru            (18-24 bulan)    

b)      fase preoperasional (2-7 tahun)
simbol seperti kata untuk mewakili manusia, benda dan tempat. Kemampuan berfokus hanya pada satu aspek pada satu waktu, dan pemikiran sering terlihat tidak logis

c)      fase konkret operasional (7-11 tahun)
memecahkan masalah konkret, mulai mengerti tentang suatu hubungan misalnya ukuran, mengerti kanan dan kiri. Dan Anak dapat membuat alasan mengenai apa itu, tapi tidak dapat membuat hipotesa mengenai apa kemungkinannya dan dengan demikian tidak dapat berpikir mengenai masalah ke depan

d)      Fase formal operasional (11-15 tahun)
§  Pemikiran rasional, bersifat keakanan
§  Kemampuan untuk berperilaku yang abstrak, dan muncul pemikiran ilmiah
§  Menyadari masalah moral dan politik dari berbagai pandangan yang ada


2)      Perkembangan Bahasa
Anak dilahirkan dengan mekanismen dan kemampuan untuk menegmbangkan bicara dan keterampilan berbahasa. Bagaimanapun , mereka tidak dapat berbicara secara spontan. Lingkunan harus memberikan cara bagi mereka untuk menguasai keterampilan ini. Keahlian bicara membutuhkan struktur dan fungsi fisiologis yang utuh ditambah intelegensi , kebutuhan untuk berkomunikasi dan stimulasi. Laju perkembangan bicara berkaitan denagn kompetensi neurologik dan perkembangan kognitif. Di semua tahap perkembangan bahasa, pemahaman anak tentang perbendaharaan kata yang mereka pahami dan perbendaharaan kata yang merka ucapkan  mencerminkan proses modifikasi dan kontiniu yang melibatkan peolehan kata-kata baru, adanya perluasan atau penghalusan arti dari kata-kata yang dipelajari.

3)      Perkembangan Moral (Kohlberg)
o   Prakonvensional, Terorientasi secara budaya dengan label baik/buruk dan benar/salah.
o   Konvensional, Anak terfokus pada kepatuhan dan loyalitas. Mereka menghargai pemeliharaan harapan keluarga, kelompok atau Negara tanpa memperdulikan konsekuensinya
o   Pascakonvensional, Individu mencapai tahap kognitif operasional formal. Prilaku yang telah sesuai dengan standar yang ada di masyarakat.

4)      Perkembangan Spiritual
Keyakinan spiritual sangat berkaitan dengan bagian moral dan etis dalam konsep diri anak dan oleh karena itu, harus dipertimbangkan sebagai bagian dari pengkajian kebutuhan dasar anak. Anak-anak perlu memiliki arti , tujuan , dan harapan dalam hidupnya.Tidak hanya itu, mereka juga membutuhkan pengakuan dan pemberian maaf, sekalipun pada anak yang masih sangat kecil.
o   Tahap 0: Undifferentiated
Ketika bayi, anak tidak memiliki konsep benar/salah, keyakinan dan tidak ada keyakinan yang membimbing prilaku mereka 

o   Tahap 1: Intuitive-Projective
Anak mulai meniru apa yang dilakukan orang lain dlm segi agama, diusia praskolah, mereka mulai memahami beberapa nilai dan keyakianan orangtuanya.

o   Tahap 2: Mythical-Literal
Selama usia sekolah, anak sangat tertarik pada agamaereka menerima ketuhanan, bagaimana pentingnya do’a, prilaku yang baik/buruk akan mendapat balasannya.

o   Tahap 3: Suntethic- Convention
Saat mendekati remaja, anak mulai menyadari kekecewaan spiritual, mereka bahkan mulai berfikir dan mempertanyakan standar keagamaan orang tuanya sampai ada yang membantahnya.

o   Tahap 4: Individuating- Reflexive
Remaja menjadi lebih skeptis, dan mulai membandingkan berbagai standar keagamaan orangtuanya dengan orang lain, atau dengan sudut pandang ilmiah.


