Jumat, 18 November 2011

INFEKSI KULIT


BAB II
PEMBAHASAN
INFEKSI KULIT

A.   


  Infeksi kulit karena virus
Virus Penyebab Infeksi Kulit
Ada beberapa virus yang menyerang tubuh manusia melalui kulit. Mereka tidak hanya masuk melalui injeksi maupun gigitan, tetapi juga oleh trauma kecil (mild trauma) sekalipun.

·         Mild Trauma ( Trauma Kecil )
Virus yang menyerang pada keadaan kulit yang mengalaminya dapat berupa papillomavirus, herpesvirus, dan poxvirus. Tanda-tanda perubahan secara terlokalisir dari golongan herpesvirus dapat diakibatkan , terutama, oleh herpes simplex virus, sedangkan pada golongan poxvirus, molluscum contagiosum virus berperan untuk memberi gejala terlokalisir pada kulit. Untuk golongan retrovirus, HIV lebih sering menyebabkan infeksi secara umum maupun spesifik pada organ tertentu.

·         Injeksi
Selain HIV, Hepadnavirus dapat menyebabkan hepatitis B, sedangkan flavivirus dapat menyebabkan hepatitis C. Gigitan Flavivirus tidak hanya menyebabkan hepatitis C, tetapi juga dapat menjadi virus dengue dan juga menyebabkan demam kuning. Rhabdovirus diketahui menyebabkan rabies. 

*Rhabdovirus dan Rabies (Info tambahan nih, skalian ngulang dikit neuroscience)
Rabies merupakan infeksi akut yang menyerang SSP dan selalu berakibat fatal. Strukturnya tampak seperti peluru atau batang dengan duri menonjol keluar pada membrannya. Duri ini disebut peplomer yang terdiri dari trimer dari glikoprotein virus. Genomenya bersifat RNA single-stranded.

Virusnya bereplikasi di otot atau jaringan ikat di daerah tempat terokulasinya sebelum masuk pada saraf perifer pada hubungan neuromuscular dan menyebar ke SSP. Hanya saja, sebenarnya virus ini juga bisa langsung menuju SSP tanpa replikasi terlebih dahulu di daerah gigitan. Barulah terbentuk encephalitis. Virus ini kemudian menyebar ke jaringan lain. 

Ada pun beberapa penyakit sistemik dengan manifestasi pada kulit, seperti campak, rubella, fifth disease, roseola, varicella zoster, dan beberapa demam yang disertai perdarahan seperti dengue, Hantoan virus, dan chikungunya

Manifestasi Pada Kulit
1.      Campak atau rubeola
Campak merupakan penyakit yang akut dan menular yang bercirikan dengan adaya demam, gangguan pernapasan, dan bintik maculopapular. Untungnya, penyakit ini dapat dicegah dengan vaksin serta pemberian vitamin A. Respons imun yang penting pun berupa imunitas seluler.

Secara alami, manusia merupakan pejamu alami satu-satunya bagi virus ini meskipun beberapa spesies dapat terinfeksi pada eksperimen. Virus ini masuk melalui traktus respiratorius. Di sana, ia bermultiplikasi sebelum menyebar ke jaringan limfoid di dekatnya untuk multiplikasi lebih lanjut. Nantinya, virus akan bereplikasi pula di sistem retikuloendotelial sehingga viremia (virus dalam darah) sekunder dapat menempati permukaan epitel tubuh, termasuk kulit. Virus ini juga dapat bereplikasi di limfosit tertentu sehingga dapat tersebar ke seluruh tubuh. 

Masa inkubasinya terjadi selama 7-8 hari, tetapi dapat mencapai 3 minggu pada orang dewasa. Sesudah itu, masa sakitnya dapat mencapai 7-11 hari dengan fase prodromal (fase mulainya penyakit dengan menunjukkan gejala) selama 2-3 hari pertama dan fase erupsi selama 5-8 hari. 

Gejala klinis yang muncul berupa demam, bersin, batuk, pilek, mata merah, limfopenia, dan adanya Koplik’s spot (tanda khusus adanya campak berupa ilserasi kecil berwarna putih kebiruan pada buccal mucosa yang terletak di seberang gigi geraham bawah.

2.      Rubella
Rubella ato campak Jerman merupakan penyakit febrile yang akut disertai bintik merah dan limfadenopati. Ia menginfeksi pada anak-anak dan orang dewasa muda. Penyakit ini tergolong berbahaya pada ibu hamil karena dapat menyebabkan kelainan congenital.

Patogenesis pada anak dan dewasa dimulai dari mukosa pada traktus respiratorius atas lalu dilanjutkan dengan multiplikasi pada limfa nodus di leher. Viremia muncul sesudah 7-9 hari dan menetap hingga antibodinya terbentuk pada hari ke-13 hingga ke-15. Antibodi ini terbentuk bersamaan dengan adanya bintik merah pada kulit. Sesudah itu, virus masih dapat terdeteksi di nasofaring.

Gejala klinisnya tampak dengan adanya rasa sakit (ga enak badan) yang tidak berkepanjangan. Demam derajat rendah dan bintik khas pada campak juga terlihat. Bintik ini dimulai dari muka dan berlanjut ke badan tubuh hingga ke ekstremitas selama tidak lebih dari 3 hari. Memang diagnosanya agak sulit karena bintik pada enterovirus juga sangat mirip dengannya.

Tidak ada penanganan spesifik untuk rubella. Ia hanya dapat dicegah dengan vaksin. Immune globulin intravenous (IGIV) yang diinjeksikan pada ibu hamil tidak melindungi fetus darinya.

3.      Dengue Fever
Dengue disebabkan oleh infeksi oleh nyamuk yang membawa flavivirus yang menyebabkan demam, sakit kepala hebat, nyeri otot dan sendi, nausea (mual), muntah, nyeri pada mata, dan bintik kemerahan.
Gejala klinisnya akan terlihat pada hari ke 4-7 (rentang waktunya 3-14 hari) sesudah infeksi tergigit nyamuk. Demamnya dapat muncul mendadak atau diawali dengan rasa tidak enak badan, kedinginan, dan sakit kepala. Suhu tubuh akan kembali normal sesudah 5-6 hari atau berkurang pada hari ke-3 dan naik kembali pada hari ke 5-8 sesudah onsetnya. Bintik kemerahannya muncul pada hari ke-3 hingga ke-4 dan tetap ada selama 1-5 hari.

B.      Infeksi kulit karena jamur
Ketiga, jamur akan beraksi karena environment (lingkungan), misalnya, kulit lembab atau keringat. Nah, agar terhindar dari infeksi jamur, ya, jelas kita harus menghindari faktor-faktor penyebabnya. Tak kalah penting menerapkan hidup sehat dan bersih. Beberapa jamur yang biasa menyerang anak, di antaranya:


1.      Dermatofitosis
Penyebabnya, dermatofita, yang menyerang dan memakan zat tanduk (keratin) kulit, seperti lipatan-lipatan pada kulit, kuku, rambut, kaki, dan kulit kepala. Jamur Dermatofitosis mempunyai tiga "saudara"; Trichophyton, Microsporum , dan Epidermophyton dengan pola penyerangan sama. Anak dikatakan terinfeksi jamur Dermatofitosis bila menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:

* Pada kepala ditemukan pitak-pitak kecil dalam jumlah banyak, pitak berukuran besar dan berkoreng yang dibarengi pembengkakan pada tempat yang terinfeksi dan bernanah. "Anak bisa terserang penyakit ini, karena terlalu lama mengkonsumsi antibiotik atau bisa juga karena rambut dan kulit kepala si anak jarang dibersihkan."

* Pada lipatan paha, badan dan kaki ditemukan bercak-bercak merah dengan rasa gatal dan perih. * Ditemukan kuku yang berlipat (mengkerut/rusak) atau patah, tanpa keluhan rasa sakit apapun. * Biasanya rambut mengalami kerontokan. Infeksi pada rambut terjadi seiring dengan infeksi kepala.

2.      Malassezia furfur
Atau Pityrosporum Orbiculare/Ovale adalah jamur yang bisa menimbulkan panu pada kulit anak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak terjangkit jamur ini, di antaranya karena suhu udara, kelembaban dan kulit yang selalu tertutup. Gejalanya, anak akan merasa gatal-gatal dan tampak bercak-bercak putih, coklat, merah, dan hitam. Selain panu, jamur ini bisa menyebabkan kulit bersisik. Untuk mendeteksinya cukup dilihat dengan mata telanjang. "Bila belum yakin, raba dengan telapak tangan, akan terasa kasar." Pengobatan dilakukan dengan diolesi salep khusus. Tapi, hati-hati kendati sudah sembuh jamur ini kerap datang lagi. Karena itu, untuk pencegahan, jagalah kebersihan kulit anak.