C.    Perkembangan Konsep Diri
Konsep diri mencakup konsep, keyakinan, dan pendirian yang ada dalam pengetahuan seseorang tentang dirinya sendiri dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Dan berkembang perlahan-lahan sebagai hasil pengalaman unik dengan diri sendiri dan orang lain.
1.      Citra Tubuh
Citra tubuh mengacu pada konsep dan sikap subjektif yang dimiliki individu terhadap tubuh mereka sendiri.Citra tubuh terdiri atas sifat fisiologis (persepsi tentang karakteristik fisik sesorang ) , psikologi ( nilai dan sikap terhadap tubuh , kemempuan , dan ideal diri ) dan sifat social tentang citra diri sesorang (diri sendiri dalam kaitannya dengtan orang lain). Ketiga komponen saling berhubungan.

2.      Harga diri
Merupakan nilai yang ditempatkan individu pada diri sendiri dan mengcu pada evaluasi diri secara menyeluruh terhadap diri sendiri (Willoughby, King dan Polatajka,1996). Harga diri berubah sesuai perkembangan. Umpan balik positif meningkatkan harga diri mereka dan rentan terhadap perasaan tidak berharga dan mencemaskan kegagalan. 


D.    Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
1.      Keturunan
Jenis kelamin dan determinan keturunan lain secara kuat mempengaruhi hasil akhir pertumbuhan dan laju perkembangan untuk mendapatkan hasil akhir tersebut. Terdapat hubungan yang besar antara orangtua dan anak dalam hal sifat seperti tinggi badan, berat badan, dan laju pertumbuhan.. Kebanyakan kharakteristik fisik, termasuk pola dan bentuk gambaran , bangun tubuh , dan keganjialan fisik , diturunkan dan dapat mempangaruhi cara pertumbuhan integrasi anak dengan lingkungannya.

2.      Neuroendokrin
Beberapa hubungan fungsional diyakini ada diantara hipotalamus dan system endokrin yang memengaruhi pertumbuhan. Kemungkinan semua hormone mempengaruhi pertumbuhan dan beberapa cara. Tiga hormon-hormon pertumbuhan, hormone tiroid, dan endrogen. Tampak bahwa setiap hormone yang mempunyai pengaruh bermakna pada pertumbuhan memanifestasikan efek utamanya pa periode pertumbuhan yang berbeda.

3.      Nutrisi
Nutrisi mungkin merupakan satu-satunya pengaruh paling pentng pada pertumbuhan. Faktor diet mengatur pertumbuhan pada semua tahap perkembangan, dan efeknya ditujukan pada cara beragam dan rumit.

4.      Hubungan Interpersonal
Hubungan dengan orang terdekat memainkan peran penting dalam perkembangan, terutama dalam perkembangan emosi, intelektual, dan kepribadian. Luasnya rentang kontak penting untuk pembelajaran dan perkembangan kepribadian yang sehat. Ketika anak gagal untuk mempunyai hubungan interpersonal yang berkualitas dengan individu “yang menjadi ibu”, mereka mengalami deprivasi emosi. Gambarab paling menonjol dari deprivasi emosi , terutama selama tahun pertama , adalah keterlambatan perkembangan.

5.      Tingkat Sosioekonomi
Riset menunjukkan bahwa tingkat sosioekonomi keluarga anak mempunyai dampak signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan.

6.      Penyakit
Banyak penyakit kronik dan gangguan apapun yang dicirikan dengan ketidakmampuan untuk mencerna dan mengabsorbsi nutrisi tubuh akan memberi efek merugikan pada pertumbuhan dan perkembangan.

7.      Bahaya lingkungan
Bahaya dilikungan adalah sumber kekhawatiran pemberi asuhan kesehatan dan orang lain yang memerhatikan kesehatan dan keamanan. Bahaya dari residu kimia ini berhubungan dengan potensi kardiogenik, efek enzimatik, dan akumulasi (Baum dan Shannon, 1995) . Cedera fisik paling sering terjadi akibat bahaya lingkungan.

8.      Stress pada Masa Kanak-Kanak
Bila sejumlah stress terjadi pada anak pada saat bersamaan , anak menjadi lebih rentan apabila serangkaian stress menimbulkan beban stress yang berlebihan , anak dapat mengalami perubahan serius dalam kesehatan dan / atau perilaku. Koping adalah tahapan khusus dari reaksi individu terhadap stressor –khususnya , suatu reaksi terhadap stressor yang menghapus , mengurangi , atau menggantikan status emosi yang diklasifikasikan sebagai penuh stress.

9.      Pengaruh Media Masa  
Terdapat peningkatan kekhawatiran mengenai berbagai pengaruh media pada perkembangan anak (Rowitz, 1996)
o   Materi Bacaan
Buku, Koran, dan majalah adalah bentuk media masa paling tua.. Pengenalan dampak materi bacaan yang digunakan disekolah pada system nilai pada proses social telah mendorong evaluasi ulang tentang isi buku.

o   Film
Film yang tidak terikat erat pada kenyataan dan sering menggambarkan berbagi perilaku yang disetujui secara social mungkin memberi kontribusi pada system nilai anak dan memberikan kesempatan untuk pembelajaran social yang diinginkan.Riset menunjukkan bahwa video dapat menurunkan sensitivitas penonton terhadap perilaku kekerasan (Rowtiz, 1996).

o   Televisi
Media dengan dampak paling besar yang telah menjadi salah satu agen penyosialisasi paling penting dalam kehidupan anak kecil. Kontroversi terus berlangsung mengenai pengaruh televisi yang diperlukan vs menggangu pada perkembangan dan perilaku anak. Kebanyakan peneliti telah menyimpulkan bahwa menonton televisi yang berlarut larut memiliki efek menympang pada anak. TV memanjakan anak pada berbagai topic dan kejadian yang lebih luas dari yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.Kebanyakan peneliti telah menyimpulkan bahwa menonton televise yang berturut-turut memiliki efek menyimpang pada anak.

o   Computer/Internet
Penggunaan computer baik diruangan kelas dan dirumah telah mempengaruhi pembelajaran dan perkembangan dimasa kanak-kanak. Komputer menawarkan keuntungan pembelajaran interaktif dan koordinasi mata –tangan Beberapa kretivitas seperti “cybersex” dan “kiddie porn” serta “chat room”, dapat memanjakan anak pada individu yang berupaya mendapatkan keuntungan dari kepolosan anak untuk mencapai tujuan. Salah satu strategi yang bermanfaat menempatkan computer diruang prublik dirumah seperti dapur atau ruang keluarga agar orang tua dapat dengan mudah memantau penggunaannya. 


E.     Kebutuhan Dasar Tumbuh Kembang Anak

Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan hasil interaksi anatara factor genetic- herediter-konstitusi dengan factor lingkungan, baik lingkungan prenatal maupun lingkungan postnatal. Factor lingkungan ini yang akan memberikan segala macam kebutuhan yang merupakan kebutuhan dasar yang yang diperlukan oleh anak untuk tumbuh kembangnya.

Perkembangan yang optimal sangat dipengaruhi oleh peranan lingkungan dan interaksi antara anak dan orang tua / orang dewasa lainnya. Interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan, bahkan sejak bayi dalam kandungan.

Kebutuhan dasar seorang anak adalah :

o   ASUH ( kebutuhan biomedis)

Menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan  sesudahnya, kebutuhan akan tempat tinggal, pakaian yang layak dan aman , perawatan kesehatan dini berupa imunisasi dan deteksi dan intervensi dini akan timbulnya gejala penyakit.

 

o   ASIH ( kebutuhan emosianal)

Penting menimbulkan rasa aman (emotional security) dengan kontak fisik dan psikis sedini mungkin dengan ibu. Kebutuhan anak akan kasih sayang, diperhatikan dan dihargai, ,pengalaman baru, , pujian, tanggung jawab untuk kemandirian sangatlah penting untuk diberikan. Tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan , tetapi lebih banyak  memberikan contoh – contoh   penuh kasih sayang adalah salah satunya.