3.      Candida albicans
Tergolong jamur pembelot, karena merupakan bagian dari bakteri flora normal yang seharusnya melindungi kulit dari serangan infeksi jamur yang merugikan. Candida albicans biasa terdapat pada saluran cerna, kulit, dan selaput lendir (mulut dan vagina).
Penyebabnya, antara lain faktor usia (bayi lebih mudah terjangkit dibandingkan anak yang lebih besar), kurang gizi, antibiotik (terlalu lama mengkonsumsi), prematuritas (bayi lahir prematur). Pada sekitar 0,5-20 persen bayi berumur dua minggu, jamur ini telah tumbuh berlebihan sehingga menyebabkan infeksi pada rongga mulut (oral thrush) . Bahkan, kemungkinan terjangkit oral thrush lebih besar lagi bila bayi lahir dari ibu yang mengidap infeksi Candida albicans dalam vagina (kandidosis vaginalis).

Untuk mendeteksinya, lihatlah bagian dalam mulut bayi. "Bila terdapat bercak-bercak selaput warna putih sampai abu-abu dan saat kita melepas selaput tersebut tampak dasar berwarna merah terang." Pada kasus ringan, yang terkena lidah dan bagian dalam pipi. Dalam keadaan parah dapat mengenai seluruh rongga mulut. Pengobatannya cukup diolesi obat-obatan anti jamur. Misal, larutan Gentian violet, Nistatin atau Miconazole.

Bila dengan obat-obatan tersebut tak kunjung sembuh, segera bawa ke dokter. Infeksi Candida albicans bisa juga disebabkan ruam popok; timbul radang di daerah yang tertutup popok, seperti alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Ruam popok sering terjadi pada anak usia 9-12 bulan.

Ruam popok kerap terjadi karena kelalaian orang tua, semisal, tidak segera mengganti popoknya yang basah akibat urin atau tinja. "Nah, bila bayi sudah terjangkit ruam popok lebih dari tiga hari, maka biasanya akan langsung terjangkit infeksi Candida albicans." Gejalanya berupa tanda merah dan basah pada kulit yang tertutup popok.

"Bayi rewel karena nyeri, terutama setelah buang air besar atau kecil." Pengobatannya dilakukan dengan mengoleskan salep anti jamur yang mengandung Miconazole. Pada taraf ringan bisa diatasi dengan selalu mengganti popok bila bayi sudah buang air besar/kecil. Selain itu, jangan kenakan popok berbahan plastik atau popok ketat.

C.      Infeksi kulit karena bakteri
1.      Selulitis
Selulitis adalah penyebaran infeksi pada kulit yang meluas hingga jaringan subkutan. Penyebab umumnya streptokokus hemolitikus b grup A (group A b -haemolytic streptococci = GABHS) dan Stafilokokus aureus. Faktor predisposisi mencakup abrasi/kerusakan kulit, laserasi (robekan), luka baker, kulit yang meradang/ eksim, dsb, meskipun jalur masuk kuman tersebut mungkin saja tidak tampak jelas.

Reaksi alergi/ dermatitis kontak (misalkan gigitan serangga, imunisasi, tumbuh-tumbuhan, dsb) sering kali salah diagnosis sebagai selulitis. Jika terdapat gatal, dan tidak ada nyeri tekan, bukanlah suatu selulitis.
Erisipelas merupakan bentuk superfisial yang spesifik dari selulitis yang disebabkan oleh GAHBS. Pada selulitis biasanya juga disertai dengan keterlibatan kelenjar getah bening.

Impetigo (sering disebut juga korengan) merupakan infeksi di epidermis yang sangat menular, umumnya terjadi pada anak kecil. Disebabkan oleh  GABHS dan S. aureus.
  • Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS) adalah kelainan kulit berupa lepuhan yang disebabkan racun S. aureus yang menimbulkan pengelupasan atau eksfoliatif (epidermolisis). Umumnya menyerang neonatus/bayi baru lahir dan anak kecil.
  • Necrotising fasciitis  adalah infeksi progresif cepat pada jaringan lunak yang ditandai dengan kematian jaringan subkutan. Penyebab umumnya berbagai macam kuman (polimikrobial). Organisme penyebab mencakup GABHS, S. aureus, bakteri anaerob, dsb. Kondisi ini dapat menyebabkan penyakit yang berat dengan laju kematian yang tinggi (± 25%).
  • Pertimbangkan infeksi herpetik, bila terdapat vesikel (gelembung-gelembung), dan kirirmkan spesimen yang cocok untuk dilakukan imunofluorosensi dan kultur virus.
Penilaian
Gambaran tipikal dari infeksi kulit mencakup kemerahan jaringan lunak, rasa hangat dan pembengkakan, namun ada beberapa gambaran yang berbeda pula (lihat table dan foto di bawah). Sangat sulit untuk membedakan infeksi yang disebabkan oleh GABHS dan S. aureus hanya berdasarkan penilaian klinis saja.