 

o   ASAH ( kebutuhan akan stimulasi mental dini)

Cikal bakal proses pembelajaran , pendidikan , dan pelatihan yang diberikan sedini  dan sesuai mungkin. Terutama pada usia 4 – 5 tahun pertama ( golden year) sehingga akan terwujud etika, kepribadian yang mantap, arif, dengan kecerdasan, kemandirian ,ketrampilan dan produktivitas yang baik.

 

 

 

2.2  BERMAIN
A.    Peran  Bermain Dalam Perkembangan
Bermain adalah pekerjaan anak. Dalam bermain anak mempraktekkan secara kontinu proses hidup yang rumit dan penuh stress, komunikasi, dan mencapai hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Di situlah mereka belajar tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka, misalnya bagaimana menghadapi lingkungan objek, waktu, ruang, struktur, dan dan orang di dalamnya.

B.     Klasifikasi Permainan
Berdasarkan isinya
1.      Bermain afektif sosial (social affective play).
Permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapat kesenangan dan kepuasan dari hubungan yang menyenangkan dengan orangtua atau orang lain. Permainan yang biasa dilakukan adalah ”cilukba”, berbicara sambil tersenyum/tertawa atau sekedar memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya tetapi dengan diiringi berbicara sambil tersenyum dan tertawa.

2.      Bermain untuk senang-senang (sense of pleasure play)
Permainan ini menggunakan alat yang bisa menimbulkan rasa senang pada anak dan biasanya mengasyikkan. Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan membuat gunung-gunung atau benda-benda apa saja yang dapat dibentuk dengan pasir. Bisa juga dengan menggunakan air anak akan melakukan bermacam-macam permainan seperti memindahkan air ke botol, bak atau tempat lain.

3.      Permainan ketrampilan (skill play)
Permainan ini akan menimbulkan keterampilan anak, khususnya motorik kasar dan halus. Misalnya, bayi akan terampil akan memegang benda-benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain dan anak akan terampil naik sepeda. Jadi keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan kegiatan permainan yang dilakukan.

4.      Permainan simbolik atau pura-pura (dramatic play role)
Permainan anak ini yang memainkan peran orang lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa. Misalnya, ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya yang sebagai yang ia ingin ditiru. Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi percakapan di antara mereka tentang peran orang yang mereka tiru. Permainan ini penting untuk memproses/mengidentifikasi anak terhadap peran tertentu.

5.      Permainan (Games)
Yaitu jenis permainan dengan alat tertentu yang menggunakan perhitungan atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri atau dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini yang dimulai dari sifat tradisional maupun moderen seperti ular tangga, congklak, puzzle dan lain-lain.

6.      Permainan yang hanya memperhatikan saja (unoccupied behaviour)
Pada saat tertentu, anak sering terlibat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja atau apa saja yang ada di sekelilingnya. Anak melamun, sibuk dengan bajunya atau benda lain. Jadi sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan tertentu dan situasi atau objek yang ada di sekelilingnya yang digunakan sebagai alat permainan. Anak memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang menarik perhatiannya. Peran ini berbeda dibandingkan dengan onlooker, dimana anak aktif mengamati aktivitas anak lain.

Berdasarkan karakteristik sosial
a.       Permainan pengamat
Anak memperhatikan aktifitas dan interaksi anak lain dengan minat aktif tanpa terlibat dan berpartisipasi.

b.      Permainan tunggal
Anak bermain sendiri dengan mainan yang berbeda dengan anak yang lain ditempat yang sama. Mereka asik sendiri tanpa berniat mendekati atau berbicara dengan anak yang lain.

c.       Permainan parallel
Anak bermain secara mandiri diantara anak-anak lain dengan mainan yang sama. Mereka tampak kompak, tetapi tidak saling mempengaruhi, tidak ada assosiasi kelompok, dan tidak bermain bersama

d.      Permianan assosiatif
Anak bermain bersama,  mengerjakan aktifitas serupa dan sama, tetapi tidak ada organisasi, pembagian kerja, penetapan pemimpin, atau tujuan bersama. Anak meminjam dan meminjami material permainan, saling mengikuti dengan mengendarai wangon, dan sepeda roda tiga. Kadang mengontrol siapa yang boleh bergabung dan siapa yang tidak boleh bergabung dalam kelompok itu.

e.       Permainan cooperative
Anak bermain secara berkelompok, mendiskusikan dan merencanakan  aktifitas untuk pencapaian akhir. Terdapat rasa saling memiliki dan tidak memiliki yang nyata. Tujuan dan pencapaiannya memerlukan pengorganisaian aktifitas, pembagian kerja dan peran bermian.


C.    Fungsi bermain bagi anak :
1.      Perkembangan sensori motorik,
Pada saat melakukan permainan aktivitas sensoris-motoris merupakan komponen terbesar yang digunakan anak sehingga kemampuan penginderaan anak dimulai meningkat dengan adanya stimulasi-stimulasi yang diterima anak seperti: stimulasi visual, stimulasi pendengaran, stimulasi taktil (sentuhan) dan stimulasi kinetik.

2.      Perkembangan Intelektual (Kognitif)
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan memanipulasi segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek.

3.      Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari hubungan tersebut.

4.      Perkembangan Kreativitas
Dimana melalui kegiatan bermain anak akan belajar mengembangkan kemampuannya dan mencoba merealisasikan ide-idenya.

5.      Perkembangan Kesadaran diri
Melalui bermain anak akan mengembangkan kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain.

6.      Perkembangan Moral
Anak mempelajari nilai yang benar dan salah dari lingkungan, terutama dari orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapat kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya.

7.      Bermain sebagai Terapi
Pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti : marah, takut, cemas, sedih dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stresor yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stres yang dialaminya karena dengan melakukan permainan, anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi).

Fungsi Bermain di rumah sakit :
1.      Memfasilitasi situasi yang tidak familiar,
2.      Memberi kesempatan untuk membuat keputusan dan kontrol,
3.      Membantu untuk mengurangi stres terhadap perpisahan,
4.      Memberi kesempatan untuk mempelajari tentang fungsi dan bagian tubuh, Memperbaiki konsep-konsep yang salah tentang penggunaan dan tujuan peralatan dan prosedur medis,
5.      Memberi peralihan dan relaksasi,
6.      Membantu anak untuk merasa aman dalam lingkungan yang asing,
7.      Memberikan cara untuk mengurangi tekanan dan untuk mengekspresikan perasaan,
8.      Menganjurkan untuk berinteraksi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif terhadap orang lain,
9.      Memberikan cara untuk mengekspresikan ide kreatif dan minat,
10.  Memberi cara mencapai tujuan-tujuan terapeutik (Wong ,1996).


D.    Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain
1.      Tahap perkembangan anak
Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak yaitu harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak, karena pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak.

2.      Status kesehatan anak
Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energi bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat anak sedang sakit.

3.      Jenis kelamin anak, Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau anak perempuan Akan tetapi, permainan adalah salah satu alat untuk membantu anak mengenal identitas diri.

4.      Lingkungan yang mendukung
Dapat menstimulasi imajinasi anak dan kreativitas anak dalam bermain.

5.      Alat dan jenis permainan yang cocok
Harus sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak.

6.      Intelegensia dan status social ekonomi.


E.     Manfaat Teraupetik Bermain
Bermain memberikan sarana untuk melepaskan diri dari ketegangan  dan stress yang  dihadapi di lingkungannya. Melalui bermain anak dapat mengkomunikasakan kebutuhan, rasa takut, dan keinginan mereka  kepada pengamat yang tidak dapat  ekspresikan  karena keterbatasan keterampilan bahasa mereka.

Bermain dan alat-alat permainan memiliki fungsi terapeutik. Proses belajar anak justru sebaiknya dilakukan melalui metode bermain dan dengan alat-alat permainan. Namun hal ini hendaknya tidak disalah artikan dengan istilah "main-main". Proses belajar dapat merupakan proses yang sangat membosankan untuk dikerjakan oleh anak-anak, sedangkan anak-anak biasanya lebih tertarik dengan permainan. Karena, proses bermain dan alat-alat permainan merupakan perangkat komunikasi bagi anak-anak. Melalui bermain anak-anak belajar berkomunikasi dengan lingkungan hidupnya, lingkungan sosialnya serta dengan dirinya sendiri. Melalui bermain anak-anak belajar mengerti dan memahami lingkungan alam dan sekitarnya. Melalui bermain anak-anak belajar mengerti dan memahami interaksi sosial dengan orang-orang di sekelilingnya. Melalui bermain anak-anak mengembangkan fantasi, daya imajinasi dan kreativitasnya.