Pemeriksaan
  • Usap untuk pewarnaan Gram dan kultur bila terdapat cairan
  • Pemeriksaan Darah Lengkap dan kultur darah bila terdapat gejala sistemik
  • Pemeriksaan laju endap darah (LED), rongtent ±  bone scan bila terdapat kecurigaan osteomyelitis
  • Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) jika terdapat fluktuasi
Terapi
·         Sellulitis
Flucloxacillin 25 mg/kg (max 500mg) po/ 6jam untuk  7 hari
Jika berat atau meluas, kondisi sistemik tidak baik, atau tidak responsif dengan pengobatan oral flucloxacillin 50 mg/kg (max 2g) iv/6jam (pertimbangkan penambahan klindamisin untuk menghambat produksi toksin). Untuk selluitis wajah/periorbital: pertimbangan untuk menambahkan Sefotakasim jika usia < 5 tahun  dan anak yang tidak mendapatkan imunisasi Hib, atau tidak bereaksi dengan pemberian flucloxacillin saja.

·         Impetigo
(tanpa komlikasi dan terlokalisir): angkat keropeng – salep mupirocin 2% / 8 jam
Jika lesi luas atau banyak dan tidak meresepon dengan pemberian pengobatan topikal: obati seperti selulitis. Impetigo sangat menular  -  anak yang mengalami impetigo harus dipisahkan dari anak lain hingga lukanya mongering.

·         SSSS (Staphylococcal scalded skin syndrome )
Diterapi sebagai Necrotising fasciitis
  • Flucloxacillin 50 mg/kg (max 2g) iv/6jam PLUS
  • Clindamycin 10 mg/kg (max 600 mg) iv/6 jam
  • Pertimbangan untuk rujuk ke dokter bedah
2.      Infeksi Streptokokus
Infeksi Streptokokus adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif Streptococcus.
PENYEBAB
Bakteri gram positif streptokokus. Bakteri streptokokus penyebab penyakit pada manusia dikelompokkan menjadi 4 grup:
1. Streptokokus grup A : paling mematikan meskipun manusia adalah tuan rumah alaminya. Streptokokus ini bisa menyebabkan infeksi tenggorokan, tonsilitis (infeksi amandel), infeksi kulit, septikemia (infeksi dalam darah), demam Scarlet, pneumonia, demam rematik, korea Sydenham (kelainan saraf yang ditandai oleh kekakuan otot/St. Vitu's dance) dan peradangan ginjal (glomerulonefritis).
2. Streptokokus grup B : lebih sering menyebabkan infeksi yang berbahaya pada bayi baru lahir (sepsis neonatorum), infeksi pada sendi (artritis septik) dan pada jantung (endokarditis).
3. Streptokokus grup C dan G : sering terdapat pada binatang, tetapi bisa juga hidup di dalam tubuh manusia, yaitu di tenggorokan, usus, vagina dan kulit. Streptokokus ini bisa menyebabkan infeksi yang berat seperti infeksi tenggorokan, pneumonia, infeksi kulit, sepsis post-partum (setelah melahirkan) dan sepsis neonatorum, endokarditis dan artritis septik. Setelah terinfeksi oleh bakteri ini bisa juga terjadi peradangan ginjal.
4. Streptokokus grup D dan enterokokus : dalam keadaan normal hidup di saluran pencernaan bagian bawah, vagina dan kulit. Bakteri ini juga dapat menyebabkan infeksi pada luka dan katup jantung, kandung kemih, perut dan darah. 

GEJALA
Infeksi streptokokus yang paling sering ditemukan adalah infeksi tenggorokan (Strep throat). Gejalanya muncul secara tiba-tiba, seperti nyeri tenggorokan, merasa tidak enak badan, demam, menggigil, nyeri kepala, mual, muntah dan denyut jantung yang meningkat. Tenggorokan tampak merah,
Amandel membengkak dan kelenjar getah bening di leher membesar. Anak-anak bisa mengalami kejang. Sedangkan pada anak berusia kurang dari 4 tahun, gejalanya hanya berupa Hidung meler.