Bermain merupakan proses dinamis yang sesungguhnya tidak menghambat anak dalam proses belajar, sebaliknya justru menunjang proses belajar anak. Keberatan orang tua terhadap aktivitas bermain anak justru menghambat kemampuan kreativitas anak untuk mengenal dirinya sendiri sendiri serta lingkungan hidupnya. Hanya saja, proses bermain anak perlu diarahkan sesuai dengan kebutuhannya. Anak-anak yang cenderung menyendiri sebaiknya tidak dibiarakan untuk terlalu sibuk dengan "solitary play". Sebaliknya mereka sebaiknya diarahkan untuk lebih aktif dalam permainan kelompok (social game). Mereka yang kurang mampu untuk berkonsentrasi dapat diberikan berbagai jenis permainan yang lebih terarah pada pemusatan perhatian seperti mengkonstruksi suatu benda tertentu. Anak-anak yang kurang mampu untuk mengekspressikan diri secara verbal dapat dibina untuk mengembangkan bakat kreatifnya melalui media misalnya menggambar. Namun pendidik juga selayaknya membimbing anak dalam mengekspressikan imajinasi serta fantasinya ke dalam bentuk gambaran yang konkrit dan tidak membiarkan anak-anak berfantasi tanpa arah yang jelas; karena hal ini dapat mengakibatkan konfabulasi dalam proses berpikir anak.

Kemampuan mengingat anak adakalanya terbatas karena perhatian anak yang kurang terhadap hal-hal tertentu. Kondisi seperti ini dapat diperbaiki dengan menggunakan pola assosiatif misalnya dengan menggunakan warna-warna tertentu pada hal-hal tertentu sehingga anak dapat dengan mudah mengingat hal tersebut jika ia mengenal warnanya. Bentuk-bentuk tertentu dari yang mulai sederhana sampai yang lebih kompleks juga dapat diberikan pada anak untuk mengingat hal-hal tertentu. Misalnya mengingat bentuk huruf R dengan menyertai gambar Rumah.

Demikian banyak hal yang dapat dikembangkan melalui proses bermain bagi kesejahteraan pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua hendaknya tidak bersikap anti-pati terhadap proses bermain, karena dalam proses bermain anak terkandung proses belajar, dan dalam proses belajar anak terkandung unsur terapeutik bagi anak agar lebih tangguh dalam menghadapi lingkungan hidup mereka di kalangan masyarakat luas, kelompok sebayanya maupun lingkungan hidupnya secara umum.


F.     Tahapan Bermain
1.      Tahap eksplorasi
Merupkan tahapan menggali dengan melihat cara bermain

2.      Tahap permainan
Setelah tahu cara bermain,anak mulai masuk dalam tahap perminan.

3.      Tahap bermain sungguhan
Anak sudah ikut dalam perminan.

4.      Tahap melamun
Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan berikutnya.


G.    Karakteristik Bermain Sesuai Tahap Perkembangan
1.      Satu bulan
a)      Visual : lihat dengan jarak dekat gantungkan benda yang terang dan menyolok
b)      Auditori : bicara dengan bayi, menyanyi, musik, radio, detik jam
c)      Taktil : memeluk, menggendong, memberi kesenangan
d)     Kinetik : mengayun, naik kereta dorong

2.      Dua-tiga bulan
a)      Visual : buat ruangan menjadi tenang, gambar,cermin ditembok bawa bayi ke ruangan lain letakkan bayi agar dapat memandang disekitar
b)      Auditori : bicara dengan bayi, beri mainan bunyi, ikut sertakan dalam pertemuan keluarga.
c)      Taktil : memandikan , mengganti popok, menyisir rambut dengan lembut, gosok dengan lotion/bedak
d)     Kinetik : jalan dengan kereta, gerakan berenang, bermain air