Batuk, laringitis (peradangan laring) dan hidung tersumbat tidak biasa ditemukan pada infeksi streptokokus, gejala-gejala ini lebih mengarah kepada sebab lain seperti pilek atau alergi.
Demam Scarlet yang disebabkan toksin/racun bisa menimbulkan ruam kemerahan yang meluas. Ruam tampak jelas di daerah perut, dada dan lipatan kulit.

Gejala lain berupa daerah pucat di sekitar mulut, muka kemerahan, lidah kemerahan dan garis-garis merah gelap di lipatan kulit.
Setelah demam reda, lapisan luar dari kulit yang memerah sering mengelupas.
Streptokokus juga menyebabkan beberapa jenis infeksi kulit yang jarang menimbulkan abses. Infeksinya cenderung menyebar ke lapisan dalam di bawah kulit, menyebabkan selulitis dan kadang-kadang erupsi kulit kemerahan yang disebut erisipelas (St. Anthony's fire).
Streptokokus, dengan atau tanpa stafilokokus, juga bisa menyebar melalui lapisan atas kulit menimbulkan impetigo (erupsi krusta berkeropeng).
Jenis streptokokus tertentu bisa dengan cepat menyebabkan infeksi yang luas dan bersifat destruktif pada kulit (fasitis nekrotisasi).

PENGOBATAN
Penderita Strep throat dan demam Scarlet akan pulih tanpa pengobatan dalam waktu 2 minggu. Antibiotik dapat memperpendek lamanya gejala pada anak-anak dan mencegah komplikasi yang serius seperti demam rematik. Antibiotik juga membantu mencegah penyebaran infeksi ke telinga tengah, sinus dan tulang mastoid. Biasanya penisilin V per-oral harus segera diberikan pada saat gejala-gejala penyakit ini timbul.
Infeksi streptokokus lainnya seperi selulitis, fasitis nekrotisasi dan endokarditis, sangat serius dan memerlukan terapi penisilin intravena, kadang-kadang dikombinasi dengan antibiotik lainnya.
Streptokokus grup A biasanya bisa diatasi dengan penisilin.

Beberapa streptokokus grup D dan terutama enterokokus, resisten terhadap penisilin dan kebanyakan antibiotik; tidak ada pengobatan antibiotik andalan untuk enterokokus.
Gejala-gejala seperti demam, nyeri kepala dan nyeri tenggorokan dapat diobati dengan obat pereda nyeri (analgetik) dan penurun panas (antipiretik) seperti asetaminofen.
Penderita perlu menjalani tirah baring dan isolasi.

3.      Pioderma
Pada anak-anak faktor risiko timbulnya pioderma antara lain; yaitu higiene yang kurang, penurunan daya tahan tubuh (mengidap penyakit menahun, kurang gizi) atau adanya penyakit lain di kulit yang menyebabkan fungsi perlindungan kulit terganggu seperti: pada anak penderita dermatitis atopik, miliaria, bekas gigitan serangga. Pada anak-anak tersebut biasanya lebih mudah timbul rasa gatal dan sering menggaruk yang akan menyebabkan trauma atau jejas pada kulit sehingga menyebabkan bakteri lebih mudah masuk ke kulit yang luka tersebut sehingga bakteri tersebut berkembang biak dan menimbulkan infeksi kulit.

Berdasarkan lokasi dan tingkat keparahan penyakit pioderma terdiri dari beberapa jenis sebagai berikut:
1.Impetigo
A. Impetigo krustosa/kontagiosa (istilah awamnya, cacar madu).
Kelainan kulit berupa kemerahan kulit dan lepuh yang cepat memecah sehingga meninggalkan keropeng tebal warna kuning serupa madu. Bila keropeng dilepaskan, terlihat luka lecet di bawahnya. Predileksi terdapat disekitar mulut dan hidung. Sering didahului dengan batuk pilek, seperti yang menyerang putra ibu yang ketiga. Koloni bakteri penyebab impetigo terutama banyak terdapat pada hidung bagian anterior. Karena putra ibu menderita batuk pilek hidungnya terasa gatal dan sering digosok akan menyebabkan mikrolesi. Melalui mikrolesi tersebut bakteri ini akan masuk pada kulit yang mengalami jejas dan berkembang biak di situ sehingga menimbulkan infeksi. Penyakit ini mula-mula muncul disekitar hidung selanjutnya menyebar ke bagian wajah lain.