3.      Empat-enam bulan
a)      Visual : bermain cermin,anak nonton tv beri mainan dengan warna terang
b)      Auditori : anak bicara, ulangi suara yang dibuat, panggil nama, remas kertas didekat telinga,pegang mainan bunyi.
c)      Taktil : beri mainan lembut/kasar, mandi cemplung/cebur
d)     Kinetik : bantu tengkurap, sokong waktu duduk

4.      Enam-sembilan bulan
a)      Visual : mainan berwarna, bermain depan cermin,”ciluk ….ba”. Beri kertas untuk dirobek-robek.
b)      Auditori : panggil nama “mama …papa,dapat menyebutkan bagian tubuh,
beri tahu yang anda lakukan,ajarkan tepuk tangan dan beri perintah sederhana.
c)      Taktil : meraba bahan bermacam-macam tekstur, ukuran, main air mengalir
berenang
d)     Kinetik : letakkan mainan agak jauh lalu suruh untuk mengambilnya.

5.      Sembilan-dua belas bulan
a)      Visual : perlihatkan gambar dalam buku. ajak pergi ke berbagai tempat bermain bola, tunjukkan bangunan agak jauh.
b)      Auditori : tunjukkan bagian tubuh dan sebutkan,
kenalkan dengan suara binatang
c)      Taktil : beri makanan yang dapat dipegangkenalkan dingin, panas dan hangat.
d)     Kinetik : beri mainan
e)      Mainan yang dianjurkan untuk bayi 6-12 bulan:
o   blockies warna-warni jumlah, ukuran.
o   buku dengan gambar menarik
o   balon,cangkir dan sendok
o   boneka bayi
o   mainan yang dapat didorong dan ditarik

6.      Todler ( 2-3 tahun )
a)      Mulai berjalan, memanjat, lari
b)      Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya
c)      Senang melempar, mendorong, mengambil sesuatu
d)     Perhatiannya singkat
e)      Mulai mengerti memiliki “ ini milikku ….”
f)       Karakteristik bermain “paralel play”
g)      Toddler selalu brtengkar saling memperebutkan mainan/sesuatu
h)      Senang musik/irama
i)        Mainan untuk toddler
o   Mainan yang dapat ditarik dan didorong
o   Alat masak
o   Malam,lilin
o   Boneka, blockies, telepon, gambar dalam buku, bola, dram yang dapat dipukul,
o   Krayon,kertas.

7.      Pre-school
a)      Cross motor and fine motors
b)      Dapat melompat,bermain dan bersepeda.
c)      Sangat energik dan imaginative
d)     Mulai terbentuk perkembangan moral
e)      Mulai bermain dengan jenis kelamin dan bermain dengan kelompok
f)       Karakteristik bermain
g)      Assosiative play
h)      Dramatic play
i)        Skill play
j)        Laki-laki aktif bermain di luar
k)      Perempuan didalam rumah
l)        Mainan untuk pre-school
o   Peralatan rumah tangga
o   Sepeda roda tiga
o   Papan tulis/kapur
o   Lilin,boneka,kertas
o   Drum,buku dengan kata simple,kapal terbang,mobil,truk

8.      Usia sekolah
a)      Bermain dengan kelompok dan sama dengan jenis kelamin
b)      Dapat belajar dengan aturan kelompok
c)      Belajar independent, cooperative, bersaing, menerima orang lain.
d)     Karakteristik “cooperative play”
e)      Laki-laki : mechanical
f)       Perempuan : mother role
g)      Mainan untuk usia sekolah

9.      6-8 tahun
Kartu, boneka, robot, buku, alat olah raga, alat untuk melukis, mencatat, sepeda.

10.  8-12 tahun
Buku, mengumpulkan perangko, uang logam, pekerjaan tangan, kartu, olah raga bersama, sepeda, sepatu roda.


H.    Bermain Dirumah Sakit
1.      Tujuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!