B. Impetigo bulosa/vesiko bulosa (cacar monyet atau cacar api)
Predileksi penyakit ini terutama di ketiak, dada, dan punggung. Kelainan kulit berupa kemerahan di kulit dan bula dan vesikel yang berisi air atau nanah (seperti kulit yang tersundut rokok sehingga dikenal dengan cacar api), berisi nanah yang mudah pecah. Cacar api sangat mudah menular dan berpindah dari satu bagian kulit ke bagian lain.
Pada impetigo yang banyak bisa diberikan kombinasi obat sistemik dan topikal, sesuai dengan tingkat keparahan penyakitnya.

2. Folikulitis
Infeksi ini mengenai folikel rambut. Kelainan kulit berupa papul eritem atau pustul yang berisi nanah pada kulit yang ditumbuhi rambut. Biasanya sering ditemukan pada tungkai bawah. Kelainan kulit ini dapat sembuh sendiri, atau bisa diberikan antibiotika topikal.

3.Furunkel
Adalah radang pada folikel yang meluas ke jaringan di sekitar folikel rambut. Kelainan kulit berupa benjolan kemerahan dengan mata di bagian tengah yang dapat melunak menjadi abses. Kelainan terutama terjadi di daerah yang sering mengalami gesekan dan banyak berkeringat seperti ketiak, bokong, leher, dada, dan paha, tungkai bawah. Putra ibu yang kedua kemungkinan besar menderita furunkel. Kondisi ini bisa dimulai akibat garukan pada bekas gigitan nyamuk, akibat tangan yang tidak bersih maupun kaki yang kotor, akibat selanjutnya timbul mikrolesi yang menyebabkan kuman masuk dan berkembang biak yang menimbulkan bisul. Infeksi kulit ini dapat diberikan antibiotik topikal, bila kondisi abses parah dan banyak perlu diberikan juga antibiotik sistemik

4.Erisipelas dan Selulitis.
Erispelas adalah infeksi pada kulit yang umumnya didahului oleh luka atau trauma, baik nyata maupun mikroskopis. Kelainan kulit berupa kulit kemerahan berbatas tegas, nyeri disertai gejala konsitusi berupa demam dan kelesuan. Erisipelas bisa berlanjut menjadi selulitis akibat radang meluas sampai ke jaringan di dermis bagian bawah. Kondisi ini seperti pada putra ibu yang pertama, mula-mula terjadi trauma akibat benturan yang menimbulkan mikrolesi, selanjutnya kuman masuk dan berkembang biak sampai pada lapisan kulit dermis bagian bawah, sehingga timbul bengkak kemerahan dan nyeri pada luka tersebut. Pada kasus seperti ini harus ada penanganan yang serius karena bila tidak tertangani dengan baik akan berakibat fatal karena infeksi sudah menyebar. Penderita harus beristirahat, kaki yang luka dielevasi pada posisi yang lebih tinggi, diberikan antibiotik sistemik dan analgesik serta obat antiradang yang adekuat.

pengelolaan infeksi kulit pada anak disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakitnya. Penyakit infeksi pada kulit bukan penyakit keturunan, melainkan penyakit yang didapat akibat kuman masuk kedalam kulit dan berkembang biak.
Pengelolaan yang terbaik adalah mencegah timbulnya infeksi, dengan perilaku hidup sehat yang dimulai sejak dini. Sebagaimana kita ketahui anak adalah makhluk yang spesifik dan bukan miniatur orang dewasa, mereka lebih rentan terhadap perubahan lingkungan dan infeksi, sehingga perlu tindakan pencegahan agar infeksi tersebut tidak terulang maupun menjadi lebih parah.

Hal ini dimulai dengan menjaga higiene individu, kebiasaan bermain, maupun menghilangkan kebiasaan menggaruk. Untuk perawatan di rumah sebaiknya ibu menggunakan sabun bayi, atau sabun ph balance, kuku tangan harus dipotong, biasakan cuci tangan dan kaki setelah bermain untuk menjaga higiene kulit, bila perlu berikan emolien pada kulit yang kering. Kondisi ini terutama pada anak dengan dermatitis atopik, mereka lebih rentan terkena infeksi dibanding dengan anak normal, karena kulit yang kering dan imunitas yang lebih rendah dibanding dengan bukan penderita atopik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis Komentnya Disini yaxc!!!!